2

2K 192 7
                                    

***

Matahari sudah mulai terbit, tapi pagi belum benar-benar datang. Pagi ini, Lalisa Jung berjalan dari mercusuar menuju halte terdekat. Dari salah satu sudut di mercusuar itu, Lalisa mengambil sebuah batu. Batu pipih dengan namanya dan nama pria itu di atasnya. Lalisa Jung dan Lee Jaewook akan bersama selamanya- begitu tulisan di atas batu pipihnya.

Lalisa yang berjalan menjauhi mercusuar anehnya kembali berpapasan dengan Jiyong yang berjalan mendekati mercusuar. Karena sudah beberapa kali bertemu, keduanya saling menyapa. Bukan sapaan hangat dengan pelukan, keduanya hanya saling memamerkan senyum simpul kemudian berlalu begitu saja. Menjaga jarak seolah tidak ingin berinteraksi satu sama lain.

Namun lagi-lagi, keduanya kembali bertemu. Kali ini di bus. Lisa sudah masuk lebih dulu, dan ia melihat Jiyong yang berlari dari arah mercusuar meminta agar bus tidak meninggalkannya.

"Ahjussi, tunggu sebentar," pinta Lalisa tepat sebelum supir bus itu menutup pintu busnya. Gadis itu berdiri, agar si supir mendengarnya, namun justru membuat Jiyong tahu kalau dia lah yang menghentikan bus untuknya.

"Terimakasih," ucap Jiyong, yang akhirnya tidak perlu menunggu bus selanjutnya. Tanpa sadar, pria itu lantas duduk di sebelah Lalisa. Tidak ada yang merasa terganggu, namun tidak juga ada yang memulai pembicaraan. Lalisa melihat pemandangan di luar jendela, sedang Jiyong melihat sandaran kursi di depannya.

Tanpa sadar, di tengah perjalanan menuju stasiun, keduanya menghela nafas berat mereka sembari merogoh saku masing-masing dan mengeluarkan batu yang mereka ambil di macusuar tadi. Di macusuar itu terkenal sebuah mitos, orang bilang siapapun yang menyusun batu menjadi sebuah gunungan kecil disana, doanya akan dikabulkan.

Mereka menghela nafas sekali lagi, sembari meyakinkan diri kalau mereka baik-baik saja- dalam hati tentunya. Namun kali ini Jiyong menyadari waktu helaan nafas mereka yang hampir bersamaan itu. Jiyong menoleh ke arah Lalisa karena mendengar suara helaan nafas dari sebelahnya, kemudian ia terkekeh saat melihat batu yang gadis itu pegang. Menyadari kalau Jiyong terkekeh di sebelahnya, tentu Lalisa menoleh padanya untuk menunjukkan reaksinya. Kenapa kau tertawa?- tanya Lisa melalui pesan yang ia gambarkan dari tatapannya.

"Doanya tidak berhasil ya?" tanya Jiyong, ia lirik batu pipih di tangan Lalisa kemudian menunjukan miliknya- Nara dan Jiyong akan bersama selamanya.

Kali ini entah kenapa Lisa ikut terkekeh. Mungkin karena ia baru saja menemukan orang yang sama bodoh dengannya. Mempercayai mitos itu, kemudian menarik kembali doanya setelah tahu kalau doa itu tidak akan terkabul- sama sepertinya.

"Lisa," ia memperkenalkan dirinya.

"Uhm? Ah... Aku Jiyong."

Disaat bus akhirnya berhenti di halte dekat stasiun, Jiyong yang pertama turun dan Lisa mengikutinya dari belakang. Masih di halte, Lisa bertanya apa yang akan Jiyong lakukan dengan batu miliknya.

"Membuangnya?" jawab Jiyong, terdengar tidak begitu yakin. "Apa yang akan kau lakukan dengan milikmu?"

"Aku ingin melempar batu ini ke wajahnya," jawab Lisa, "wajah pria itu."

"Sungguh?"

"Tidak, kami tidak akan bertemu lagi," ucap Lisa yang kemudian melempar masuk batu di tangannya ke dalam tempat sampah. Tempat sampah itu berjarak lima meter di depannya, tidak semua orang bisa melempar setepat itu- bahkan lemparan Jiyong saat itu pun meleset.

Pagi itu, mereka berpamitan kemudian berpisah.

Lisa dan Jiyong berpisah.

Lisa dan kenangannya berpisah.

Band AidTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang