Please enjoy. Maaf lama. Kalian tetap sayang kan sama aku?
(short story)
Jimin bernapas dengan susah payah. Ia masih berpejam, tapi ia bisa merasakan sentuhan di dahinya. "Jimin?"
Suara itu terdengar jelas. Jimin berusaha membuka mata. Kelopaknya terasa berat, tapi perlahan Jimin dapat melihat sosok familier di hadapannya.
"Ayah?" lirihnya, meski tidak begitu yakin karena pandangannya masih buram.
"Benar. Ini Ayah. Kau mengejutkan Ayah, Nak." Ujar Hoseok yang mengecup puncak kepala Jimin sambil memanjatkan syukur yang begitu dalam karena putranya kembali.
Pagi ini, Jimin berhasil menggegerkan seisi rumah karena ditemukan tidak sadarkan diri di kamarnya. Jimin masih di atas kasur, berbaring dengan tenangnya. Namun, saat Minam masuk ke kamar untuk membangunkan putra bungsunya itu, Minam dibuat panik karena tubuh Jimin yang dingin. Saat diguncang tubuhnya, dipanggil namanya, Jimin tetap tidak terbangun. Padahal, Jimin termasuk orang yang paling mudah dibangunkan. Mendengar suara sekecil apa pun, Jimin akan langsung terbangun karena terkejut.
Cepat-cepat Minam memanggil Hoseok yang baru bersiap untuk berangkat bekerja. Ia berteriak panik sambil menangis, membuat semua anggota keluarga juga buru-buru menuju kamar Jimin. Tanpa basa-basi, Hoseok menggendong Jimin dan membawanya ke rumah sakit. Hoseok tidak memikirkan lagi pekerjaannya yang sudah menunggu. Ia bahkan belum mengabari atasannya bahwa ia tidak bisa hadir di kantor. Yang ada di kepalanya hanya Jimin.
"Ayah, kita ada di mana?" tanya Jimin sambil menggerakkan kepalanya ke sekitar.
"Di rumah sakit. Ayah terpaksa membawamu karena kau tidak terbangun saat ibu masuk ke kamar." Jawab Hoseok sambil membelai rambut sang putra.
"Begitu ya? Aku tidak bangun tadi pagi ya. Ibu mana?"
Mendengar dirinya disebut, cepat-cepat Minam mendekati Jimin. "Di sini, sayang. Ibu di sini." Minam tersenyum seadanya. Raut wajahnya yang lelah dan cemas tidak bisa disembunyikan.
"Maaf ya, Ibu. Ibu pasti terkejut ya?"
Minam mengangguk. "Sangat. Jangan begitu lagi ya." Minam menempelkan pipinya ke pipi Jimin. "Ibu takut, Jimin." Lirihnya sambil berpejam. Jimin menjawab dengan gumaman.
"Tadi itu aku bermimpi indah sekali. Mungkin karena terlalu indah, jadi aku tidak ingat untuk bangun." Ujar Jimin sambil terkekeh. Namun kekehannya tidak menenangkan sama sekali. Jungkook dan Taehyung yang duduk di sofa berpandangan satu sama lain. Sama-sama bertukar rasa cemas dan takut melalui pandangan. Kata-kata Jimin terdengar mengerikan.
"Oh ya? Memangnya anak Ayah bermimpi apa sih? Sampai-sampai lupa untuk kembali pada Ayah?"
"Boleh duduk, Ayah?"
Hoseok langsung menuruti permintaan Jimin dan menekan tombol di samping brankar untuk menaikkan sandaran kepala Jimin. Kini, remaja itu sudah pada posisi yang lebih nyaman karena ia bisa melihat dua kakaknya sekarang.
"Kakak!" seru Jimin dengan suara parau. Ia mengangkat kedua lengan, berharap kedua kakaknya mendekat dan memeluk. Taehyung berjalan lebih cepat untuk mendekap adiknya, sementara Jungkook menyusul dari belakang. Memilih untuk tetap tenang meski hatinya seperti akan melompat dari tempatnya saat melihat kondisi Jimin tadi.
"Kau ini suka sekali membuat orang panik. Itu hobimu ya?" omel Taehyung, membuat Jimin terkekeh dan memamerkan pipi gembulnya. "Hobi baru, Kakak. Biar Kakak bisa latihan untuk mengendalikan rasa panik dengan baik. Iya kan, Kak Jungkook?" Jimin menoleh pada Jungkook yang sudah berdiri di samping Taehyung.
KAMU SEDANG MEMBACA
ORANGE
Cerita PendekBagiku, dia adalah definisi kesempurnaan. (Kumpulan cerita pendek)
