bego-20

327 45 3
                                    

Tepatnya dua menit yang lalu-- Jingga sudah menyandang istri siri dari seorang Lino. Begitulah, pernikahan mereka memang baru diakui sah secara agama belum di mata negara.

Sesuai syarat yang diajukan oleh Lino kemarin.

Setelah prosesi akad selesai. Mama mertua Jingga atau mama dari Lino menghampirinya. Memeluk gadis yang sudah menjadi istri dari anaknya itu.

"Maafin Lino, ya. Mama bakal ikut jaga anak kamu sama Lino" katanya seraya mengusap sayang kepala Jingga.

Jingga hanya membalasnya dengan anggukan dan mata yang sudah berkaca-kaca. Jingga sangat menghargai setia support yang diberikan orang-orang padanya. Itu menguatkan keadaannya saat ini.

"Terima kasih, ma" katanya.

"Sama-sama sayang"

⛥⛥⛥

Hari ini adalah hari pertama Lino masuk dengan statusnya yang telah berubah. Dia masih sekolah seperti biasa. Sedangkan Jingga jelas sudah keluar sebelum dia hamil, kan?

Bisikan aneh Lino rasakan saat dia berjalan seorang diri di koridor-- menuju kelasnya.

"Jingga tumben nggak ada? Gue denger dia hamil lho,"

"Lino udah masuk setelah 9 hari bolos,"

"Wahh keponakan kepsek enak ya dibolehin bolos sesuka hati,"

Mungkin itulah deretan bisikan dari anak-anak sepanjang Lino berjalan. Tapi untuk cowok pemilik hidung mancung yang indah itu, apa pedulinya?

So what?

Cukup diam.

"Cia bos udah masuk. Gimana semalam bos? Wkwk" goda si Jojo ke Lino yang baru sampai di kelas.

Lino menaikan sebelah alisnya. Sejurusnya dia yang paham arah pembicaraan Jojo pun hanya acuh dan menerobos masuk kelas. Mengabaikan semua mata yang langsung menatapnya.

Yuvin lantas mengambil duduk di bangkunya yang tepat ada di depan meja milik Lino.

"Gimana Thur, ngomong elah. Bagi-bagi kesan gitu" kata Yuvin naik-turunin alisnya.

"Paan sih lo? Nggak jelas. Pergi ah" usirnya dengan nada malas.

"Pelit lo bos" cibir Jojo dari bangkunya berada.

Lino tak menggubris cibiran Jojo tadi serta ocehan teman-temannya lagi. Dia lantas beralih menatap keluar jendela. Di mana ada taman yang biasa Jingga akan duduk di kursi taman sana.

Sadar atau tidak dia menyunggingkan senyum tipisnya. Asing dan benar-benar jarang seorang Lino bisa tersenyum.

Tersenyum ikhlas pula dan bukan senyum remeh seperti biasanya.

Sejujurnya dia selalu ingat hal apa pun tentang Jingga. Hanya sifatnya yang memang keras dan arogan membuat perhatian yang dia coba berikan berbeda dari orang pada umumnya.

Bukan sifat Lino yang berbicara halus dan berhati hangat. Dia dingin, ketus dan lebih sering membentak.

Ia menjadi manusia posesif karena dia tidak mau kehilangan sesuatu yang menurutnya berharga. Dan satu lagi, dia tidak terobsesi melainkan dia lebih tepatnya keliru memaknai seseorang sebagai hak milik.

Jingga berharga untuknya. Jingga miliknya. Dia tidak romantis karena-- itu bukan gayanya.

⛥⛥⛥

Kerumunan siswa di mading, membuat geng Arthur berhenti dan salah satu dari mereka yaitu Yuvin mencoba membelah kerumunan siswa tadi untuk tau berita apa yang ada di mading sekolah itu.

"Njirrr!!" Pekik Yuvin keras lupa tempat.

Matanya langsung tertuju ke Lino. Sepertinya-- mungkin saja Lino masuk di berita tersebut.

"Lino dipanggil kepsek. Disuruh ke ruangannya sekarang" kata seorang siswi perempuan menyampaikan pesan.

Lino tanpa meninggalkan sepatah kata untuk teman-temannya lantas ngibrit ke ruang kepsek.

Tanpa ketuk pintu atau apalah-- Lino menyelonong masuk dan duduk tanpa disuruh duduk terlebih dahulu.

"Hadehh om pusing karena berita kamu yang beredar di sekolah. Gimana dong?" Si kepsek yang juga om dari Lino itu malah mendrama nada bicaranya.

Lino memutar bola matanya malas. "Ya hapus aja beritanya dari mading. Grub sekolah juga. Pasti nyebarnya di situ" kata Lino memberi solusi.

Omnya itu mejentikan jarinya. "Nice!" Pekiknya.

Lino memutar bola matanya part dua.

Omnya itu memang agak lebay. Pantas masih betah melajang padahal sudah kepala empat. Usia matang untuk menikah, kan?

Arthur Zagalino siswa dari SMA Garuda sudah menikah.

Begitulah berita yang beredar saat ini. Sudah bisa Lino tebak siapa pembuatnya-- satu nama yaitu Sena.

Cowok bermata tajam itu pasti ingin membalas dendam padanya. Karena dulu dia juga membuat kasus serupa untuk mengeluarkannya dari sekolah

⛥⛥⛥

Pulang sekolah, Lino langsung disambut Jingga. Lino tidak tinggal lagi di rumahnya. Melainkan sudah pindah ke rumah Jingga. Mamanya sih yang memaksa.

"Lino kamu mau makan dulu atau mandi?" Tanya Jingga.

Lino tidak menjawab tapi dia terus berjalan dan menaiki tangga. Jingga tanpa mau bertanya lagi-- hanya mengikuti langkah Lino.

Sampai di kamar Jingga atau kamar mereka saat ini. Lino membuang sembarangan tas miliknya. Dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia penat dengan kasusnya di sekolah.

Sejenak dia memejamkan mata-- dia dibuat tersentak saat tangan seseorang melepas sepatunya. Lino segera membuka mata. Ternyata itu perbuatan istrinya. Jingga.

"Kalau mau tidur lepas dulu sepatunya." Katanya.

Lino lantas bangun dari posisi yang terlentang saat ini. Dia menatap datar Jingga dari bawah sampai atas. Sejak hamil istrinya itu suka sekali memakai baju-bajunya. Kaus oversized yang sering Jingga pakai itu adalah miliknya.

"Gue mau keluar dari sekolah" kata Lino tiba-tiba.

Jingga menoleh heran serta kaget juga. "Kok tiba-tiba? Kamu dikeluarin apa gimana?" Tanya Jingga.

Lino menggeleng. "Sena berulah. Dia nyebar berita gue udah nikah. Dan semua orang jadi tau"

"Maafin aku. Semua berawal dari aku" kata Jingga menundukan kepalanya.

"Gue bakal keluar dan ambil paket C. Reputasi sekolah bakal jelek kalau gue masih di sana. Sekolah lain juga nggak mungkin nerima gue." Katanya menatap lurus ke depan.

Jingga sudah memeluk Lino. "Kamu mau kerja?" Tanya Jingga. Random sih tapi pertanyaan itu muncul saja di otaknya.

"Papa bakal kasih posisi bagus kalau gue mau kerja. Mungkin." Jawabnya terselip keraguan yang bisa Jingga tangkap.

⛥⛥⛥

BEGO -[end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang