(short story)
Hoseok mendekati Minam yang berdiri dalam diam di depan kaca pembatas ruang bayi. Sentuhan Hoseok membuat Minam terlonjak kaget dan langsung menoleh ke samping. Hoseok mengecup pipi Minam tanpa aba-aba, sebagai tanda maaf karena sudah mengejutkan sang istri.
"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Hoseok dengan suara sangat lembut. Tangannya kini sudah berada di pinggang Minam. Sedikit menarik tubuh sang istri agar semakin dekat dengan tubuhnya. Minam mengangguk pelan.
"Aku merasa sangat sehat sekarang." Jawab Minam. Hoseok mengecup wanitanya lagi, kali ini di dahi.
"Anak-anak?"
"Di rumah, bersama Ibu. Aku sengaja menunggu mereka tertidur dulu, baru menuju ke rumah sakit. Mereka akan menangis agar diajak, tapi Ibu tidak mengizinkan. Ibu khawatir mereka pasti akan berisik di sini." Jawab Hoseok. Minam tersenyum tipis. Ada sebersit rasa rindu pada dua buah hatinya yang sudah dua hari tak ia lihat. Ia sudah tak sabar ingin memeluk dan mengecup dua pemuda nakalnya.
Kedua pasang mata itu menatap ke arah bayi yang sekarang tertidur pulas dengan selang dan kabel yang melekat di tubuhnya. Helaan napas panjang terdengar setelah keduanya lama terjebak dalam hening.
"Sayang, kenapa semua menjadi seperti ini?" Mata Minam tidak terlepas pada sang bayi yang baru saja ia lahirkan itu.
"Ada hikmah di balik semua kejadian, Sayang." Sahut Hoseok. Minam menggigit bibir. Semakin lama matanya memandang sang bayi, semakin hatinya sakit. Sekujur tubuhnya terasa ngilu, seolah turut merasakan kesakitan yang bayinya rasakan karena selang dan kabel di melekat di tubuh mungil itu.
"Pasti sakit sekali kan? Dengan selang sebanyak itu. Bisakah tubuh kecil itu menahannya, Hoseok?" Minam menempelkan telapak tangannya pada kaca. Ingin sekali rasanya meraih malaikat kecilnya. Hoseok hanya bisa diam sambil mengusap punggung wanita tersayangnya itu.
Keduanya hanya bisa terhanyut dalam perasaan pasrah sambil merapalkan doa. Memohon pada Tuhan untuk diberi kesempatan agar bisa melihat malaikat kecil mereka tumbuh dengan bahagia.
***
"Tangkap itu, Kak!"
Seseorang berteriak dan membuat Taehyung berlari mundur, mengejar bola yang masih di udara. Namun, ia gagal menjaga keseimbangan hingga terjatuh di pasir pantai. Bokongnya terasa sakit, tapi hal itu tidak mencegah tawanya tetap terdengar di sore itu.
"Yes! Kita menang, Jim!" Taehyung mengangkat bolanya tinggi-tinggi dalam keadaan terlentang. Jimin berlari mendekati sang kakak, tertawa riang sambil membantu Taehyung berdiri.
"Kita hebat!" Jimin berteriak juga dengan tangan mengepal ke atas. Jungkook melipat tangan di depan dada. Mengembuskan napas pasrah, menerima kekalahan.
"Yang lebih muda, yang lebih bugar." Tutur sang ayah sambil menepuk pelan punggung Jungkook. Jungkook tersenyum sambil mengangguk samar. "Refleks Taehyung cepat sekali, Yah. Pantas saja dia lolos di seleksi pertama dalam tim voli sekolahnya." Sambung Jungkook. Mereka mendekati Taehyung dan Jimin yang masih tersenyum puas dengan kemenangan mereka. Namun di tengah seremoni bahagia, tiba-tiba Jimin terdiam sambil memegang dada kirinya. Hal itu sontak membuat ayah dan dua kakaknya panik.
"Jim? Kenapa?" Taehyung langsung memegang lengan Jimin, menahan tubuh adiknya yang hampir limbung. Jimin meringis dan semakin lama napasnya terdengar semakin terengah-engah.
"Sesak, Kak." Ucap Jimin dengan susah payah. Tanpa basa-basi, Jungkook segera menggendong Jimin di punggungnya, kemudian berlari menuju rumah mereka yang berada di ujung pesisir pantai. Jungkook membaringkan Jimin perlahan ke atas kasur. Ia melepas sandal dan mengibaskan beberapa pasir dari kaki adiknya. Sang ibu yang tadinya berada di serambi samping rumah bergegas menyusul ke kamar saat mendengar keributan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ORANGE
Historia CortaBagiku, dia adalah definisi kesempurnaan. (Kumpulan cerita pendek)
