Enjoy your meal~
(short story)
"Minam, ayo lebih cepat. Kita harus mengantar Jimin untuk check-up pukul sepuluh nanti." Teriak Hoseok dari ruang tengah sambil mencari kunci mobil di penggantungan. Minam meminta Hoseok untuk mengantarnya ke supermarket sebentar karena harus membeli keperluan bulanan. Harus pagi ini karena Minam perlu menyiapkan makan siang untuk keluarganya. Hoseok berjalan cepat menuju mobil sambil membenahi jam tangan.
Pintu mobil dibuka dan Hoseok terdiam saat melihat putra bungsunya sudah duduk santai di jok belakang sambil memainkan ponsel. Jimin menoleh pada sang ayah dan tercengir. "Pagi, Ayah." Sapanya.
Hoseok menghela napas panjang. "Minam!" panggil Hoseok.
Minam berlari kecil dan mengunci pintu sambil menggerutu, "Sabar sedikit, Hoseok. Kau ini ingin cepat-cepat saja."
Minam mengangkat alis, kebingungan saat ditatap Hoseok dengan wajah malas. "Kenapa?" tanya Minam.
Hoseok menggerakkan kepala ke arah mobil. "Bukankah seharusnya anakmu ini istirahat?"
"Apa aku hanya anak Ibu? Bukan anak Ayah?" sergah Jimin sambil melongok dari jendela mobil yang sudah ia turunkan. Pertanyaannya itu tentu saja terabaikan.
Minam terkejut melihat putranya yang sudah rapi dengan pakaian hangat. "Seingatku, dia masih tertidur saat aku ke kamarnya tadi." Tutur Minam.
Hoseok mengembuskan napas kasar. "Bagaimana kita bisa berangkat jika dia ikut?"
Minam memegang lengan Hoseok sambil tersenyum manis. "Ajak saja, ya? Sepertinya dia ingin sekali ikut. Lihatlah. Dia sudah siap dengan pakaian hangatnya sendiri. Tidak mungkin kita meninggalkannya sendirian di rumah kan?" rayu Minam.
"Di luar cuacanya dingin. Di supermarket ruangannya juga dingin. Dia harus ikut berjalan mengitari supermarket. Nanti jika dia kelelahan bagaimana? Belum lagi perjalanan dari rumah ke supermarket, dari supermarket ke rumah, dan dari rumah ke rumah sakit. Perjalanan panjang yang akan membuatnya lelah. Lebih baik dia istirahat dari pagi. Mempersiapkan diri untuk check-up nanti." Nada Hoseok yang tegas membuat Minam bungkam. Ia hanya bisa melirik Jimin dengan pasrah. Sementara itu, Jimin sudah merengut sambil menempelkan dagu di pinggiran jendela mobil, dengan kedua tangan menggantung.
"Aku pusing jika tidur terus, Ayah. Makanya, setelah bangun, aku langsung mandi. Kulihat Ayah dan Ibu sedang siap-siap. Jadi, aku berpikir untuk ikut. Ayolah, Yah. Aku janji tidak akan merengek. Aku juga tidak minta dibelikan apa-apa kok. Aku hanya menemani kalian saja. Eum ... aku akan membantu angkat barang. Pokoknya, aku akan jadi anak yang berguna. Janji?" racau Jimin, lalu mengangkat kelingking mungilnya.
Hoseok berdecak, lalu mengacak rambut putranya. Kemudian, ia menyuruh Minam masuk mobil. Tidak ada perdebatan lagi dan artinya Hoseok setuju jika Jimin ikut. Minam dan Jimin saling pandang dan tersenyum menang.
"Jimin boleh ikut tapi janji satu hal pada Ayah." Tukas Hoseok sambil memasang safety belt. Jimin menegakkan punggung dan meletakkan tangan kanan di dada kirinya.
"Aku janji." Ujar Jimin tegas, seperti tentara yang mengucap janji.
"Tidak boleh mengangkat barang apa pun saat di supermarket. Selalu berada di samping Ayah atau Ibu."
"Itu bukan satu, tapi dua, Yah." Sanggah Jimin, yang disambut kekehan geli Minam. Hoseok berdeham kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya. Ada dua dan mungkin nanti bisa bertambah. Jadi, Jimin harus dengarkan Ayah supaya bisa tetap ikut. Mengerti?"
Jimin tersenyum lebar sambil memamerkan mata sabitnya. "Siap, Ayah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ORANGE
Historia CortaBagiku, dia adalah definisi kesempurnaan. (Kumpulan cerita pendek)
