I can't let go🎵
Broken yet holding on🎵
To you, to us🎵
This love is too strong🎵
For me to let go🎵
Broken yet holding on🎵
Aku tidak bisa pergi, rusak namun bertahan. Untuk kamu, untuk kita. Cinta ini terlalu kuat, untuk aku lepaskan. Rusak, namun bertahan🎶
Chensung areaΔ
.
.
Seakan tahu apa yang dirasakan oleh orang yang disayangi Tuhan, langit menangis dengan salju yang tak henti membahasi setiap tanah Seoul. Bukan tanpa alasan, air mata yang dikeluarkan dua orang itu suci dan bersih, maka tidak ada alasan untuk hujan yang membuat orang lain ternodai.
Pemuda tampan itu datang dengan wajah yang kusut. Jisung terdiam, memandangi Chenle dalam pelukan Renjun. Itu sudah biasa memang, namun yang menariknya saat ini adalah tangisan dari kedua adik dan kakak itu. Tatapan nya teralih pada Jeno yang memang sedang menatap nya.
Tatapan yang entah kenapa selalu membuat dia ingin melubangi tempat dan seketika mengubur diri disana. Entah kenapa, dari awal Jeno memang tak pernah menyukai nya. Ya, memang seharusnya seperti itu. Jisung sadar diri. Jeno tentu tidak ingin Chenle kembali terluka, Jisung tau betul itu. Namun apapun yang dia ketahui sekarang tidak membuat dia menyerah. Dia kembali menorehkan luka. Seakan Chenle baik-baik saja. Seolah Chenle tidak tahu apa yang terjadi.
Tepukan halus yang terusak lembut di bahunya membuat Renjun mendongak. Menatap malas pada Jisung yang sudah ada disamping Chenle. Tanpa berkata apapun. Jeno mengusap pelan rambutnya, memberi isyarat agar dia pergi dari tempat itu.
Sebenarnya Jisung gugup setengah mati. Pasalnya, dia tau sedari tadi Jeno dan Renjun ada di kafe tempat dia bertemu Jaemin. Mungkin Jeno dan Renjun memberitahu Chenle. Dia tidak bisa berpikiran jernih. Yang harus dia lakukan saat ini hanya menyusun kata untuk menjelaskan atau berbohong? Ada Chenle yang kini masih terisak.
"Kami mencintaimu. Kau tau itu."
Chenle mengangguk. Kembali memeluk Renjun yang hendak beranjak.
"Aku harus pulang. Jisung sudah datang. Kau hidup lah bahagia."
Kembali, Renjun mengusap punggung yang lebih muda. Mengisyaratkan bahwa Chenle tidak sendiri. Tidak dengan luka nya. Mereka disini, bersama dia dan akan selamanya seperti itu. Membela Chenle dalam keadaan serapuh apapun.
Pada akhirnya, Chenle mengangguk. Melepaskan dekapan nya dan memandang Renjun lekat.
"Datanglah kembali. Entah kenapa, aku takut terluka."
Genggaman tangan Renjun mengerat, seiring air mata yang kembali mengalir. Jika mereka tidak melihat Jisung yang mencium Jaemin, tidak akan sesakit ini. Mereka setidaknya akan berpikir positif. Namun alasan apalagi yang kau dapat saat seorang mantan yang kembali mencium mantan nya? Persahabatan? Persetan dengan persahabatan! Tidak ada sahabat yang mencium sahabat nya semesra itu!
Wajar bukan jika Renjun terluka? Sedang sang adik justru paling terluka.
"Telepon aku jika terjadi sesuatu. Aku akan datang, atau membawa mu pergi kembali."
"Renjun!"
Jisung menyela. Mendorong tubuh Renjun yang dengan mudah Jeno menangkap nya. Chenle berjengit, Renjun juga. Sedang Jeno hanya mengeraskan rahang nya. Membawa kekasihnya dalam dekapan, menenangkan. Renjun sudah bergetar, bukan hanya ketakutan. Namun, dia ingat jelas bagaimana Jisung mencium Jaemin. Dan itu menyakiti dia yang tidak bisa membawa Chenle saat ini juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Snow December [jichen] END
Fanfiction[ORIGINAL STORY BY : @hyuckers] Akhir dari segala cerita Desember.. Jisung pergi, tanpa bantahan dari kekasihnya. Namun siapa sangka, justru sang kekasih yang lebih dulu pergi? BxB!
![Snow December [jichen] END](https://img.wattpad.com/cover/217940343-64-k586809.jpg)