Jeda

1.3K 135 18
                                        

Setelah sampai di kosan ku, aku langsung menuju kamar dan menguncinya, yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menangis dan menangis, mengingat kembali kejadian tadi, aku mengingat kembali semua kejadian mulai dari awal kedekatan ku dengan kak Nuca hingga dia yang berani untuk meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk menjagaku, lalu kembali teringat perkataan k'lini yang membenci diriku dengan alasan karena telah masuk ke dalam hidup mereka berdua.
apakah aku salah? kenapa cinta yang aku fikir sesederhana itu bisa menjadi sebuah tanda tanya besar yang tak bisa aku jawab, apa aku harus melepaskan ka'nuca biar tak ada hati yang tersakiti?

"Tiara"suara keisya tiba-tiba terdengar dari balik pintu kamarku dan meyadarkan aku dari sebuah lamunan

"Iya"

"Ada k'nuca di depan"

Aku hanya terdiam mendengarkan dan tak menjawab

"Mutiara" keisya kembali memanggilku

"Suruh pulang aja kei, gue capek mau istirahat"

"Mutiara lo kenapa jadi pengecut begini? bukannya lo sendiri yang bilang kalo kita ngga boleh lari dari masalah? lo tau ngga ka'nuca nungguin lo di depan gerbang dari tadi siang dan ini udah sore ra, ini bukan salah dia ra"

Aku masih terdiam dan mendengarkan, kemudian aku bergegas mematikan gawaiku yang sedari tadi berdering, dan merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur menatap langi-langit kamar dan berusaha mencerna kembali setiap kejadian ketika aku bersama dengan k'nuca"

"Apa aku harus benci sama kamu kak? Biar aku bisa relain kamu? Tapi bagai mana mungkin aku bisa sementara hati aku sudah tertinggal di kamu,
apa aku ngga usah masuk-masuk kuliah aja sampai kamu lulus
Biar aku ngga ngeliat kamu, tapi bagaimana bisa kak sementara kini alasan aku untuk selalu semangat adalah kamu" lalu aku harus bagaimana?"

Pertanyaan itu kembali membuat butiran bening jatuh dari sudut mataku, aku masih saja menangis hingga lelah dan tertidur, jam sepuluh malam aku terbangun dan melangkah ke dapur untuk mengambil air putih,

"Tiara" panggil keisya kembali
"Iya"
"Ka'nuca masih di depan gerbang nungguin lo, tadi udah gue suruh pulang tapi dianya ngga mau"

Mendengar itu tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku, dan aku kembali berjalan ke kamar namun langkahku di halangi oleh keisya

"Kenapa lo hukum k'nuca atas sesuatu yang bukan kesalahnya dia ra?" Tanya keisya

"Jawab gue mutiara, kenapa lo diem?"
"Kalo lo kaya gini terus berarti lo jahat ra, lo tega, hati lo batu" ucapa keisaya kembali

"Kenapa lo diam jawab gue mutiara" desak keisya

"Gue ngga tau kei harus gimana? Gue bingung kei, gue ngga tau harus bersikap bagaimana? Selama ini gue  jalanin hubungan sama k'nuca dengan bahagia, sementara sahabatnya key sahabatnya harus menderita menahan sakit hati dan benci sama gue, gue jahat ngga sih kei?
Aku menjatukan tubuhku dalam pelukan keisya dan kembali menangis

"Lo ngga salah ra, dan ngga ada yang salah, terkadang cinta memang seperti itu sedikit rumit bagi orang-orang yang salah mengartikan, Tuhan kasih kita rasa cinta yaitu untuk saling menyayangi bukan untuk membenci, jika sampai ada yang berubah menjadi benci maka kitalah yang salah dalam memahami cinta"

"Ra udah lo temuin gih ka'nucanya kasian tau dari tadi di depan, tadi gue suruh ziva nemenin tapi dia haru balik ke rumahnya" ucap lyo

"Kalian bisa beri gue waktu ngga buat mikir please guys" pinta ku kepada kedua sahabatku

"Hmm Terserah lo ra, semoga lo bisa cepat mengerti kalo yang terbaik buat nuca adalah elo, dan sebaliknya" ucap kesya,

"Thank's guys" aku kemudian masuk ke kamar ku,  ku ambil kembali gawaiku dan menyalakannya kembali jelas saja terdapat tiga puluh Panggilan tak terjawab,serta WA dan Pesan darinya dan satu Peasan dari ibunya, aku lalu memilih untuk membuka pesan dari ibunya,

"Asslamualaikum, Tiara jadi datangkan sama Abang? Kalian di mana ini udah jam 9 malam tapi kok belum dateng, tante tlp abg dan kamu tapi nomor kalian kenapa ngga aktif"

entah kenapa hari ini aku membuat dua orang yang aku sayangi harus menunggu karena keegoisan ku, kini yang ada adalah perasaan bersalah yang menjamah di hati, tak sempat untuk ku membalas pesan dari ibunya aku langsung berlari menuju gerbang kosan untuk menemui dia, dan Aku mendapatiya sedang duduk menunduk memeluk lututnya malam itu

"Ka' nuca"

"Tiara?"
dia mengangkat wajahnya  dan menatapku lalu berdiri menegakkan tubuhnya.

"Kamu kenapa masih di sini? Tante nyariin kamu? Hp kamu juga ngga aktif?"

"Ha hp? I.. iya hp aku mati"

"Ayo pulang ka, kasian tante kawatir di rumah nungguin kamu"

"Gimana bisa aku pulang ra, kalo kamunya kaya gini" ucapnya dengan menunduk, sangat perih rasanya ketika melihat orang yang aku sayangi seperti ini

"Kak' kamu pulang ya, aku ngga kenapa-kenapa aku cuma butuh waktu aja untuk berfikir"

"Ra maaf"

"Kamu ngga salah kak, keadaan aja yang bikin kita kaya gini, kamu pulang ya!"

"aku mau jelasin semuanya ra supaya ngga ada salah pengertian"

"Aku udah ngerti kak, ngertiii banget, kamu ngga salah jadi ngga perlu penjelasan, yang aku mau kamu pulang kasian tante, maafin aku karna aku ngga bisa nemenin kamu buat temuin dia malam ini, mungkin juga ngga akan bisa lagi"

"Maksud kamu dengan bicara kaya gitu apa tiara? Kamu menyerah?"

"Ngga tahu aku cuma mau kasih aku sedikit waktu, paling tidak malam ini saja kasi aku jeda untuk berfikir, please jangan tanya lagi kenapa? Aku hanya pengen perbaikin perasaan aku aja kak, kalau kamu masih terus di sini semuanya akan makin sulit buat aku"

"Baik ra kalau itu yang kamu mau, aku akan pulang, tapi tolong jangan pernah berfikir untuk menyerah hanya karna masalah ini ra, kamu taukan cinta aku ke kamu terlalu kuat untuk di runtuhkan hanya dengan kerikil kecil seperti ini, jadi aku mohon kamu juga sama"

"Iya kak, terima kasih untuk pengertiannya"

Dia lalu naik ke motor dan menyalakannya hingga berlalu pergi, begitu pun aku yang kembali masuk ke kedalam menuju kamar dan kembali merebahkan tubuhku, berusaha untuk memahami titik permasalahan tersebut hingga tertidur.

Mahkota untuk RajaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang