"Satu ... dua ... tiga ..." Hayi berhenti menghitung saat melihat keranjang obatnya lebih longgar dari biasa. Ia menoleh pada sang suster. "Kenapa cuma ada tiga macam?"
Sang suster tersenyum lembut. "Kau sudah lebih baik sekarang. Jadi obatnya juga berkurang. Tidak lima macam lagi. Hanya tiga. Senang kan?"
Hayi memamerkan gigi putihnya. Pertanda gembira karena dirinya mulai membaik dari hari ke hari.
"Suster, itu keranjang siapa? Obatnya banyak sekali."
"Ini keranjang pasien di kamar paling ujung. Pasien itu sedikit nakal. Tidak penurut. Makanya, obatnya sebanyak ini. Tidak berkurang-kurang."
"Benarkah? Senakal itu?"
Suster Shin mengangguk, lalu pergi. Ia harus buru-buru keluar sebelum si ceriwis Hayi bertanya lebih banyak.
Informasi singkat dari susternya membuat Hayi jadi semakin penasaran pada si pasien nakal.
Saat jam bebasnya, Hayi memutuskan untuk mengikuti rasa penasarannya. Ia melongok melalu kaca kecil dari pintu kamar pasien nakal itu. Kamar 401.
"Ini sudah hampir malam, Jimin. Bisakah kau mengurangi keras kepalamu? Jika kau tidak meminum obat lagi hari ini, kau harus mengulang perhitungan obatmu. Kenapa kau tidak bisa menyelesaikan pengobatan tiga bulanmu? Hanya tiga bulan tapi kau sendiri yang membuatnya jadi lebih dari enam bulan begini. Kau mau berada disini bertahun-tahun hah?"
Suster Shin berkacak pinggang, tepat di hadapan seseorang yang berbaring miring, menghadap ke pintu.
"Iya. Aku ingin bersamamu sampai seterusnya. Makanya aku tidak ingin sembuh. Aku tidak perlu minum obat supaya aku bisa disini terus. Memangnya kau tidak sayang padaku?" si pemuda keras kepala itu merengek. Memandangi sang suster sambil mengerucutkan bibir. Sang suster menggeleng kuat.
"Aku ingin kau cepat-cepat keluar dari sini karena aku bosan melihatmu. Aku tidak ingin sayang pada manusia keras kepala sepertimu. Bisa-bisa aku jadi tua sebelum waktunya."
"Tapi kau kan memang sudah tua." Jimin menjulurkan lidahnya. Mengejek. Tentu saja, hal itu membuat sang suster semakin berang dan mengangkat paksa tubuh Jimin agar duduk.
Jimin memberatkan tubuhnya sendiri dan merengek semakin keras. "Aku tidak mau. Aku mau tidur saja, Suster. Ayolah. Sebentar saja. Lima menit?"
"Tidak mungkin kau tidur selama lima menit saja."
"Lima belas menit?"
Sang suster tidak menggubris dan duduk di hadapan Jimin sambil mempersiapkan setiap wadah obat yang harus Jimin minum. Ada tujuh wadah dengan tujuh macam obat yang berbeda. Sang suster menyiapkan segelas air putih dan sebungkus biskuit di meja lipat yang sudah ia buka.
"Suster~" Jimin menghentakkan tangannya. Merasa kesal karena sang suster tidak meladeni. Suster Shin menyodorkan obat pertama sambil menatap tajam pada Jimin.
"Terakhir kali aku membiarkanmu tidur tanpa minum obat, aku hampir meraung di depan kamarmu. Bergumul dengan jantung yang seakan melompat dari posisinya, setiap kali melihatmu terbaring dengan alat-alat itu, dan itu terjadi selama tiga hari. Kau ingin aku merasakan tiga hari di neraka lagi seperti waktu itu hm?"
Jimin berdecak. Ia ingat kejadian beberapa minggu lalu, saat ia mengabaikan Suster Shin dan tertidur tanpa meminum obat tepat pada waktunya. Melewatkan sehari tanpa meminum obat sama sekali dan akibatnya, Jimin tidak bangun dari tidurnya. Selama tiga hari. Koma.
Jimin menggembungkan pipinya sambil melipat tangan di depan dada. "Kau selalu membahas itu. Selalu gunakan hal itu sebagai senjata untuk membuatku mengalah. Kau pikir kau berhasil?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ORANGE
Short StoryBagiku, dia adalah definisi kesempurnaan. (Kumpulan cerita pendek)
