"Wah gue bener-bener bakal gila hari ini? Bisa-bisanya mereka nembak gue sesantai itu. Kok bisa mereka suka gue? Apa gue secantik itu? Ah muka gue biasa aja, gak cantik-cantik amat. Gila kali ya, gue kan udah punya suami tapi mereka berani nembak cewek yang bersuami. Dunia macam apa ini? Bener kata orang kalau cewek bersuami lebih menarik. Wah menarik banget gue ya." gerutunya sambil berkaca di depan cermin.
Tiba-tiba seseorang memasuki kamar dan duduk di atas kasur. Raut wajah suaminya hari itu terlihat sedang tidak baik. Ia melamun dan memikirkan sesuatu. Erin hanya bisa memandangnya tanpa menanyakan apa pun.
"Kalau itu yang Erin mau, Tae yang bakal urus, kita cerai secepatnya."
Erin hanya terdiam mendengar perkataan Tae. Dari lubuk hatinya ia tak ingin semua ini terjadi. Namun, ia terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya. Hatinya masih tak tentu. Siapa yang sebenarnya ia sukai? Ketika melihat Arkan hatinya masih berdegup kencang, tapi kini ia merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Tae. Setiap saat ia ingin disampingnya, melihatnya, dan merasa nyaman ketika Tae bermanja kepadanya. Sesuatu yang lebih dari sekedar suka.
"Erin pasti gak nyaman tinggal sama Tae. Tae juga selalu ngerepotin Erin. Pasti Erin juga mau hidup sama lelaki yang bisa ngelindungin Erin, kayak Arkan. Dari awal ini cuman nikah boongan. Gak seharusnya kita tidur sekamar. Mulai sekarang Tae bakal tidur di kamar lain." sambungnya.
Tae mulai berdiri dan menghampiri istrinya. Ia memberikan sebuah kartu. Erin terus menatap Tae dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ini ambil. Seengganya Tae harus nafkahin Erin sebelum pisah. Dari awal nikah Tae belum pernah ngasih apa-apa." ucapnya yang kemudian berjalan pergi.
"Maafin gue Tae."
Erin menggegam tangan Tae dengan Erat. Air matanya mulai jatuh. Ia menangis tanpa malu Tae melihatnya. Ia kemudian mendekati istrinya dan menghapus air matanya. Tae tak memahami perasaan istrinya saat itu. Apa yang dipikirkan Erin? Tae mencoba menghibur istrinya itu. Ia memeluknya dan mencoba menenangkan Erin hingga akhirnya ia nampak tenang dan berhenti menangis. Tae mendekat dan mencium pipi istrinya. Erin terkejut dan terdiam. Tae hanya tersenyum. Tiba-tiba Erin memeluk Tae tanpa memberikan kesempatan untuknya melepaskan diri.
"Gue pasti bakal kangen sama lu Tae. Gue sayang lu."
Tanpa menghiraukannya, Tae langsung melepaskan pelukan Erin dan berjalan pergi.
....
Malam telah berganti pagi. Erin masih terbaring di tempat tidurnya. Tak ada semangat sedikitpun. Matanya yang sembab dan tatapan kosong seakan-akan nyawa tak berada di dalam raganya.
Krietkk suara pintu dibuka. Seseorang memasuki kamar. Erin langsung memejamkan matanya kembali.
Tae mulai menghampirinya, namun tak berani membangunkan istrinya itu. Ia mengambil pakaian lalu pergi dan menutup pintu.
Erin pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia bergegas keluar kamar. Terlihat Tarran sedang duduk sembari menatapnya. Seakan tak ingin bertemu Tarran, ia langsung berlari ke kamarnya lagi.
"Lu kenapa? Mau ngehindar dari gue?" ucap Tarran menghentikan langkah Erin.
"Gue bilang gak perlu mikirin jawabannya. Gue gak butuh jawaban. Cukup lu tau perasaan gue. Jadi, jangan ngehindar. Itu bikin gue sakit hati." sambungnya.
"Gue bukan ngehindar. Gue cuman mau sendiri aja." jawab Erin.
"Awas kalau lu ngehindar lagi. Gue gak bakal biarin itu."
"Terserah lu Tarran kampret." Erin berlari kembali ke kamarnya.
"Untunglah dia gak mikirin perasaan gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Idiot Husband [END]
Dla nastolatkówTAHAP REVISI [Bahasa no baku] "Mukanya sih cakep kagak ketulungan. Kulit putih, idung mancung, tinggi kek tiang listrik, apalagi bibirnya itu loh, ukhhh merah menggoda. Tapi sayang idiot. Idiot dan bikin gue stres. Begitulah bentukan suami gue. Cowo...
![My Idiot Husband [END]](https://img.wattpad.com/cover/208259840-64-k69814.jpg)