17. Sama saja

15.9K 1.3K 127
                                        

Rangga sedang duduk menikmati kopi sambil menatap keluar jendela. Hujan masih enggan berhenti walau tidak selebat beberapa waktu lalu. Namun cukup menjadikan suhu udara
menjadi dingin.
Pria itu tersenyum saat melihat Cinta yang
baru bangun,"Sini Ta..." Rangga menepuk kursi
kosong di sebelahnya.
Cinta menurut lalu duduk di sebelah
Rangga, gadis itu mengangkat kedua kakinya ke
atas kursi dan mengusap tangan.
"Ini.." Rangga menyodorkan satu teko teh
dan cangkir kecil. Awalnya dia seduh untuk
dirinya sendiri karena bingung memilih antara kopi
atau teh. "Diminum dulu, masih anget." ucapnya
hangat.
Cinta menuangkan teh lalu meniup niup
permukaannya sebelum menyesap. Rasa hangat
yang dirasakan kulitnya saat menyentuh cangkir
teh membuatnya tersenyum. "Cinta mana mas?"
tanyanya saat tidak melihat Cinta kecil dimanapun.
"Di kamarku. Tadi habis minum susu tidur
lagi." jawab Rangga sambil melihat kearah
kamarnya.
Cinta mengangguk lalu mendesah kecewa,
"Padahal aku pengen bantu jagain Cinta, tapi malah
kebanyakan tidur gini." ujarnya menyesal.
Rangga meletakkan cangkir kopinya, "Gak
apa, aku malah repot kalau ada dua Cinta." ujar
Rangga bercanda yang dibalas tatapan sinis dari
Cinta.
"Hatjiiim..." tiba tiba Cinta bersin dan
membuat Rangga menoleh. Pria itu menangkup
wajah Cinta dengan kedua tangan. Kemudian ia
memindahkan satu tangannya ke kening Cinta,
merasakan suhu tubuh gadis tersebut.
Cinta tersenyum lalu menyentuh tangan
Rangga yang berada di pipinya. "Tenang, aku gak
apa. Kalau dingin gini emang suka bersin." ucapnya
sambil menghirup napas dari hidungnya yang
terasa tersumbat.
Tanpa banyak bicara, Rangga langsung
menarik kursi yang Cinta duduki semakin
mendekat hingga kedua kursi tersebut menempel
sempurna. Rangga menggeser untuk merapat, ia
lalu melebarkan tangan dan membungkus Cinta ke
pelukan, kedalam cardingan yang ia kenakan.
Menyadari batapa lucunya mereka terlihat.
Rangga dan Cinta tertawa, mereka seperti memiliki
satu tubuh besar dengan dua kepala.
Setelah puas tertawa, Cinta menyandarkan
kepala pada bahu Rangga. Seulas senyuman terukir
begitu saja dari bibirnya, ia merasa hangat
sekaligus aman saat merasakan bagaimana lengan
Rangga mampu merangkul seluruh tubuhnya
dengan mudah.
"Gimana? Udah hangat?" tanya Rangga. Kali
ini tangannya tidak hanya memeluk, tetapi sudah
mengusap usap punggung Cinta.
Cinta mengangkat wajahnya menatap
Rangga dan mengangguk. Tangannya yang juga
berkalung pada pinggang Rangga, kini berubah
menjadi pelukan erat.
"Tapi aku kenapa malah ngerasa panas ya?"
tanya Rangga dengan raut serius.
"Panas? Eh, maaf mas" sahut Cinta polos. Ia
merasa tidak enak karena terlalu menempel pada
Rangga, membuat Rangga tidak nyaman akan
tingkahnya yang terlalu manja.
Namun tiba tiba Cinta terpekik. Rangga
mengangkat tubuhnya ke atas pangkuan pria itu
tepat saat Cinta bergeser menjauh dan hendak
melepaskan diri.
