Malam itu Jingga sudah masuk ke kamarnya di lantai dua. Dengan secangkir coklat panas yang baru saja dia seduh, Jingga berniat mengerjakan tugas rumahnya. Segera dia menuju kursi-- meja belajarnya dan mulai mengerjakan tugasnya.
"Hmmb banyak banget.." keluh Jingga bermonolog. Membolak-balik lembaran halaman yang kesemuanya penuh dengan soal itu.
Ya meski mengeluh namanya tugas jelas harus dikerjakan kan kalau mau dapat nilai? Atau paling tidak menghindari hukuman dari gurunya.
Butuh hampir dua jam Jingga berkutat dengan buku paket dan alat tulisnya. Selesai dengan semua soal yang menguras otaknya-- Jingga memijat pelipisnya. Pusing.
Namun, getaran kecil yang bersumber dari atas kasurnya membuat Jingga menginsterupsi. Dia berjalan malas untuk tau siapa si penelpon. Iya Jingga tau karena kalau pesan yang masuk tidak mungkin getarannya selama itu.
"Lino.." gumam Jingga. Langsung tanpa pikir panjang Jingga menggeser tombol hijau.
"Hallo" Jingga yang tadi sudah menempelkan layar ponsel itu ke telinga-- langsung menjauhkannya dan meringis karena Lino yang tiba-tiba bentak dia.
"Iya aku buka. Tunggu dulu" kata Jingga berusaha sabar.
Lino sedari tadi meneleponnya. Tapi karena Jingga kelamaan untuk menjawab makanya si Lino marah. Dan sebenarnya sejak 5 menit yang lalu Lino ada di depan pagar rumah Jingga. Entah jarang sekali sebenarnya Lino mau berkunjung malam-malam ke rumah Jingga.
Jingga lari terburu-buru untuk turun dari lantai atas ke lantai dasar. Setelah buka pintu besar rumahnya, benar saja ada Lino di depan. Jingga berjalan pelan kali ini dan membukakan gembok pagar agar Lino beserta mobilnya bisa masuk.
"Maaf lama" kata Jingga merasa bersalah.
"Dasar budeg. Makanya kalau punya telinga itu dengerin kalau ada orang telepon" omelnya sepedas sambal level tertinggi.
Dan mungkin bila orang lain terkena omelan Lino akan marah dan dendam. Tapi lihatlah betapa polosnya Jingga. Dia hanya diam dan menunduk tanpa merasakan bahwa barusan Lino telah merendahkannya.
Lino yang memang kurang ajar bin jahanam menarik Jingga masuk. Dan seenaknya lagi setelah sampai di dalam Lino menutup pintu dengan keras seperti menumpahkan kekesalannya dengan membanting pintu tadi.
Jingga yang mendengarnya jelas kaget, matanya sudah nanar menatap si pintu yang tak bersalah itu. Sedangkan Lino tatapannya menghunus tajam buat Jingga semakin menunduk ketakutan.
Lino sudah berbaring di ranjang Jingga dengan tenang. Cowok dengan hidung mancung yang indah itu tenang karena asik dengan sesuatu di ponselnya. Sedangkan Jingga tengah sibuk di meja belajar-- cewek berambut hitam kecoklatan itu menyiapkan buku pelajaran untuk jadwal sekolahnya besok. Dia itu miss pripare segalanya harus mandiri karena sejak kecil terdidik hidup sendiri, dan tidak ada baginya seseorang yang bisa Jingga andalkan.
"Ga.." panggil Lino. Jingga memberi antensinya ke Lino sejenak.
"Besok ke rumah, lo ditanyain mama" katanya.
Jingga tersenyum, sudah lama juga dia tidak main ke rumahnya Lino. Terakhir ya bulan kemarin. Hubungannya dengan Lino memang beda dengan orang pacaran pada umumnya yang harus setiap saat mengumbar kata mesra. Tapi meski begitu keluarga Lino terutama mamanya sangat menyetujui hubungan keduanya. Bahkan si mamanya Lino sudah sayang banget sama Jingga dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Juga Jingga yang juga menganggap mamanya Lino sebagai ibu untuknya.
"Iya besok aku ke rumah" balas Jingga.
"Lino.." panggil Jingga naik ke ranjang-- sudah duduk bersila menghadap Lino yang berbaring di depannya.
