Inspired by The Ark - Light.
Hujan.
Petang itu hujan. Jimin tidak membawa jaket atau paying sebagai perlengkapan menghadapi hujan. Remaja itu pulang lebih lama karena harus mempersiapkan rangkaian acara untuk kegiatan study tour-nya. Tadi pagi dan siang, langit kelihatan cerah-cerah saja. Memang, alam tidak dapat ditebak keinginannya. Meski cerah dan terang seharian, bisa saja tiba-tiba hujan diturunkannya.
Akhirnya, Jimin terpaksa berteduh dibawah kanopi salah satu toko. Berhimpitan dengan teman-temannya yang lain.
"Ih, geser sedikit! Aku terkena hujan. Tasku basah, kau tidak lihat?" omel salah satu teman perempuannya yang juga berada dalam gerombolan peneduh.
Jimin hanya melirik risih. Ia tidak ingin berkomentar banyak karena tidak ada gunanya mengomel panjang lebar. Hujan kan memang akan membuat basah.
Sudah menunggu sekitar sepuluh menit, hujan tidak mereda. Malah semakin deras. Jimin mulai menimbang-nimbang. Jika begini terus, bisa-bisa ia akan sampai di rumah terlalu malam. Tentu saja sang ibu akan khawatir bukan main.
Akhirnya, Jimin memantapkan hati. Mempersiapkan kakinya untuk berlari, bersatu dengan hujan. Tidak masalah basah. Yang penting bisa sampai ke rumah.
Baru saja ia siap mendorong tubuh untuk melawan hujan, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya.
"Jimin-ah!!"
Jimin menoleh ke sumber suara. Sang ibu melambai riang dengan payung yang melindungnya dari hujan. Ibunya mendekat dan mengulurkan tangan, mengajak Jimin untuk pulang. Awalnya, Jimin sedikit tidak enak hati karena ia dilihat oleh teman-temannya, terutama yang perempuan. Sedikit ada rasa malu karena seolah-olah, ia dijemput oleh ibunya. Sudah sebesar ini masih dijemput oleh ibu.
"Ayo sini, pegangan dengan ibu." Ajak ibunya. Jimin memegang lengan sang ibu malu-malu. Ia berjalan dengan mencipta jarak meski tetap berada dibawah satu payung. Setelah agak jauh dari teman-temannya, barulah Jimin mengeratkan genggamannya pada tangan sang ibu. Bahkan, ia mendekapnya.
Sang ibu berdecih sambil tersenyum. "Sudah Ibu bilang untuk dekat-dekat dengan Ibu. Kau ini gengsian sekali. Lihat kan, tasmu jadi basah." Sang ibu memegang tas Jimin yang sudah terkena hujan.
Jimin memautkan bibirnya. "Habisnya, aku kan malu, Bu. Teman-temanku tidak ada yang dijemput ibunya. Nanti mereka menyebutku manja."
"Biarkan saja. Anak Ibu ini kan memang manja."
"Ibuu~" rajuk Jimin, tapi masih bergelayutan di lengan ibunya.
Keduanya berjalan dengan hati tenang meski dibawah hujan. Saling berpegangan, meski kaki mereka basah karena percikan air. Tidak masalah bagi Jimin ataupun ibunya. Yang penting, mereka bersama.
Langkah Jimin terhenti sejenak, memaksa sang ibu untuk menghentikan langkah pula. Mata sang ibu mengikuti arah pandang Jimin yang terpaku pada sebuah padded jacket di etalase.
"Kau suka?"
Jimin mengangguk samar, tapi kemudian menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya ... itu jaketnya, kelihatannya bagus. Tapi aku tidak suka kok. Hanya bilang bagus. Mengatakan sesuatu itu bagus bukan berarti menyukainya, ya kan?"
Ibu Jimin memukul lengan anaknya pelan. "Banyak saja alasanmu."
Jimin menyahuti ibunya dengan dengusan, lalu menarik sang ibu untuk berjalan kembali.
"Jimin-ah, kau menginginkan jaket itu?" tanya sang ibu di sela perjalanan mereka.
Sambil tersenyum Jimin menjawab, "Tidak, Bu. Jaketku kan sudah banyak. Sudah ada tiga."
KAMU SEDANG MEMBACA
ORANGE
Cerita PendekBagiku, dia adalah definisi kesempurnaan. (Kumpulan cerita pendek)