"Mas Rangga...." protes Cinta saat Rangga
menahan dirinya yang ingin turun.
Seakan tuli, Rangga malah menyusupkan
tangannya ke dalam kaos yang Cinta kenakan.
Tangannya mulai mengusap usap disana.
"Mmas..Rangga." panggil Cinta tercekat.
Rangga tersenyum, "Yaa?" tanyanya.
"Aku..Aku haid..." ucapnya polos.
Alis Rangga terpaut, tidak mengerti dengan
informasi yang Cinta berikan, "Oke.. kamu haid?
Dan ?"
Cinta menundukkan wajah "Yya.. Aku
mens."
Rangga terdiam, alisnya terangkat. Lima
detik kemudian pria itu tertawa terbahak bahak.
"Emangnya kamu fikir aku mau ngapain?"
tanyanya lalu tertawa lagi.
Ditertawakan Ranga begitu membuat wajah
Cinta memerah. Siapa yang tidak akan berfikir
macam macam kalau diperlakukan begini?
Dipangku, dielus.. dan apa apaan tangan Rangga
yang sampai menyusup kebalik bajunya?
"Yaudah turunin." rajuknya kepalang malu.
Rangga semakin tertawa melihat Cinta yang
tersipu, ia lalu mencubit hidung Cinta dengan
gemas. "Kasih tadi telfon, katanya udah di jalan.
Mereka pulang lebih cepat." Rangga menghentikan
kalimat dan memandangi wajah Cinta yang terlihat
menggemaskan, "Aku gak mau nanti ngegantung.
Nggak enak banget." sambungnya sambil
mengedipkan mata.
Mata Cinta melebar mendengar kalimat
terakhir Rangga. Dilayangkannya satu pukulan
pada dada Rangga. "Kamu!" protesnya.
"Cinta." panggil Rangga tiba tiba. Tangannya
sudah menggenggam tangan Cinta dengan erat,
dikecupnya pelan dengan mata terpejam.
"Soal kejadian di puncak, di mobil Arya. Seingatku,
aku belum ngucapin terimakasih yang benar karena
kamu udah ngasih sesuatu yang paling berharga
malam itu." ucapnya sambil menatap dalam mata
Cinta.
Mengingat malam itu, Cinta tertegun
sejenak. Malam yang mengubahnya menjadi wanita
dewasa. Saat itu, akal sehatnya memberontak dan
berakhir kalah lalu menyerahkan kegadisannya
karena tidak bisa membayangkan pria lain selain
Rangga.
Padahal Cinta tahu betul pria itu sulit untuk
bisa dipercaya. Tapi dia sudah terjerat dan
membiarkan dirinya pasrah akan apa yang terjadi
di masa depan.
Cinta menghela napas. Hal itu pulalah yang
membuatnya berbohong malam ini. Dia tidak
sedang datang bulan. Dia hanya takut tidak bisa
memberi sebaik yang Rangga lakukan.
Kalau saat malam pertamanya dia hanya
perlu menyerahkan kegadisannya tanpa berbuat
hal banyak. Tentu kali ini berbeda, mereka kini
adalah sepasang kekasih. Dia harus mengimbangi
Rangga yang sialnya pasti memiliki segudang
pengalaman.
Cinta menghela napas lagi dengan berat.
Memiliki kekasih hampir sempurna seperti Rangga
sungguh menyulitkan. Cinta juga bukan gadis
polos, dulu saat kuliah di Australia dia juga
berpacaran layaknya remaja disana. Tapi tetap saja
pengalamannya itu tidak cukup.
Rangga memiringkan wajah memperhatikan
Cinta yang terlihat sedang berfikir serius.
"Terimakasih sayang. Maaf pengalaman pertama
kamu harus sempit sempitan di mobil bututnya si
Arya." ujar Rangga sambil tertawa ringan.
Pria itu lalu mencium bibir Cinta sekilas,
"Aku tahu kamu gak lagi datang bulan." ucapnya
pelan bahkan hampir terdengar seperti bisikan
pada telinga Cinta.
Mata Cinta membulat dan berkedip kedip
karena ketahuan. Hebat sekali pria tua ini,
batinnya. "Saking banyaknya pengalaman sama
perempuan, mas?" sindirnya.
Rangga berdeham, sepertinya sudah salah
bicara. "Kamu tahu aku punya adik perempuan.."
jawabnya asal. Dia lalu menggaruk belakang
lehernya. "Kenapa kamu bohong?" Rangga
mengalihkan pembicaraan mereka.
Dan berhasil, Cinta tampak kelagapan. "Aku
mau siap siap dulu. Habis Cinta dijemput, antar
aku pulang ya mas." jawab Cinta sambil berdiri dari
pangkuan Rangga. Memangnya cuma pria itu yang
bisa mengalihkan pembicaraan?
"Cintaaa. Jawab aku dulu." teriak Rangga
yang melihat Cinta sudah kabur dan hendak
menutup pintu kamar.
Mendengar teriakan Rangga, Cinta berbalik
menjulurkan lidah sebelum menutup pintu.
Rangga tertawa. Gadisnya itu benar benar
menggemaskan. Apa perlunya berbohong?
Memangnya dia terlihat seperti om om lapar yang
gila seks?
Rangga tersenyum sambil menyandarkan
pipinya pada tangan kanan yang bertumpu di meja
makan. Matanya masih terus memandangi pintu
kamar yang Cinta tutup.
"Cintaaaaa." terdengar suara cempreng yang
Rangga begitu kenal. Membuyarkan lamunannya.
Rangga mendengus kesal menatap ke arah
adiknya yang tiba tiba muncul seperti hantu.
Kasih menatap sekeliling. "Cinta mana kak?"
tanya Kasih.
"Di kamar. Yang satu di kamar aku dan yang
satunya lagi di kamar kamu." jawab Rangga ringan.
Kasih mengangguk lalu dengan instingnya
yang tajam berjalan ke kamar Rangga. Dia tahu
kalau Cintanya berada disana. Sedangkan yang
berada di kamarnya adalah Cinta Rangga.
"Ngga..Jadi yang ini serius?" tanya Bayu
yang tiba tiba suda muncul juga.
Terkejut dan hampir terlompat. Rangga
memegang jantungya. Tidak bisakah sepasang
suami istri itu masuk rumah selayaknya orang
normal dan tidak muncul tiba tiba?
Rangga menghela napas lalu membatalkan
niatnya yang hendak mengomel panjang. Percuma.
"Serius nggak?" tanya Bayu lagi yang merasa
dicueki.
"Maksud lu?" Rangga bertanya balik.
Bayu ikut duduk di meja makan, "Ya seinget
gue. Lu gak pernah ajak perempuan ke rumah lagi
setelah mantan lu yang gagal nikah itu dan Gia."
Rangga membenarkan apa yang Bayu
ucapkan. Sudah lama dia tidak membawa
perempuan ke area pribadinya, baik rumah
maupun apartemen. Biasanya dia selalu
menghabiskan malam di tempat perempuan
perempuan yang menjadi partnernya, atau
membooking hotel.
Rangga mengangkat bahu,"Lu tau gue Bay.
Serius adalah kata terakhir di kamus gue."
"Aduh!" Pekik Rangga kesakitan saat sebuah
benda tumpul terasa memukul kepalanya.
Rangga berbalik dan mendapati adiknya.
Memang siapa lagi yang berani memukulnya selain
adiknya yang kurang ajar itu, "Emang dasar jahat
lu! Semoga Cintanya aku gak pernah ketemu laki
laki kayak lu kak." omel Cinta lagi sambil memeluk
erat anaknya.
Dari balik kamar, Cinta dewasa mendengar
semuanya. Tadi, saat mendengar suara Kasih dia
langsung hendak keluar kamar dan menyelesaikan
ganti bajunya dengan cepat.
Cinta menutup pintu kembali, dia duduk di
atas kasur untuk menenangkan diri dan tidak mau
mendengar lebih lanjut. Dia fikir Rangga
menganggapnya berbeda dari perempuan
perempuan sebelumnya. Tapi ternyata dia salah,
Rangga tetaplah Rangga.
Air matanya menetes. Dengan cepat Cinta
mengusap pipinya. Dia akan tetap di kamar,
sebentar lagi. Sampai tenang.
Tiba tiba ponsel Cinta berdenting.
Menandakan sebuah pesan masuk.
"Aku sudah di Indonesia." Cinta membaca pesan
dari nomor tidak dikenal tersebut.
Mungkin pesan salah sambung atau orang
iseng, Cinta tidak perduli dan menutup ponselnya
kembali. Ia kembali tenggelam dalam
kesedihannya.
Rangga menarik napas, "Tapi, dia... Gue
ngerasa gak tenang kalau belum tahu kabar dia.
Gak bisa jauh jauh juga. Udah lama gak ngerasain
hal yang kayak gini ke perempuan. Maksud gue,
hampir dua tahun ini gak kehitung berapa banyak
perempuan yang gue kenal. Tapi yang ini beda.
Jadi...menurut kalian gimana?" ungkap Rangga
jujur.
Kasih memandang suaminya, keduanya
tersenyum mendengar perkataan Rangga. Awal
yang baik, Rangga mereka memang sedang jatuh
Cinta, hanya saja pria itu masih berhati hati. Tidak
mau terburu buru dan menyakiti gadisnya. "Take
your time kak.. Kita tunggu kabar baiknya." kata
Kasih sambil mengusap lengan Rangga.
Rangga tersenyum lalu mencium puncak
kepala Kasih. Rangga, Bayu dan Kasih menoleh
saat melihat Cinta yang muncul.
Kasih mendekati Cinta,"Nanti kita atur
jadwal ketemu buat ngobrol ya. Aku masih punya
hutangnih udah ngepotin kamu." ucap Kasih
ramah.
Cinta tersenyum mendengar ucapan Kasih,
Rangga memiliki adik perempuan yang sangat
baik. Andai pria itu juga baik seperti
adiknya.."Nggak ngerepotin sama sekali kok mbak.
Iya, harus. Nanti kita ketemu lagi ya mbak." Cinta
memeluk Kasih, dan beralih pada Cinta kecil,"Bye
sayang. Nanti kita main lagi yah." ucapnya sambil
menyentuh pipi Cinta yang menggemaskan.
Cinta kecil mengangguk angguk seakan
mengerti. Kemudian Kasih dan Bayu pamit dan
meninggalkan rumah Rangga.
"Mau lanjut yang tadi atau pulang?" bisik
Rangga yang sudah memeluk Cinta dari belakang.
Cinta bergerak gelisah lalu
menggeleng,"Pulang." jawabnya singkat.
Kening Rangga berkerut mendengar
jawaban ketus Cinta. Dia mengeratkan pelukannya
dan mencium pipi Cinta."Atau kita makan dulu.
Aku tahu tempat ramen yang enak."
"Aku mau pulang, Mas." jawab Cinta kekeh.
"Kenapa?" Rangga membalik tubuh Cinta,
menghadap dirinya. Ia langsung menempelkan
punggung tangannya pada kening Cinta."Nggak
enak badan?" tanyanya cemas.
"Mas bisa antar atau aku panggil taksi aja?"
balas Cinta dengan pertanyaan dingin.
Rangga mengangkat tangan."Oke oke.. Kita
pulang." Ia lalu merangkul Cinta dan berjalan
keluar. "Jangan jangan kamu memang lagi haid?"
tanya Rangga yang masih penasaran dengan
perubahan sikap Cinta

Ada Apa Dengan Rangga ?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang