"Dasar si Gia kampret. Kenapa baru ngasih tau gue kalau si Tae sakit. Kalau gitu gue kan bisa nganter si Tae pulang. Ini malah ngerepotin si Awan. Istri macam apa gue."
"Erin!!!" teriak seorang pria yang kemudian memberhentikan sepeda motornya.
"Mau pulang?"
"Lu gak liat gue buru-buru mau pulang kayak begini? Pake ditanya." jawabnya sembari berjalan tergesa-gesa.
"Biar gue anter. Cepet naik."
"Masa gue harus nebeng sama si Arkan siluman biadab ini? Tapi gakpapalah. Gue harus cepet pulang liat si Tae."
Erin pun naik ke atas motor pria tersebut yang tak lain adalah Arkan.
"Rumah lu dimana?"
"Lurus aja. Nanti gue kasih tau."
"Nanti malem lu ke acara ulang tahun Selia sama siapa? Sama Tae?"
"Gak usah banyak nanya. Jalan aja cepet."
"Kesel banget gue sama makhluk satu ini. Dulu kampretnya naudzubillah. Lah sekarang sok perhatian nanya-nanya. Apa dia mau bikin gue suka sama dia lagi? Tahan Rin...Walau dia sekarang baik, tapi dia benci lu. Gue gak boleh kayak orang gila lagi karena suka dia."
"Gue gak tau harus ke acara ultah Selia sama siapa." ucap Arkan.
"Cewek yang deket sama lu kan banyak tinggal lu pilih. Ke acara ultah itu nenek lampir emang wajib bawa pasangan? Kayak mau ke kondangan aja."
"Ya nggak juga sih. Tapi masa gue harus sendirian ke sana."
"Ajak emak lu. Gitu aja susah. Udah fokus jalan aja jangan banyak curhat."
Arkan hanya tersenyum sambil menjalankan motornya.
Langit terlihat mendung, rintik-rintik hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras.
Arkan memarkirkan motornya di depan rumah Tae.
"Arkan lu mau masuk ke rumah dulu? Hujannya tambah gede."
"Gak usah Rin, gue langsung pulang aja kebetulan gue ada urusan."
"Lu gak pake jaket? Tunggu dulu di sini."
Erin pun masuk ke dalam rumah dan tak lama ia keluar kembali dengan membawa jaket.
"Ini jaketnya si Tarran. Pake aja, dari pada lu sakit."
"Tarran?"
"Iya Tarran, adik gue."
"Oh. Makasih Rin. Gue pergi dulu ya." Pamit arkan yang kemudian pergi menjauh.
Erin berlari masuk ke dalam rumah. Terlihat seseorang berbaring di atas sopa dan berselimut. Ia kemudian membuka selimut dan memeriksa dahinya.
"Apaan sih lu pake pegang-pegang gue?"
"Tarran!? Ish gue kira si Tae. Ngapain lu disini? Tae mana?"
"Gue lagi tidur. Si Tae ada di kamarnya. Udah pergi sana, ganggu aja lu." Ucap Tarran yang kemudian menyelimutkan kembali selimutnya.
"Dasar ngambekan. Siapa suruh mukanya kayak si Tae. Susah amat punya suami upin ipin."
Erin berjalan menuju kamar . Dengan perlahan pintu kamar ia buka. Terlihat Tae sedang berbaring di atas kasur tanpa selimut. Ia pun menyelimutinya dan segera berganti pakaian.
"Tae kayak nya beneran sakit."
Setelah itu ia pergi ke dapur dan membuatkan sesuatu untuk Tae. Tak lama kemudian Erin kembali ke kamar dengan membawakan semangkuk bubur dan segelas air. Namun Tae tak berada di kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Idiot Husband [END]
Ficção AdolescenteTAHAP REVISI [Bahasa no baku] "Mukanya sih cakep kagak ketulungan. Kulit putih, idung mancung, tinggi kek tiang listrik, apalagi bibirnya itu loh, ukhhh merah menggoda. Tapi sayang idiot. Idiot dan bikin gue stres. Begitulah bentukan suami gue. Cowo...
![My Idiot Husband [END]](https://img.wattpad.com/cover/208259840-64-k69814.jpg)