The Triplets piravich's diary

1.1K 114 24
                                        

~One day Ketika Triplets Piravich 7 tahun ~

"Hayo, stormy duduk!, buka bukunya!". Kata mean tegas memegang bambu panjang yang diacungkan pada jagoan kecilnya nomer dua.

" *sobs* *sobs* Tidak mau! Tormy pokoknya tidak mau belajar! Tormy capek yah *sobs*, tormy mau tidur!!! ". Stormy menangis melawan perintah ayahnya. Dia meraung raung tidak mau belajar dan tidak mau sekolah.

"Oke! Sekarang cuci kaki dan cuci tangan, masuk ke kamar dan segera tidur!".

"Tapi ..... *sobs* tormy maunya tidur disini saja *sobs*". Yups mulai lagi dramanya.

"Tidak! Masuk kamar! Ini ruang bermain, kalau mau tidur harus dikamar!". Mean tidak mau mengalah.

"Gak......!!!!!". Stormy berteriak sejadi jadinya membuat plan yang sedang menyisir rambut panjang blizzard menghela napasnya panjang.

"Oh! Berani melawan omongan ayah?! Mari! Sini pantat stormy ayah pukul dengan bambu!". Mean menarik kaki stormy yang sudah berguling guling disofa lembut rumahnya.

"*sobs* ayah jahat!". Stormy masih tidak menyerah dan lari kehalaman rumahnya. "Pantat tormy sudah berdarah darah dipukul ayah kemarin! *sobs* masih mau dipukul lagi? *sobs* *sobs* tormy sudah kesakitan sampai mau mati rasanya! *sobs* *sobs*, ayah kalau masih mau pukul, pukul saja kaki tormy nih..... masih belum luka!!". Stormy yang tau dia tidak akan lolos dari pendisiplinan ayahnya hanya dengan menangis dan juga tidak akan dibela oleh plan, mencoba cara baru!

Yups, membuat tetangga sekitar rumahnya tau bahwa mean memukulnya, stormy berharap tetangganya akan menegur mean hingga akhirnya mean berhenti bersikap tegas padanya.

"Oh?!". Mean yang masih mengenakan setelan baju kerjanya bertolak pinggang menyaksikan drama stormy.  "Ayo lebih kencang lagi teriaknya! Takutnya tetangga yang sebelah sana tidak mendengar suara jelekmu dengan jelas". Kata mean dengan nada sepele membuat stormy terdiam dari tangisnya.

"Ayah akan dipenjara lho!". Ancam stormy sembari mengelap ingus dari hidungnya yang sudah merah.

"Tidak masalah, aku punya banyak uang! Aku bisa keluar kapan saja". Jelas mean mengambil kursi dan duduk santai didepan stormy.

"Ayah akan masuk berita! Jadi penjahat lalu papa akan pergi karena malu!".

"Kalau ayah penjahat, maka papamu raja penjahat! Apa mau ayah minta papa saja yang menghukummu stormy?". Ancam mean dengan senyum licik.

"Tidak mau! Tidak mau dihukum papa atau ayah! Tormy tidak mau belajar! Tidak mau !". Stormy mulai tantrum lagi dan berguling guling dihalaman rumah mewah mereka.

"Iya, berguling guling saja terus! Nanti kalau sudah digigit semut ayah bawa kau ke dokter dan ayah minta supaya dokternya menyuntik pantatmu dengan suntik sebesar bambu ini!".

"Ayah ini tormy perhatikan selalu jahat dengan tormy! Apa tormy anak pungut? Apa tormy anak papa dengan perth? Apa perth ayah kandung tormy? Kalau begitu tormy mau pergi saja cari ayah tormy!".

"Huh? Kenapa dia tau nama perth?". Mean tidak menjawab dan mengkerutkan dahinya heran.

*tin* *tin*.

Terdengar suara klakson mobil antar jemput milik gale didepan gerbang rumah meminta dibukakan gerbang.

"Gale!". Dengan baju berantakan dan ingus dimana mana, stormy berlari ke arah kakak sulungnya.

" 🤨 " . Gale yang baru keluar dari mobil jemputannya terlihat menatap stormy dengan jijik.

"Gale, jangan pulang! Ayah akan memukulimu juga. Lihat ini bajuku sudah kotor semua! Ayah melemparku jauh melewati gerbang tadi! Untung aku bisa memanjat lewat gerbang dan masuk lagi!". Stormy menceritakan kebohongan yang membuat mean hampir tertawa terbahak bahak.

Forever, Mine ( End )Where stories live. Discover now