Sequel

5.3K 524 108
                                        

Deru nafas yang tak beraturan kembali terdengar. Dadanya membuncah karna perasaan rindu yang mendalam. Tetesan air mata yang bercampur dengan hujan hari ini sudah jelas menandakan bahwa langit juga ikut menangis karna kesedihan sang pria.

Dalam dekapnya, bocah berusia 4 tahun menatap kosong pada pusaran tanah. Meski begitu, ada air mata yang mengalir pada pipi gembil sang anak.

Park Chenji hidup dengan baik meski tanpa dad nya. Sang ibu mengajarkan ketegaran pada setiap cemooh orang-orang yang menanyakan keberadaan dad nya. Park kecil akan menjawab 'dad berada di surga. Kalian jangan menanyakan nya. Dia sudah tenang dalam dekapan Tuhan.'

Begitu tegar si kecil, walau disetiap malam nya anak tampan itu menangis. Merindukan dad nya meskipun dia sama sekali tidak tau menahu tentang sang ayah. Setiap bercermin dia melihat wajah ayahnya. Ya, bagaimana jika tidak wajah si kecil benar-benar Jisung sekali. Anak Park Jisung sesungguhnya.

Sejak kecil, Chenle tidak membodohi anaknya. Dia mengatakan secara gamblang jika ayah dari anaknya sudah dipanggil Tuhan. Dia hanya menginginkan ketegaran dari sang anak.

Dia benar-benar dalam keadaan sehat setelah melahirkan. Seolah Tuhan tidak ingin membiarkan Park kecil hidup sendirian. Seolah Tuhan menguatkan Chenle untuk menjaga anaknya, malaikat Jisung dan Chenle.

"Mom, apa dad merindukan kita?"

Pertanyaan yang manis. Namun membuat dada Chenle membuncah karena perasaan rindu yang semakin menyesakkan nya. Dia kembali menangis. Mendekap si manis, yang ikut terisak dalam dekapnya. Mengeratkan seolah menguatkan si kecil untuk tetap tegar, meski dia sendiri jatuh sakit.

Chenle hampir kehilangan arah saat tau Jisung meninggal. Dia hampir membunuh dirinya sendiri jika si manis tidak menangis, seolah menahan nya. Pada malamnya, dia pasti mendapati Jisung yang hadir dalam mimpi nya.

'Jangan pergi. Park Chenji butuh ibunya.'

Begitu Jisung bicara. Dan Chenle kemudian akan sadar. Hingga sekarang, Chenle benar-benar hidup baik. Menjadi seorang pemilik restauran membuat hidup dia dalam keadaan baik.

Tuan Park memberikan seluruh warisan nya pada cucu dari Jisung itu. Karna Park Taeyong bukan lah lelaki spesial. Yang berarti semua warisan didapatkan oleh Park Chenji. Chenle sempat menolak, namun dia tetap dipaksa Tuan itu. Hingga akhirnya dia baik-baik saja dan menerima semua nya.

Renjun juga lelaki spesial sepertinya. Dua anak kembar nya lebih tua beberapa bulan dari Park Chenji. Mereka bersahabat baik. Menjaga Chenji layaknya seorang adik. Persahabatan mereka layaknya Renjun yang begitu menyayangi Chenle. Begitulah hidup mereka.

Na Jaemin, masih sendiri. Selama beberapa tahun sama jatuhnya dengan Chenle karna kematian Jisung, pemuda Na itu akhirnya bangkit dan memilih hidupnya sendiri. Menyendiri.

Keluarga Jisung, sepenuhnya menerima mereka -Chenle dan Chenji- mereka merasa bersalah. Dan yang lebih besar adalah mereka yang begitu mencintai Park Chenji yang begitu mirip dengan Jisung.

"Dad sangat merindukan kita. Seperti rindu kita yang tidak akan pernah habis."

Chenle terdiam. Mengusap dan mencium puncak kepala sang anak. Membenarkan letak jaket sang anak. Dia sengaja mengajak sang anak untuk pergi ke makam ayah dari anak itu. Sebenarnya Chenle menolak anak nya untuk ikut, tapi sang anak seperti nya merindukan ayahnya.

"Chenji percaya."

Sang anak mengangguk. Kini dia berbalik. Menyembunyikan tangisan nya pada dada sang ibu. Dia terisak semakin kencang saat dia merasakan jantung sang ibu yang bertalu dengan cepat.

"Panjatkan doa untuk dad."

Perintah sang ibu membuat Chenji kembali membalikan badannya. Dia memandang pusaran itu dan menyatukan tangan nya.

'Chenji merindukan dad, mencintai dad. Kembali pun itu tidak mungkin kan? Maka beri seseorang agar mom bahagia. Agar hidup kami merasa lengkap.'

Park kecil mengangguk. Seolah mengatakan pada semua makhluk bahwa ia kuat bahwa ia tegar.

'Ji, lihat bagaimana tegar nya anakmu. Tetaplah di hati kami, Ji kami merindukanmu.'

Ibu satu anak itu menggenggam tangan sang anak. Kembali memandang pada pusaran itu sebelum pergi melangkah. Melamun sebentar sebelum sadar bahwa sang anak tidak lagi ada dalam genggaman tangan nya.

Dia terkejut, dan kalut. Mengedarkan pandangan nya, dan yang ia dapatkan adalah anaknya yang mengejar seseorang. Seseorang dengan balutan tubuh yang begitu ia hafal.

"Dad!"

Teriakan sang anak menyadarkan nya. Dia menengang. Bagaimana bisa anak nya memanggil dad pada orang lain? Sementara ayah kandung nya sudah berada di samping Tuhan.

Lelaki yang dikejar, yang membuat Chenle menegang itu kemudian berhenti. Membalikkan badannya dan terkejut saat seorang bocah memeluk kakinya. Dahinya berkerut rumit. Apalagi saat sang anak memanggil dia dengan panggilan dad.

Dengan cepat Chenle berlari. Membawa sang anak dalam gendongan nya, dan membungkuk. Bersikap seolah biasa saja, padahal jelas jantung nya sudah berdetak cepat. Rasa nya ia ingin kembali menangis, namun ia harus kuat untuk anak nya.

"Maafkan anak saya. Dia begitu merindukan ayahnya."

Chenle menunduk dalam. Berusaha sesopan mungkin. Namun saat dia mendongak yang ia dapatkan adalah senyuman manis, senyuman paling tampan yang begitu ia rindukan. Senyum teduh yang biasa nya menguatkan nya kini membuat dia lemah.

Lelaki tinggi itu kemudian terkekeh. Membawa Chenji dalam gendongan nya saat si kecil berontak dari ibunya. Dia memeluk Chenji yang menyembunyikan wajahnya pada leher lelaki itu.

Chenle terkejut, tentu saja. Tidak mungkin. Tidak mungkin! Dia ingin berteriak dan mengambil anaknya kembali, namun aneh nya dia tak bisa. Tubuhnya kaku, dan wajah nya benar-benar blank.

"Hi, your sons like me?"

Tidak! Chenji memang ramah. Tapi tidak dengan orang yang pertama ia kenal. Bahkan mereka bertemu dalam beberapa menit ini. Chenle tersenyum canggung. Dia ingin membawa anaknya, namun sang anak semakin mengeratkan pelukan nya pada lelaki tinggi itu.

"Tak apa, biarkan begini. Namaku


























Peter Park. Panggil saja Jisung. Salam kenal."








End

Tamat❤

Makasih yang udah baca dan coment..

Makasih juga untuk author (penulis asli) yang mengizinkan cerita ini aku remake☺

Snow December [jichen] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang