Jingga sedang berjalan dengan dua gelas jus di tangannya. Dia mulai menghampiri mejanya yang di sana jelas ada Lino? Dan sudah ada teman segeng-nya Lino. Entah kapan mereka datang.
Jingga tak menggubrisnya karena sudah biasa melihat wajah-wajah mereka. Dia memberikan jus satunya untuk Lino. Dan satu lagi itu miliknya.
Teman segeng Lino hanya melirik kedatangan Jingga tadi. Tapi Jingga hanya acuh dan melanjutkan aktivitas makannya lagi.
"Ekhm!" Suara deheman itu dari Lino.
Berusaha mengalihkan atensi teman-temannya yang masih melirik Jingga di sampingnya. Semua jadi gelagapan karena deheman keras itu
"E-e Arthur, sama sekolah sebelah gimana?" Tanya Vernon memulai pembicaraan.
Semua yang ada di sana terkecuali Jingga menyimak. Menunggu respon si ketua geng-nya. Lino atau kerap mereka panggil Arthur.
"Abis sekolah kita samperin" ucapnya datar.
"Sip lah." Jojo mengacungkan jempolnya.
"Sip ndasmu!" Yuvin menoyor kepala Jojo.
"Ya lo apa SIH!?" Jojo yang tersakiti nge-gas bertanya.
"Ya kamu sih salah, Jo. Orang mau tawuran malah di-Sipin." Kim yang gemas menimpali.
Jojo yang terpojokan menatap--melotot ke kedua temannya itu bergantian. Sedangkan teman mereka yang bernama Tag cuma diam di pojok-- menyenderkan kepalanya ke dinding. Nyimak saja tanpa mau nimbrung.
☆☆☆
Jingga sudah bersama Cindy. Kelas mereka baru saja selesai pelajaran. Cindy mendudukan dirinya di meja Jingga. Menunggu si empunya meja selesai membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
"Jingga, gue ke rumah lo, boleh?" Tanyanya menatap Jingga.
Jingga mencerna dan coba memikirkan permintaan Cindy itu.
"Nanti kalau Lino datang, lo nggak suka" ujar Jingga.
Cindy mendesah sebal. "Lo usir lah kalau dia mau ke rumah lo"
"Kalau gue berani. Lo tau kan gue takut sama Lino?" Jingga berkata.
"Apa sih yang lo takutin dari manusia songong itu? Lo tuh harus berani, Ga"
"Iya iya. Besok-besok" ucap Jingga sudah menyampirkan tasnya di pundak.
Ia berjalan lebih dulu dan meninggalkan Cindy di tempatnya.
"Ditinggal woy!" Oceh Cindy yang baru ngeh.
Jingga terkekeh dan menoleh ke belakang.
"Ayok"
Cindy meloncat kecil turun dari meja dan menyamakan posisinya dengan Jingga. Ia lalu merangkul pundak Jingga. Cindy ini memang agak tomboy. Bahkan kadang sudah mirip preman kalau nimbrung di geng anak cowok. Bertolak banget sama Jingga yang kalem dan ceweknya feminin.
"Heh.. tuh pangeran lo si brengsek," bisik Cindy tepat di depan telinga Jingga.
Jingga menunduk sebelum berani menatap cowok di depannya.
"Nih.."
Lino melemparkan tasnya. Dan sudah jelas Jingga juga langsung menangkapnya. Cindy mencelos dalam hati. Dia sudah misuh-misuh tanpa suara. Geram gitu melihat teman satu-satunya diperbudak Lino.
