"Panu..." panggilan favorit candra.
"Apasihhh can, diem ga!" bentakku saat dia sedang menjaili aku yang sedang menulis diary ku.
"Boleh aku liat?" tanyanya memelas.
"Gak!!! Ra ha si a." jawabku sambil menutup buku diary ku.
"Lo ceritain gw ya dibuku itu mangkannya gw ga boleh liat.." ucapnya terlalu pede.
(Padahal tebakanmu saat itu benar, aku selalu menulis sesuatu tentangmu can. Karena kau adalah hal yang pantas aku ceritakan, sampai saat ini pun tetap pantas.)
"Nih, kemarin gw liburan dan gw beliin lo buku diary lagi. Soalnya kalo lo nyeritain gw satu buku gitu gabakalan cukup, kan kisah gw banyak..." ucapnya sambil memberikanku sebuah buku yang bergambar catie yang sangat lucu.
(Terimakasih candra, kau sangat tau hal itu dan aku juga masih menyimpan buku diary pemberianmu. Dan mengisikan semua kisah tentangmu dibuku ku.)
"Can gw ga dikasih?" tanya nabila.
"Idih males gw beliin buat lo, ini special buat my princes." kata candra memujiku.
(Terimakasih candra karena kau selalu memujiku selain mama dan papaku, aku rindu mendapatkan pujian dari mulutmu.)
-0-0-
Kring..kringg (bel pulang)
Aku segera bergegas pulang karena papa lagi-lagi tak menjemputku karena ada urusan yang lain.
"Siel pulang bareng gw aja yu." sampai di depan gerbang ternyata candra mengikuti arah jalanku dan mengajakku untuk pulang bersama.
"Emm..." ucapku hanya bergugam, aku bingung ikut atau tidak yah. Kalau aku ikut aku gengsi dan jika tidak ikut sepertinya hujan akan datang.
"Itu artinya ikut, yasudah tunggu dihalte nanti gw ambil motor dulu di parkiran. Dah.." diapun berlari ke arah parkiran dan meninggalkanku, apa aku yakin akan pulang dengannya?
Sekitar 3 menit aku menunggu candra di halte diapun datang dengan mengendari sepeda motornya itu, ternyata dia suka clasic ya...
"Ayo naik, pakai helm ini. Khusus untuk bidadariku." ucapnya sambil memberikanku helm dan akupun mengikuti intruksinya.
Diperjalanan aku hanya diam tak bersuara, candrapun. Sampai pada akhirnya hujanpun menghampiri kita berdua.
"Kita berhenti dulu ya," ucapnya sambil menghentikan motor dan kita berduapun turun dan berteduh di depan emperan rumah warga yang kosong.
"Sorry ya jadi basah kan baju lo."
"Gapapa kok." ucapku menggigil, inginku meminjam jaket candra tapi kulihat wajah candra sedikit pucat. Apakah dia juga kedinginan ya?
(Andai saat itu aku tau keadaanmu, maka aku tak akan mau membuatmu kehujanan seperti itu.)
"Maaf ya siel kalo gw sering buat lo selalu marah dan jengkel." ucapnya tiba-tiba dikeheningan.
"Gapapa kok can, gw malah seneng kalo ada yang ngejek gw." ucapku membalas.
"Iya maaf juga kalo emang suatu saat lo ketawa tapi bukan karena gw." candra melanjutkan.
"Kok lo ngomongnya gitu sih?" ucapku panik.
"Ya nggapapa sih, kan bisa aja seseorang itu dipanggil sama tuhannya kan?" ucapan itu membuatku selalu mengingatkan dia kembali.
"Lo gaboleh ngomong gitu can, lo sehat gini ga mungkin sakit-sakitan." ucapku meyakinkan tak ada apa-apa dengan candra.
"Bisa aja ko, tuhan kan ga milih-milih kalo manggil. Kadang ada kan yang lagi duduk tiba-tiba udah ga ada, ada yang baru lahir udah ga ada. Siel jodoh, mati, kehidupan, semua tuhan yang atur. Kita yg jalanin." -candra.
"Tumbenan banget lo bilang gitu, kaya pak ustad aja." ucapku guyon tapi selalu saja dibalas dengan keseriusan candra.
(Can itu adalah kalimat pembangkitmu dulu kan, sekarang kamu sudah bersama dengan tuhan. Candrawinata udah ga sakit lagi, udah bisa makan-makanan yang enak...)
-0-0-
Hujan pun reda...
"Yuk lanjut pulang siel, oh iya gw mau minta hal aneh boleh ngga?" -candra.
"Apaan?"
"Peluk gw, bentarr aja gapapa kok. Gw lagi butuh kehangatan." ucapnya gila seolah seperti guyonan.
"Kalo gamau gapapa sih, yaudah yuk naik.." lanjut candra, akupun mengikuti perintahnya karena katanya terlihat benar, sedang membutuhkan kehangatan.
Iapun mengantarku sampai rumah, jelas saja hafal karena dia pernah satu SD denganku... Tak sampai mampir, katanya hari sudah mulai gelap dan ia pun masih dengan seragam yang basah karena hujan. Selamat jalan ya candra...
Sejak kejadian hujan itu, aku dan candra semakin akrab. Kadang aku membalas guyonan yang diberikan oleh candra. Dan aku sekarang sedikit terkontrol emosi karena dia juga. Entah rasa apa yang sudah ada dalam diriku, aku merasakan hal beda saat dekat dengan candra yaitu rasa nyaman. Terimakasih candrawinata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Candrawinata [COMPLETED]
Historia CortaCerita ini diambil dari kisah seseorang yang ditinggalkan kekasihnya, bukan ditinggal menikah ataukah selingkuh. tapi sang wanita tegar ini ditinggal sang kekasih untuk selama-lamanya. Dan hanya batu nisan yang menghiasi jutaan kerinduan. Penasaran...
![Candrawinata [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/219425606-64-k37588.jpg)