Ini kisah dua remaja yang tumbuh secara bersama dilingkungan yang sama.
Jesslyn Guan Reiner, biasa di panggil jejes. gadis imut dan super aktif ini tumbuh secara bersama dengan seorang Albert Jordan althara, pria tampan dan populer dikalangan kaum h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gue udah berada disekolah tepatnya sekarang gue sedang bersitatap dengan Albert, membujuk dia buat mau memberikan contekannya nanti ke gue.
"Al.. kasih-in contekan ya nanti," ucap gue memohon.
"Gak," dia cuma bales singkat. Ngeselin Khan!
"Please.. semalem gue gak belajar," mohon gue lagi.
"Gak," singkat dia lagi. gue ngomong aja nih, dia gak liat ke arah gue. Dia cuma baca-baca bukunya itu.
"Bolehlah, ya ya ya."
"GAK." singkat padat dingin pula.
"Oke. Gue juga bisa isi sendiri! Tanpa mencontek!" tegas gue.
"Ya udah. Kalo emang Lo bisa sendiri." bales dia yang beralih menatap gue.
Gue maju-in muka lalu melototkan kedua mata. "Dengerin! Gue akan kalahin nilai Lo." ucap gue angkuh. Lalu balik duduk di bangku gue.
Detik berikutnya setelah gue duduk bel masuk bunyi, lantas seorang guru masuk dan dia pak Dayat. Gue langsung bangkit dan mimpin salam ke dia.
Selesai memberi salam dia langsung bersuara, Sesuai apa yang ia katakan pada Minggu kemarin, bahwa 10 IPA 6 ini akan ada ulangan harian darinya.
Setelahnya pak Dayat panggil gue ke depan, lalu dia ngasih setumpuk kertas ulangan buat gue bagi-in satu persatu. Kertasnya lumayan agak berat karena setiap kertas berisi dua lembar, pak Dayat juga panggil Albert buat bantu gue karena dia ngelihat gue kesusahan, dan mungkin biar cepat juga.
Dia bangkit lalu beralih ke gue, gue pasang muka sinis dan dengan sigap gue kasih tumpukan yang agak banyak buat dia haha. Gue juga denger kalo dia berdesis sebal.
Kita berdua selesai nge-bagiin lalu duduk di tempat masing-masing. Setengah jam gue berkutik dengan Soal-soal yang gue gak mengerti, dan sejam tiga puluh menit terlewati pak Dayat menginstruksikan untuk semuanya mengumpulkan masing-masing kertasnya ke depan.
Gue udah pasrah, semuanya gue serahin ke tuhan. Moga aja nilai gue bisa lebih tinggi dari Albert. Tapi sepertinya itu sangat mustahil huaaa.
"Baiklah semuanya sudah mengumpulkan, dan nanti sore sebelum pelajaran berakhir bapak akan ke kelas ini lagi, untuk memberikan hasil nilai kalian." jelas pak Dayat.
"Apa ada yang mau bertanya?" tanya nya. Semua murid menggeleng kompak.
"Oke. kalo gitu saya tinggalkan kelas, sampai jumpa nanti anak-anak." ucap pak Dayat lalu keluar kelas dikarenakan jam pelajaran nya sudah habis.
Gue membalikan badan kearah dara, "gimana? Lancar Lo?" tanya gue. Dara cuma cengengesan gajelas.
"Dih gila nih anak," cibir Gue. "Eh dengerin dah, lu liat nanti nilai gue bakal jauh lebih tinggi dari Albert!" lanjut gue kepedean, dan sengaja membesarkan suara agar si Albert denger apa yang gue ucap.