14. Matahari [Kembali Berseri]

18 4 1
                                        

Queen merenung di pinggir kaca apartemennya. Ia mengabaikan seluruh kendaraan yang hilir berganti di bawah sana. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanyalah perkataan Rama tempo hari. Hatinya mencelos kala Rama dengan tegas mengatakan kebenaran yang ada. Queen masih mengharapkan bintang jatuhnya.

Sialan Rama. Sialan Athala. Queen mengacak surai panjangnya hingga tampak berantakan. Ia frustasi. Perasaan tertekan seperti tiga tahun lalu membuatnya kesal. Pamannya, kekasihnya, sama-sama menyebalkan. Ia membenci itu juga.

“Kalau saja, kalau kau tidak pergi begitu saja waktu itu, mungkin- mungkin semua akan jauh lebih mudah bagiku...,” ratap Queen sembari menghela nafas panjangnya.

Queen tak sengaja menangkap siluet Rama di bawah sana. Rama membawa map coklat di tangan kirinya dan tangan kanannya tampak fokus dengan ponselnya.

Ponsel Queen berdering, ternyata Rama menelepon Queen. “Halo.”
Queen bergegas berjalan ke pintu apartemennya sembari menjawab panggilan itu, “Oh, ya aku tahu kau di sini, aku melihatmu di bawah sana tadi.”

Rama memencet bel. Lantai 14, kamar Queen. Ia memasukkan ponselnya ke kantung celananya. Queen mendesis tak suka kala telepon itu diputus secara sepihak.

“Hei, tak sopan memutus panggilan begitu saja, Rama bodoh,” umpatnya begitu Rama masuk ke apartemennya.

“Hei, mulutmu sayang.”

Rama duduk dan menjulurkan map coklat yang dipegangnya pada Queen. Lantas ia menyuruhnya untuk segera membuka map coklat itu, lalu ia pun merentangkan tangannya di depan Queen kala wanitanya sudah melihat isi map itu.

Queen terenyuk. Ia berhambur ke pelukan Rama dan menangis di sana. “Bagaimana bisa? Ayahku?”

Rama melepas pelukannya, jemari itu menyentuh pipi Queen dan menghapus air mata yang dengan cepatnya menganak sungai. “Tidak sulit menemukan ayahmu. Ternyata beliau memiliki bisnis menengah yang ia rintis sedari muda. Tapi maaf Queen, aku harus mengatakan ini-” Rama menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar, “-ayahmu tidak meninggalkanmu, tapi ibumu yang memutuskan untuk meninggalkan ayahmu di saat bisnis ayahmu diambang kehancuran.”

Rama menatap Queen yang sedang menunduk sembari menggigit bibirnya, ia berusaha menahan isak tangisnya sendiri.

“Aku meminta bantuan pada temanku yang seorang detektif di sana. Jangan bersedih karena kau seharusnya bahagia. Ayahmu seorang yang baik dan setia. Kau masih memiliki ayahmu, Queen.”

Queen mendongak dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Suaranya melirih, “Bagaimana aku bisa senang kalau ibuku ternyata orang yang seperti itu, Ram? Ibuku yang kusanjung ternyata mencuci otakku.”

Shh, tidak, pasti ada alasan lain. Jangan berpikiran jelek.” Rama menarik Queen ke pelukannya lagi. Ia mengusap punggung wanitanya dengan tempo lambat disertai kecupan di puncak kepalanya.

“Kita akan menemui ayahmu dua minggu ke depan setelah meeting pentingku bersama kolega bisnis usai.”

Queen melepas pelukan itu dengan cepat. Mata berairnya tampak memancarkan kerinduan yang besar. “Aku akan mencicil semua biaya yang kau keluarkan. Terimakasih, Ram."

Rama menggeleng singkat, “Ini inisiatifku, tidak perlu diganti dan kupastikan kau tidak berhutang padaku. Aku murni ingin membantu.”

Rama berdiri dan mengatakan bahwa ia harus kembali ke kekantor untuk suatu urusan. Alhasil ia berpamitan dan meninggalkan Queen yang masih terisak. Ia menepuk puncak kepala Queen tiga kali dan tersenyum tipis sebelum ia benar-benar meninggalkannya.

‘Terimakasih, Rama,’ batin Queen.

*

Tak terasa sudah pukul dua sore. Sudah saatnya Queen menuju club tempatnya mencari uang. Ia memakai mini dress yang pas sekali mambalut indah lekuk tubuhnya, tubuh molek yang selalu dapat memikat laki-laki. Ia mematut dirinya pada pantulan kaca panjang yang ada di sebelah lemari. Ia mengetukkan jari telunjuknya beberapa kali di bibir. Arah pandangnya melirik ke bawah, kakinya terekspos sekali.

Queen melangkahkan kakinya menuju lemari lagi, ia membukanya dan meraih coat khaki setengah betis dan memakainya dengan segera.

“Nah, begini baru pas! Di luar ‘kan hujan, pasti dingin sekali.”

Queen menyambar payung lipatnya dan berjalan ke luar. Ia menatap hujan yang cukup lebat di depan sana. Tanpa ragu, ia membuka payungnya dan berjalan menembus lebatnya hujan.

Sepi. Tak banyak yang berlalu lalang saat hujan turun dengan intensitas yang lumayan lebat. Queen memperhatikan jalan sekitar, ia berkomentar, “Gubernur Jakarta harusnya membuat halte lebih banyak di sini. Kasihan mereka, berteduh saja sampai harus di bawah jembatan penyebrangan. Sama saja ‘kan, basah.”

Queen berjalan memasuki toko kue. Ia melipat payungnya dan menyandarkannya di sisi kiri pintu masuk. Hal pertama yang ia suka dari toko ini adalah pemiliknya yang super ramah. Selain kuenya yang cocok di lidah Queen, ia juga menyukai cara ibu pemilik toko yang memperlakukannya dengan baik, seolah ia adalah pelanggan tetap, padahal ia jarang sekali membeli kue di sana.

Queen menunjuk beberapa kue tradisional untuk dijadikan camilan saat jam kerjanya lengang. Ia pun mempercepat gerakannya dan akan bergegas pergi dari sana. Itu rencananya, tapi ia berhenti tepat di sebelah pohon besar. Matanya bergetar menatap hotel di seberang sana.

‘Mau apa kau dengan gadis itu? Athala....’

To be Continue

Yg suka bisa di vote, yg lihat typo bsa di komen , yg ga mau ktinggalan bisa masukin ke library kalian ^^

See you on the next chapter ^^
Bubye ~



1 APRIL : Queen-Athala [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang