"Mau kemana?"
"Ketemu Arkan. Katanya dia mau ngajak gue makan malem. Lu gak ada janji ketemu sama Anna?"
Tak ada jawaban dari pertanyaan Erin. Tae diam membisu.
"Oh gak ada. Yaudah lu jagain rumah aja. Gue nitip mamah ya. Gue pulang agak malem."
"Mau gue anterin?"
"Lu mau nganterin gue ketemu Arkan? Gak usah. Dia bakal jemput gue ke sini."
Ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Entah apa yang ia pikirkan, namun langkahnya terlihat berat.
"Hati-hati di jalan." ucap Tae melambaikan tangan.
"Kenapa lu gak ngelarang gue ketemu dia? Seengganya hentiin langkah gue. Lu rela istri lu yang cantik ini berduaan sama cowok lain?"
Brak..
Erin menutup pintu dengan keras sampai seisi rumah terasa bergetar. Wajah Tae terlihat terkejut. Apa ia salah bicara?
Ia terdiam sejenak. Hingga ia berjalan dan duduk di atas sofa di belakangnya. Punggungnya bersandar pada sofa yang terlihat empuk. Tatapan matanya yang kosong menandakan ia sedang memikirkan sesuatu.
lamunannya tiba-tiba hilang ketika ibu mertuanya berlari ke arah Tae dengan raut wajah yang panik.
"Tae! Kenapa kamu gak jawab telepon?"
"Ada apa mah?"
"Tarran bilang ibumu semakin kritis. Sekarang kamu cepat ke rumah sakit. Ayo mamah antar. Erin!!!! Erina!!! Ish dasar anak nakal, dipanggil orang tua gak jawab."
"Erin gak ada di rumah. Mamah di sini aja, biar Tae berangkat ke sana sendiri."
Tae berlari menuju kamarnya. Ia mengambil jaket yang tergantung di balik pintu dan berlari kembali ke arah pintu keluar.
"Hati-hati di jalan." ucap Ibu mertuanya sembari memberikan kunci mobil di tangannya. "Jangan panik."
Tatapan mata Tae terlihat sendu. Ia kemudian berlari panik menuju mobil. Mobil ia pacu dengan sangat kencang. Tak menghiraukan jalan yang terlihat ramai, Tae tetap memacu mobilnya itu.
Jarak yang cukup jauh membuatnya semakin panik. Matanya terus melirik ke arah jam di tangannya. Sekencang apa pun ia memacu mobil, masih terasa lama baginya untuk sampai di rumah sakit.
Setengah jam telah berlalu. Akhirnya Tae sampai di tempat tujuan. Ia berlari ke dalam rumah sakit. Lorong demi lorong ia lewati, hingga ia melihat Tarran sedang duduk termenung.
"Mamah baik-baik aja kan?" ucap Tae dengan napas terengah-engah.
Kepala Tarran yang tertunduk perlahan mulai melihat kearahnya.
"Kenapa lu gak datang dari tadi sialan?!!" bentaknya yang tiba-tiba menarik kerah baju Tae. "Mamah udah gak ada. Itu semua karena gue. Kenapa lu gak datang lebih awal? Ceritain semua kebohongan lu itu. Bilang sama dia kalau gue yang salah! Kenapa sampai dia meninggal pun, dia masih benci lu? Seengganya gue mau dia tau semua kebohongan lu dan gak benci lu lagi. Kenapa lu biarin gue hidup kayak gini Reiki!!!!!!"
Tae tak bisa berkata apa-apa. Tarran pasti sedang marah dengannya. Tak biasanya ia memanggil Tae dengan sebutan Reiki.
Tak bisa dipungkiri, Tae kini pasti sangat terpukul. Ibu yang telah melahirkannya telah tiada. Jerih payah yang ia lakukan agar mendapat kasih sayangnya telah sirna. Cita-cita itu tak akan pernah terwujud. Tae tak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya itu.
Tarran akhirnya memperlihatkan sosok dirinya yang asli. Rasa tertekan dan keinginannya hidup bahagia sebagai keluarga telah hilang juga. Hidup di balik topeng yang terlihat bahagia memanglah sulit. Keluarga yang penuh kebohongan membuat Tae dan Tarran hidup tak sesuai dengan keinginannya.
Tarran sosok pria ceria dan terlihat tak memiliki beban hidup sebenarnya adalah pria yang rapuh.
Wajah Tarran terlihat marah dengan mata yang sembab. Tak kuasa menahan rasa kesalnya, Tarran hendak melayangkan kepalan tangannya pada wajah Tae.
Tae memejakan mata, terlihat air mata mengalir dari sela matanya.
Tiba-tiba layangan tangannya berubah menjadi pelukan erat terhadap Tae. Tapi Tae hanya terdiam tak bersuara.
"Lu jangan diem aja Tae!! Ngomong sesuatu! Jangan bikin gue panik."
Tae tetap terdiam.
"Ikut gue!" Tarran menarik tangan kakaknya itu untuk melihat ibunya yang belum dipindahkan ke kamar jenazah.
Seseorang terlihat keluar dari ruangan tersebut. Tuan Takumi melihat Tae dengan penuh kemarahan. Matanya berapi-api, seakan-akan tak suka melihat kehadiran anak sulungnya itu.
Bughh..
Suara pukulan terdengar sangat jelas. Pipi Tae terlihat memerah dengan darah yang keluar dari sela bibirnya. Apa yang salah dari Tae hingga ia diperlakukan seperti itu?
"Pukul Tarran pah. Pukul Tarran!!! Kenapa papah cuma melampiaskan kemarahan sama Tae? Padahal Tarran yang salah."
"Minggir kamu! Jangan halangi papah untuk menghajar berandalan seperti dia."
Tarran menghela napas panjang.
"Tuan Takumi yang sangat saya hormati. Tolong jangan membuat masalah disituasi seperti ini. Minggir!!" teriak Tarran sembari menarik Tae masuk ke dalam ruangan.
Kamar tempat ibunya berbaring kini sangat hening. Seseorang terbujur kaku di atas ranjang ditutupi kain berwarna putih.
Perlahan Tae membuka kain yang menutupinya. Wajah ibunya yang memucat terlihat sangat cantik.
Air matanya tak terbendung. Tae menangis sembari memeluk jenazah ibunya. Suasana yang sangat memilukan dan menguras air mata.
"Mamah gak bisa nyoba bunuh Tae lagi ya sekarang? Tae rela mamah nyakitin Tae, tapi jangan tinggalin kita kayak gini. Maafin Tae mah, Tae yang salah."
"Diem lu sialan!! Jangan nyalahin diri lu karena kesalahan gue!!"
Emosi Tarran tak terbendung ketika mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Tae. Ia seakan-akan ingin menghajar saudaranya itu dengan kepalan tangannya.
"Pukul gue Tarran kalau itu yang ngebuat lu tenang."
__________________________________________________
KAMU SEDANG MEMBACA
My Idiot Husband [END]
Novela JuvenilTAHAP REVISI [Bahasa no baku] "Mukanya sih cakep kagak ketulungan. Kulit putih, idung mancung, tinggi kek tiang listrik, apalagi bibirnya itu loh, ukhhh merah menggoda. Tapi sayang idiot. Idiot dan bikin gue stres. Begitulah bentukan suami gue. Cowo...
![My Idiot Husband [END]](https://img.wattpad.com/cover/208259840-64-k69814.jpg)