bego-14

341 55 9
                                    

Sudah sepekan sejak kejadian sore itu. Jingga absen masuk sekolah. Tepat dua hari yang lalu Yoko pulang dari rumah sakit. Cowok berdarah Jepang itu harus opname 5 hari. Pukulan keras Lino memang hampir membuatnya koma. Saat perjalanan ke rumah sakit kemarin pun Yoko terus muntah darah. Membuat Jingga ketakutan jika orang yang sering dipanggilnya 'kak' itu akan mati. Dan selama Yoko dirawat Jingga terus menemaninya. Orang tua Yoko? Mereka orang yang super sibuk. Hanya sesekali di malam hari setelah pekerjaan mereka selesai, orang tuanya akan menjenguk.

Jingga menemani Yoko hingga cowok itu dibawa pulang dua hari yang lalu. Namun, niatnya Jingga yang ingin sekolah setelah kepulangan Yoko dari rumah sakit harus ia urungkan. Bukan karena apa, tapi dia takut. Takut bertemu dan bersitatap dengan mantan. Iya Lino. Siapa lagi.

Jingga takut mata mengintimidasi Lino. Jingga bahkan trauma ketika ia terlintas ingatan Lino yang memukul Yoko hingga hampir mati.

Di kamar Jingga sekarang berada. Sejujurnya dia bosan dan ingin ke sekolah saja. Tapi lagi. Dia takut ketemu Lino. Pikiran-pikiran buruk selalu menghantuinya jika Lino muncul di hadapannya.

Iya seseram itu Lino bagi Jingga sekarang. Dulu juga sih.

Mata Jingga yang tadinya menatap fokus ke tivi-- teralih untuk memandang foto di figura di meja nakas. Ada dua orang di foto tersebut. Jingga dan ayahnya.

Jingga rindu lelaki paruh baya yang sering meninggalkannya itu. Pulang jarang. Jika pulang di rumahnya cuma sebentar. Jingga mengamati sosok sang ayah di foto itu. Berseragam pilot dan di sampingnya adalah Jingga yang saat itu baru saja wisuda-- kelulusannya waktu SMP dulu.

Lama dia pandang-- sesuatu ide muncul di otaknya.

"Pindah sekolah. Minta ayah pindahin nanti kalau dia pulang" monolog Jingga.

Jingga lantas mencari ponselnya. Btw, Jingga sudah tidak pakai ponsel lamanya. Takut lah, siapa tau Lino masih hack ponselnya itu. Bagaimanapun Lino terobsesi padanya.

Jingga rasanya mau buang ponsel itu. Tapi sayang lah, mahal. Harganya setara motor matic baru.

Sedang asik mengutak-atik ponselnya-- yang dia gunakan untuk mencari syarat pindah sekolah. Jingga dibuat beringsut dari kasur karena terdengar oleh rungunya suara bel rumah dia bunyi. Siapa yang bertamu pagi-pagi?

Jingga jalan santai menuju lantai satu-- masih dengan aktivitas browsing-nya. Jingga buka kunci dan setelah pintu terbuka-- telinganya ditarik pelan sama seseorang.

"Eh-eh.. "Jingga memekik.

"Lo tuh kemana sih! Gue khawatirrrrr!!"

Jingga nyengir ketika jeweran di telinganya terlepas. "Sorry" jawabnya.

Cindy. Iya si cewek tomboy itu yang datang. Dia berkacak pinggang-- pakai tatapan galak. Jingga masih nyengir watados.

"Kemana sih lo??!" Tanyanya. Masih mode galak Cindy.

"Takut ketemu Lino aja" kata Jingga. Langsung dia suruh Cindy masuk.

Cindy ambil duduk di sofa panjang. Jingga ikut duduk di sampingnya.

"Apaan sih. Ada gue. Tenang aja" kata Cindy.

"Nggak. Lo jangan ikut campur. Kan masalah gue" balas Jingga.

"Justru lo sahabat gue. Gue perlu lindungin lo, Ga" kata Cindy. Nyolot nadanya.

Jingga kicep lantas menghela napas.

"Bukan cuma takut, tapi gue trauma Cindy. Lino itu-- " Jingga menjeda.

"Bajingan" sambung Cindy.

BEGO -[end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang