●05: Paman Jyuto

3K 440 87
                                        

Jyuto memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa pening akibat dibangunkan secara paksa oleh tamu biadab yang datang pagi-pagi buta ke rumahnya. Samatoki terlihat tidak perduli dengan keberadaan Jyuto di belakangnya. Pria itu sibuk menatap layar datar di depannya yang tengah menampilkan berita.

Jyuto harus benar-benar sabar hari ini. Manik emerland itu turun menatap gadis kecil yang tengah memeluk kakinya dengan erat. Entah apa yang dilakukan Samatoki, pria albino itu datang ke rumahnya dengan keadaan pakaian bernoda darah sambil memeluk erat [Name] yang dalam keadaan tidur sambil memeluk boneka pinguinnya. Mata anak itu terlihat sembab. Sepertinya sehabis menangis.

Ketika Jyuto bertanya, Samatoki akan menjawab dengan kerutan di dahinya, "ada masalah di rumah."

Menghela napas, Jyuto memilih menggendong anak gadis itu dan membawanya ke kamarnya. [Name] dapat mencium samar-samar aroma mint saat memasuki kamar polisi itu. Aroma khas seorang Iruma Jyuto begitu berbeda dengan aroma yang sering di hirupnya ketika bersama sang ayah. Jyuto menurunkan [Name] di atas ranjang single bednya.

Mata sembab [Name] kembali mengeluarkan air mata. Anak itu menangis dengan keras, membuat Jyuto kelabakan karena kebingungan. Samatoki datang tergopoh-gopoh. Ia dengan kasar mendorong Jyuto menjauh. Samatoki memeluk erat [Name], menenangkan anak kesayangannya itu.

Jyuto mendengus. Ia berdiri kemudia pergi meninggalkan keluarga kecil itu di dalam kamarnya. Samatoki keluar dari kamar begitu selesai menidurkan [Name]. Wajahnya terlihat begitu kusut. Jyuto melemparkan sebuah kaus berwarna hitam ke arahnya. Samatoki menangkapnya, dengan cepat pria itu memakainya. Sepiring sandwich dan secangkir kopi tersedia di meja. Jyuto menyiapkannya untuk Samatoki.

Pria itu dengan kasar duduk di samping Jyuto. Sofa berderit karena kelakuannya. Jyuto menghela napas, "ada apa?"

Samatoki mengambil sandwich di depannya, "kawanan perampok memasuki rumahku. Aku tak sempat mengambil hypnosis mic ku, jadi ku habisi mereka dengan pisau di dapur." ujarnya menjelaskan.

Jyuto menyeruput kopi miliknya. "Lalu apa yang terjadi dengan [Name]? Anak itu terlihat ketakutan."

Samatoki terdiam, wajahnya tertekuk, "anak itu bangun ketika aku menghabisi mereka. Ku pikir ... ia melihat semuanya."

Jyuto mengusap wajahnya dengan kasar, "sepertinya, anak itu begitu menyukaimu. Bahkan setelah kejadian itu dia masih tidak takut denganmu."

Samatoki tertawa hambar mendengar ucapan Jyuto. Ia kemudian melahap sandwich yang berada di tangannya. Selesai menghabiskan jatah sarapannya, Samatoki berkata, "kalau begitu, maaf merepotkanmu lagi."

Jyuto menoleh, menatap heran Samatoki. "Hah?"



※Daddy Sugar※

Jyuto memakaikan tubuh polos [Name] dengan pakaian anak-anak yang baru saja dibelinya. Pria itu kemudia menguncir twin tail rambut [Name]. Di belakangnya berdiri pemuda yang menjaganya dulu. Tatapan pemuda itu terus tertuju pada [Name].

"Sudah kuduga, baju loli memang cocok digunakan anak-anak seumurannya." Ichiro berseru bangga.

Jyuto melirik, "seleramu boleh juga."

Bagaimana Ichiro bisa berada di sana? Jyuto yang memanggil Ichiro. Menjadikan pemuda itu kurir untuk membeli pakaian [Name]. Ichiro mau-mau saja asal dirinya dibayar.

[Name] menatap heran kedua orang dewasa yang sama-sama menatapnya sambil tersenyum. Satu tersenyum tulus yang satunya tersenyum misterius. [Name] memerlukan ayahnya sekarang.
Jyuto berdiri dari posisi berlututnya.

"Pulang sana." usir Jyuto.

Ichiro menatap Jyuto tak suka. "Tunggu dulu, sebelum itu." Ichiro mengeluarkan ponselnya, "aku ingin memfoto [Name]-chan."

Bak fotografer handal Ichiro mengabadikan loli di hadapannya dengan kamera ponselnya. Jyuto menghela, tak habis pikir dengan kelakuan si sulung Yamada. Padahal polisi itu tidak terima [Name] difoto begitu. Ia berniat menyimpan pemandangan [Name] dengan gaun khas anak-anaknya sendirian. Dasar fedofil.

Puas mengambil gambar [Name], Ichiro akhirnya pulang ke Ikebukuro. Jyuto kemudian beranjak menuju kamar mandi, pria itu belum mandi sejak tadi karena mengurus [Name]. Samatoki sudah pergi ke kantornya, ingin mengurus perihal kawanan perampok yang lepas dari tangannya malam tadi. Sekaligus mengurus jasad yang berada di dalam apartemennya.

[Name] dengan tenang duduk di sofa sembari menonton tv di depannya. Layar datar itu kini tengah menampilkan berita, Jyuto belum sempat menggantinya. Suara derit pintu mengalihkan perhatian [Name]. Gadis kecil itu menoleh ke arah kamar mandi, ia menemukan Jyuto yang baru saja keluar kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang melilit pinggangnya. Jyuto menyisir rambutnya ke belakang. Manik emerlandnya menemukan [Name] yang tengah menatapnya.

"Ada apa?" tanya Jyuto.

[Name] menggeleng pelan. Anak itu kembali menghadap ke depan. Jyuto mendekatinya, tangannya bergerak mengambil remote yang tergeletak di atas meja. Ia kemudian mengganti channel tvnya.

"Itu saja Paman!" [Name] berteriak saat salah satu channel tv Jyuto menampilkan anime.

Jyuto terdiam. Sepertinya [Name] terlalu banyak bergaul dengan si sulung Yamada saat itu. Jyuto kembali meletakkan remote tv di atas meja. Kemudian pria itu pergi ke kamarnya untuk berpakaian. Hari ini Jyuto mengambil cuti untuk menemani anak tunggal Aohitsugi. Samatoki akan mengamuk jika ia membawa anak itu ke kantornya. Entah karena apa.

Jyuto keluar dari kamar dengan pakaian casualnya. Ia kemudian ikut duduk di samping [Name]. Bosan menonton tv, [Name] menarik-narik tangan Jyuto agar bermain dengannya. Dengan senang hati Jyuto menemaninya. [Name] menyarankan permainan yang sering dimainkannya dulu bersama saudaranya di panti. Bermain rumah-rumahan.

Jyuto berperan sebagai suami, [Name] berperan sebagai istri dan boneka pinguinnya berperan sebagai anak mereka. Jyuto beberapa kali hampir tertawa saat melihat wajah serius [Name] ketika berperan menjadi ibu.

"Sayang." Jyuto tersedak air liurnya sendiri saat [Name] memanggilnya begitu.

[Name] terlihat panik, "loh? Kenapa? Apa minumannya tidak enak?"

Ah ya, Jyuto baru ingat ia tengah memegang cangkir yang berpura-pura terisi air teh. Jyuto berdeham pelan. Pria itu kemudian menggeleng pelan.

"Tidak kok, teh ini enak sekali." jawab Jyuto dengan senyuman menawannya.

[Name] kemudian menghela napas lega. Anak itu tersenyum, membuat kesan imutnya semakin menguar. Jyuto mati-matian untuk tidak menyerang pipi gembul anak itu. Mereka terus bermain. Jyuto mengetahui satu hal dalam permainan ini. [Name] sangat berbakat dalam bidang akting. Anak itu begitu mendalami karakternya sebagai istri dan ibu yang baik.

Nah loh, Jyuto jadi baper sendiri bermain rumah-rumahan dengan [Name]. Kini Jyuto memasuki scene dimana ia berangkat berkerja. Pria itu berdiri kemudian beranjak menuju dapur. Ia membuka lemari pendingin, ada sebuah puding berukuran sedang tersimpan di dalam sana. Jyuto mengeluarkannya dari lemari pendingin, membawanya ke ruang tengah bersama sendok.

Jyuto kembali dalam area bermain [Name]. Gadis kecil itu menyambutnya layaknya istri yang menyambut suaminya saat pulang kerja. Jyuto baper lagi.

Keduanya berhenti bermain dan menyantap puding yang Jyuto bawa. Menjelang jam makan siang, Samatoki datang menjemput [Name]. Kerutan di dahi Samatoki menghilang saat melihat [Name] yang berlari mendekatinya sembari memeluk boneka pinguinnya.

Dengan tidak rela Jyuto membiarkan Samatoki membawa gadis kecil itu. "Haah ..., sepertinya aku harus mencari istri."

Tbc ...

Heyyo!
Ketemu lagi kita.
Jangan lupa vote dan comment ya~
Btw, ada yang mau jadi istrinya si kelinci?

6/4/2020

♪Aohitsugi Keyara

Daddy Sugar (Samatoki)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang