~Triplets 10 tahun~
"Gale, papa berangkat dulu na...". Plan menciumi wajah gale dan mendadah kepadanya.
"Pa.......". Gale menggenggam tangan plan dan menatapnya penuh arti. "Hati hati ya.....". Sambung gale sembari menarik tangan plan membuatnya berjongkok didepan gale.
*kiss* *kiss*
Gale menciumi wajah papanya sebanyak 5 kali.
Didahi, dikedua pipinya, didagu, dan terakhir dibibirnya.
"Gale sayang papa". Ucap gale lagi membuat plan sejenak terdiam namun kembali tersenyum dan membalas menciumi wajah gale dengan cara yang sama.
"Papa juga. Papa sangat ciiiiiinnnnntttttaaaaaaaa...................!!!!!! Pada gale 😆". Ucap plan berlebihan. "Gale tidak perlu mengkhawatirkan apapun na? Gale hanya perlu bahagia dan melakukan semua yang gale suka".
"Hmn". Gale mengangguk paham dan memberi sedikit senyum pada plan.
"Ya sudah, masuk sana. Papa berangkat dulu na?".
"Bye pa, jangan lupa kabari gale jika sudah tiba dikantor".
"Siap little boss". Plan kemudian naik kemobilnya dan berangkat keluar dari pekarangan rumahnya.
"Tidak biasanya tuan muda gale seperti itu tuan. Apa terjadi sesuatu?". Tanya driver sekaligus asisten plan.
"Tidak ada. Anak anak hanya semakin dewasa saja. Tekhusus gale, dia semakin overprotective seperti ayah dan kakeknya".
"Oh...". Driver plan mengangguk paham.
Plan menatap pemandangan diluar melalui jendela mobil. Dia tersenyum lucu ketika memikirkan hal yang terjadi tiga hari lalu.
"Wish u luck mean.....". Plan tertawa lucu dalam pikirnya mengingat wajah stres mean.
*****************
~Flash back 3 hari lalu~
*Triplets piravich berada disekolah*
"Stormy, mamamu tidak datang ya?".
"Papa Gale yang mana?".
"Nanti aku dikenalkan dengan mama dan papa stormy ya?".
Gadis gadis kecil mulai mengelilingi sikembar ketika mereka tiba dikelasnya. Gale dan stormy memang populer disekolahnya.
Gale yang dikelilingi teman temannya hanya diam tidak menjawab pertanyaan teman teman perempuannya. Dia membuka buku pelajarannya, dan mulai membahas soal soal latihan disana.
Sadar mereka sedang diabaikan, para gadis gadis kecil itu mulai beralih kearah tempat duduk stormy dibagian belakang yang sudah dikelilingi teman laki lakinya.
"Stormy, apa mama dan papa mu siang ini datang ke acara kelas keluarga?". Tanya salah satu gadis berkuncir dua.
"Papa iya, tapi mama tidak. Aku tidak punya mama". Jawab stormy membuat semua teman temannya terdiam canggung.
"Oh? Jadi kau hanya punya papa saja?".
"Tidak. Ayah dan papa".
"Eh? Maksudnya mama mu sudah meninggal?".
Stormy terdiam mengkerutkan dahinya. Dia bingung cara menjelaskan keteman temannya bahwa papanya adalah mamanya.
"Ck ck ck!". Dari samping stormy, teman laki lakinya bernama france menggeleng gelengkan kepalanya. "Biar aku jelaskan pada kalian. Begini, papa stormy itu adalah mamanya". Jelasnya dengan singkat namun sungguh tidak membantu.
YOU ARE READING
Forever, Mine ( End )
FanficPlan yang konyol, dan mean yang serius. Lucu tapi ada sedihnya. "Sedikit random, dan hayal seperti yang menulis". 🤓🤣🤭 Anda bingung di vol 1, lanjut baca. Anda akan paham 😎 *Cerita ini berlanjut ke The Piravich triplet diary*
