Chensung area Δ
•
•
Chenle memastikan dirinya dalam keadaan baik dan berbaju seindah mungkin. Bukan dia ingin menyita semua perhatian agar tertuju padanya, namun dia harus terlihat bahagia bukan di pernikahan kekasih atau mantan kekasih nya?
Ya, Chenle bahagia. Meski satu titik dia begitu kecewa.
Dia bahagia. Tapi dia tidak ingin munafik, bahwa dia sangat kecewa.
Dia berkaca, meski justru matanya yang yang berkaca-kaca. Sudahlah, seharusnya dia tidak selemah ini.
"Kita tidak usah berangkat, cukup Jeno saja."
Renjun yang sedari tadi duduk diranjang, masih setia memantau keadaan Chenle yang memang terlihat baik-baik saja. Tapi, mata tidak pernah berbohong bukan? Sekalipun kau memberikan senyuman paling indah, jika mata bersendu tetap terlihat jua.
Dan Renjun merasakan itu. Merasakan luka dimana mata yang biasanya berbinar itu kini kembali meredup.
Sekuat apapun Renjun menahan Chenle untuk tidak pergi, gelengan lelaki manis itu lebih kuat. Dia bisa, dia pasti kuat bukan? Memberi makna tanpa berkata, bahwa dia ingin melihat Jisung, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Aku ingin melihat Jisung hyung. Setidaknya untuk terakhir kali."
Jangan lagi. Renjun menggeleng. Dia yakin Chenle masih punya kesempatan untuk menemui Jisung dilain waktu. Renjun yakin itu.
"Baiklah, kau lebih mampu dari perkiraanku."
Renjun membalikkan tubuh Chenle menghadapnya. Memeluk erat hingga kini ia yang menyisakan isakan-isakan kecil. Renjun takut. Sangat takut Chenle terluka dan pergi. Renjun juga akan ikut terluka. Ingin membenci Jisung, namun siapa dia? Bahkan dia tak tau Jisung yang mana dan siapa. Sayang sekali, dia tidak bisa membunuh Jisung, agar lelaki itu tidak melangsungkan pernikahan nya hari ini.
•
•
Tanpa diketahui, dibalik pintu Jeno menangis. Ikut terisak sepanjang air mata Chenle dan kekasihnya jatuh. Kenapa semua terjadi pada Chenle? Kenapa takdir senang sekali membuat jalan cerita yang menyakitkan?
Kenapa si pria brengsek itu melupakan Chenle?
Padahal si pria mungil ini berjuang hidup untuk pulang kembali, pulang pada dekapan lelaki jangkung itu.
Jeno juga ingin membunuh Jisung saat ini saja. Karna Jeno tau, bagaimana kisah Chenle dan Jisung. Seharusnya Jeno bisa membunuh saat ini.
Kenapa Renjun dan Jeno tidak jadi psikopat saja? Agar Jisung tidak lagi melangsungkan pernikahan nya? Pasti seru jika Jisung mati, bukan?
•
•
Jaemin menerima uluran tangan ayahnya. Tuxedo putih yang ia kenakan membuat wajah manisnya semakin bersemu. Rasa bahagia yang dia rasakan sungguh menyesakkan dadanya. Berjalan diantara pasang mata yang menatapnya takjub, membuat dia semakin bersemangat untuk menghadap pada lelaki tampan yang sudah berdiri di atas altar dengan seorang Pastur.
Sedang pemuda tampan yang sedang menatap Jaemin, jantung nya sudah bergemuruh kencang. Keringat dingin mulai mengalir. Bukan karna bahagia atau senang. Jisung resah, entah kenapa. Padahal hari-hari kemarin dia yakin jika dia mencintai Jaemin, calon istrinya. Akan bisa bersanding dengan lelaki manis yang berjalan dengan anggun. Menghampirinya.
Siapapun, tolong bantu Jisung dalam keresahannya!
•
•
Sama hal nya dengan lelaki manis yang digandeng oleh dua lelaki lain yang selalu setia disamping nya.
Mengelus lembut punggung tangannya, Renjun menyampaikan segala rasa ketenangan yang memang Chenle butuhkan. Terlihat jelas dengan tangan mungil Renjun yang ada disampingnya.
Didepan sana, Jisung tampak berdiri tegak.
Chenle rindu wajah itu. Rindu tubuh tegap itu. Rindu Jisung nya.
Bisa saja Chenle maju kedepan dan menghambur memeluk pemuda jangkung itu, jika urat malunya sudah putus. Namun, dia masih waras untuk melakukan hal konyol yang justru akan menurunkan harga dirinya itu.
Dadanya sesak, karna rindu yang memenuhi paru-paru nya. Rindu nya sungguh membuncah kuat. Dia tak sanggup, dia sangat merindukan Jisungnya.
Pertahanannya runtuh saat menatap Jisung kembali. Apakah dia sanggup hidup tanpa Jisung?
Alibi apalagi yang akan dia katakan pada malaikat ketika dia akan mencabut nyawanya? Jika sekarang, alasan itu justru yang akan membuatnya mati.
"Jisung.. Jisung.."
•
•
Chenle bukan manusia egois. Dan tidak harus menjadi egois bukan? Ini salahnya yang pergi tanpa memberitahu Jisung. Ini salahnya yang menghindari kontak dengan pria jangkung itu. Ini semua salahnya. Dan dia tidak harus merasakan pedih lagi. Karna dia tau, yang lebih terluka disini adalah Jisung nya.
Untuk itu dia ikut tersenyum saat arah pandang nya menyapu seluruh gereja.
Oh, hatinya terluka. Dari sekian hari-hari yang pernah ia lalui, dia bersumpah hari ini adalah hari paling menyesakkan. Paru-paru nya yang tidak bisa bernafas karna sesak oleh luka dan rindu yang menempatinya.
Dia bisa saja bahagia jika Jisung nya tersenyum. Namun, hatinya terenggut saat tidak mendapati wajah bahagia Jisung nya. Dia datang kesini, untuk melihat senyum Jisung setidaknya. Namun, kenapa wajah Jisung terlihat resah.
Hidup bersama Jisung selama 4 tahun membuat nya tau banyak ekspresi yang selalu dia tunjukkan. Dan saat ini Jisung terlihat resah, entah mengapa wajah itu membuat Chenle kembali bersedih. Padahal dia sudah menekadkan hatinya, untuk baik-baik saja.
Dia hanya ingin melihat senyum Jisung. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Entah kenapa mata Jisung bergerak gelisah. Enggan menatap Jaemin yang seolah berjalan lamban. Slow motion. Meski sekarang Jaemin terlihat begitu manis, tapi tidak baginya. Karna sekarang wajah itu sungguh mengerikan.
•
•
Matanya bergerak. Mengamati setiap wajah yang menatapnya. Ada kakaknya, Park Taeyong yang bersanding dengan dengan Jaehyun yang memeluk pinggangnya mesra. Mommy dan Daddy nya yang justru semakin melebarkan senyum nya, saat dirinya jauh terluka. Semua bahagia,
Kecuali...
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Snow December [jichen] END
Fanfiction[ORIGINAL STORY BY : @hyuckers] Akhir dari segala cerita Desember.. Jisung pergi, tanpa bantahan dari kekasihnya. Namun siapa sangka, justru sang kekasih yang lebih dulu pergi? BxB!
![Snow December [jichen] END](https://img.wattpad.com/cover/217940343-64-k586809.jpg)