Bab 17 (Apa Tarran Suka Erin?)

3.7K 261 14
                                        

"Wah gila nih orang, jalanin motor kagak kira-kira. Dia mau bunuh gue ya? Kayaknya nih makhluk punya dendam tersendiri sama si Tae." gerutunya sembari turun dari motor.

"Beneran gak mau gue anterin sampe rumah? Kenapa lu mau ke rumah sakit? Lu masih sakit Tae?" tanya Gia.

" Udah lu pulang aja. Kepala gue pusing banget gara-gara lu." jawab Tarran yang berjalan gemetar dan terlihat oleng.

"Eh, sakit sakit lu tambah parah ya? Mau gue anter sampe dalam?"
Gia kemudian turun dari motornya dan menghampiri Tarran. Namun Tarran langsung menyuruhnya pergi.
Wajahnya terlihat khawatir, tapi Gia tak bisa berbuat apa-apa. Ia menaiki motornya kembali dan bergegas pergi.

"Akhirnya tuh orang pergi juga. Kayaknya temen si Erin kagak ada yang bener. Kepala gue pusing amat. Untung gue gak kencing di celana, bisa-bisa jatuh harga diri gue yang mahal ini."
Tarran terus menggerutu sampai akhirnya ia melihat Erin termenung di sebuah lorong yang sepi sembari memeluk kedua kakinya.
Tanpa pikir panjang Tarran menghampirinya. Erin yang melihat Tarran datang langsung tertawa terbahak-bahak. Raut wajahnya yang sedih tiba-tiba ceria.

"Buset kaget gue. Lu kesurupan?" tanya Tarran panik sambil memastikan Erin baik-baik saja.

"Lu abis kesetrum atau kesamber gledek?" jawabnya sambil menunjuk rambut Tarran yang berantakan persis seperti orang yang telah tersetrum.

"Ah sialan lu. Jangan ketawa ! Bisa-bisa kegantengan gue luntur. Ini semua gara-gara temen lu si Gia, bawa motor kayak orang kesurupan. Untung gue pinter jaga image, kalau kagak dah rontok harga diri gue."

"Salah sendiri kenapa mau dibonceng si Gia. Dia kan pembalap." ucap Erin seraya merapikan rambut Tarran yang berantakan.

Tarran terdiam dan hanya menatap istri kakaknya itu. Ia mulai merasakan hal yang aneh. Entah apa yang Tarran rasakan, namun hari itu Erin terlihat sangat cantik. Erin yang biasanya kasar, cerewet, dan selalu marah-marah ternyata memiliki sisi lembut dan manis. Wanita yang berbeda dan menarik perhatiannya.

"Lu nangis?" tangan Tarran mulai meraih pipi Erin, ia menghapus air mata yang masih tersisa dipipinya.

"Eh, apaan sih lu!! Gue gak nangis. Lu mau ketemu Tae kan? Yaudah yuk kita ke kamar Tae sekarang." Erin berjalan tergesa- gesa meninggalkan Tarran yang terus menatapnya.

Pintu kamar mulai ia buka. Tae baru terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum ketika melihat Erin dan Tarran datang.
Erin melihat sekeliling kamar mencari Anna, namun Anna tak terlihat, entah kemana ia pergi.

"Kayaknya di sekolah banyak yang punya dendam tersembunyi sama lu Tae." ucap Tarran yang langsung duduk disampingnya.

"Dendam? Dendam Apa? Tae gak pernah punya masalah sama orang."

"Halah lu, mungkin lu gak nyadar bikin masalah nyampe orang punya dendam kayak gitu. Noh si Gia tadi mau ngebunuh gue karena pura-pura jadi lu."

"Tarran pura-pura jadi Tae lagi?" tanya Tae penasaran.

"Iya. Tadi gue sekolah ngegantiin lu. Gue kayak begini karena gue saudara yang baik. Tapi malah gue mau di bunuh sama temen si Erin." jelasnya.

"Dia bukan mau ngebunuh lu kampret. Dia emang pembalap. Lagian si Gia gak punya dendam sama Tae, tapi sebaliknya dia suka sama Tae." sahut Erin sambil tertawa.

Tae dan Tarran terlihat kaget mendengar hal itu. Mereka menatap Erin seakan-akan tak percaya.

"Si Gia bilang suka Tae sama lu? Wah gila tuh orang, nyalinya gede amat. Bilang suka suami orang sama istrinya. Kalau dijadiin film azab bisa sukses besar." ucap Tarran seraya bertepuk tangan. "Kok lu malah cengengesan suami lu ada yang suka? Lu gila ya?"

"Kenapa gue harus ribet. Terserah dialah mau suka siapa aja. Lagian dia sukanya elu bukan Tae yang asli."

Tae mulai tertawa mendengar hal itu. Ia tak kuasa melihat raut wajah Tarran yang kaget.
Baru kali ini Tae tertawa seperti itu, ia terlihat sangat bahagia seakan-akan tak ada beban di pundaknya.

"Buset, gue beneran gak percaya. Kegantengan bisa menarik banyak cewek jatuh cinta sama gue. Yaiyalah gue banyak yang suka, gue kan ganteng, kaya, asik, baik, imut, lucu, dan lain-ian. Wah gue emang beneran perfect ya." ucap Tarran memuji dirinya sendiri.

"Gue tabok juga lu Tarran. Muji diri sendiri gak kira-kira. Inget oi yang Gia suka itu Tarran dalam bentuk Tae. Jadi tetep aja dia gak tau lu Tarran."

Tarran memperlihatkan wajah dengan raut yang kesal. Pandangannya pun teralihkan ketika melihat tangan Tae yang terluka.
"Eh, tangan lu kenapa Tae?"

"Ah, ini kena pisau pas mau ngupas buah. Gakpapa kok."

"Gakpapa apanya? Lukanya pasti parah sampe di perban gitu. Ngupas buah kok bisa gini?" ucap Erin yang terlihat khawatir dan menghampiri Tae.

Raut wajah Tarran mulai berubah. Ia seakan tak suka melihat Erin khawatir pada kakaknya. Ia mencoba memalingkan wajah dan bersikap biasa.
Erin sangat khawatir dan terus memastikan Tae baik-baik saja. Tae hanya tersenyum bahagia sambil memeperhatikan istrinya itu.

Tiba-tiba Erin teringat ucapan Anna. Kata-kata menyakitkan yang terus terngiang di telinganya. Ia mulai terlihat gelisah.

"Tae, kapan kita cerai?" tanya Erin yang membuat Tae terkejut. Apa yang sebenarnya Erin pikirkan? Apa ia ingin segera bercerai dengan Tae?

"Kita gak usah terlalu lama pura-pura kayak gini. Lu pasti udah gak nyaman idup kayak gini. Jadi kita percepat aja perceraian ini." sambung Erin yang terlihat yakin.

"Heh!!! Apaan maksud lu? Lu mau cerai secepat ini? Lu gila ya? Lu gak mikirin perasaan suami lu?!!" bentak Tarran.

"Apaan sih lu?! Gak usah ikut campur, ini masalah rumah tangga gue!! Jadi, gimana Tae?"

Tae terlihat gugup dan tak tau harus menjawab apa. Ia seakan tak mau segera berpisah dengan istrinya. Apa Tae suka pada Erin? Namun Tae sadar diri, tak mungkin wanita seperti Erin suka padanya yang memiliki gangguan. Ia hanya tersenyum dan menunduk. Tae tak mengucapkan sepatah kata pun, ia terdiam tak bersuara.

Tarran yang melihat hal itu langsung menarik Erin keluar kamar. Ia membawanya jauh dari Tae. Untuk pertama kalinya Tarran terlihat sangat marah seakan-akan hatinya tersakiti. Tarran tak tau apa yang ia rasakan. Apa ia harus marah atau senang. Di satu sisi hatinya terasa bahagia ketika Erin ingin bercerai dari Tae, di sisi lain ia sangat sakit hati melihat kakanya tertunduk dan merasa tersakiti seperti itu. Perasaannya berkecambuk, namun Tarran sadar tak mungkin Erin menjadi miliknya.

"Lu apa-apaan minta cerai sama Tae saat keadaannya kayak gini? Lu mau dia drop lagi? Kalau lu gak suka dia bilang ke gue jangan langsung ngomong kayak gitu. Sakit gue liatnya!!"

"Kenapa sih lu selalu ikut campur urusan gue sama Tae? Ini yang gue mau, jadi lu jangan ikut campur."

"Kalau lu mau cerai, bilang dulu ke gue!! Gue yang bakal ngurus semuanya. Gak usah lu bebanin kakak gue kayak gitu."

"Heh! Gue yang mau cerai sama dia kenapa lu yang ribet?!! Gila ya lu? Kenapa semua orang suka banget ngusik kehidupan gue? Lu semua suka liat idup gue ancur?"

"Semua orang? Jangan bilang kalau Anna yang nyuruh lu cerai?"

"Iya, dia yang nyuruh gue cerai."
Erin pun menceritakan semua yang Anna katakan. Kata menyakitkan yang terus terngiang di telinganya. Raut wajah Tarran berubah, ia terlihat sangat marah. Emosinya terpancing, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Anna adalah sahabatnya dan satu-satunya orang yang tau semua rahasia keluarganya.

"Lu gak usah dengerin dia. Dia dari dulu emang suka sama Tae. Tapi gue tau Tae gak pernah suka sama dia. Mereka cuman sebatas teman masa kecil." ucap Tarran.

"Terserahlah gue gak peduli. Yang jelas gue mau cerai sama Tae."

"Lu gak inget perjanjiannya? Minimal lu harus bertahan sama Tae selama tiga bulan. Waktu lu masih lama."

"Gue gak peduli. Gue yang bakal urus semuanya." jawab Erin dengan yakinnya.

"Halah terserah lu. Dari pada lu sedih, mending ikut gue."

"Gak! gue capek." jawabnya seraya berjalan pergi.

"Yaudah besok aja gimana?"

"Iya iya."

"Janji ya?!"

My Idiot Husband [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang