Terdengar suara gorden dibuka. Seseorang berjalan kearahnya. Pipinya terasa dingin. Sebuah handuk basah mengenai wajahnya.
Ia bisa merasakan dan mendengar semuanya, tapi matanya sangat berat, bibir tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya terpejam seakan-akan tak sadarkan diri.
"Bangun!! Gue udah capek liat lu di sini."
Ocehan terus terdengar. Tidak salah lagi, ini adalah suara Erin.
"Ah bisa gila gue tiap hari di tempat kayak begini. Gak capek apa lu tiap hari tiduran terus?"
Ia mulai menggerakkan jarinya. Walau terasa sangat berat, ia terus mencoba mengendalikan badannya yang kaku.
"Eh, jarinya gerak-gerak. Dokterr!! Tae sadarr. Dokterr!!!!"
Teriakan Erin terdengar menjauh. Perlahan matanya terbuka.
"Rumah sakit lagi." gerutu Tae dalam hatinya.
"Itu dok dia tadi gerak-gerakin jari. Eh, Tae udah buka mata ternyata. Lu bisa liat gue kan? Gue siapa? Ayo cepet jawab gue siapa?"
"Lu Erin."
"Lu belum bisa ngomong ya? Badan lu masih sakit? Ya pasti masih kan? Baru juga siuman. Apaan sih gue ini. Silahkan dok, periksa dulu Tae nya."
Wajahnya yang masih pucat terlihat tak bertenaga. Terbaring di atas ranjang selama berhari-hari mungkin membuat tubuhnya kaku. Tae hanya bisa mengedipkan matanya.
"Tae lu mau makan apa? Lu pasti laparkan? Mau buah gak?"
"Ta..taran mana?" tanya Tae dengan suara yang sangat pelan.
"Hah apaan? Keran?"
"Tarran.."
Erin langsung terdiam. Ia memalingkan wajahnya.
"Makan dulu. Nanti gue kasih tau dia dimana. Lu mau buah apa? Apel? Pisang? Apel aja. Nih udah gue kupasin. Aaa~ buka mulutnya."
"Gue gak laper."
"Ish!! Cepet makan, atau gue paksa nih."
"Tarran mana?"
"Makan dulu, baru gue kasih tau. Nih cepet aaa~."
"Awan!! Awan mana?" tanya Tae dengan ekspresi yang panik. "Jawab gue Rin."
Brakk..
Erin menyimpan pisau yang ia pegang dengan keras.
"Gue bilang makan ya makan!! Ngerti gak lu!!" bentaknya.
Tae terlihat kaget. Ia tak menyangka akan mendapat ekspresi seperti itu. Apa dia salah bertanya?
"Gue cuman mau tau Tarran sama Awan."
"Jangan pikirin mereka. Mereka udah tenang."
Tae yang terbaring tiba-tiba terbangun.
"A..apa maksud lu?!"
"Mereka udah meninggal!! Itu semua karena nyelamatin lu!! Kenapa gak lu aja yang mati!!" teriak Erin. Air matanya menggantung. Rasa kehilangan yang sangat dalam terihat dari wajahnya.
"Jangan diem aja!! Kenapa lu gak mati juga hah?! Hati gue sakit ketika tau Awan meninggal. Gue gak nyangkan dia mati cuman karena nyelamatin lu. Adek lu Tarran juga meninggal. Gak salah lagi, dia meninggal juga karena lu. Kenapa lu gak bunuh diri aja!! Percuma lu idup, cuma bikin orang lain menderita."
Teriakan amarah Erin terus terngiang di telinganya. Tae hanya terdiam, ia tampak terkejut tak percaya. Kedua tangannya terlihat menutupi telinga. Perlahan ia memegang kepalanya. Raut wajahnya mulai berubah.
"Auww..." ia meringis kesakitan.
Tae berteriak kesakitan sambil terus memegang kepalanya. Terlihat sangat sakit. Kejadian yang dulu terjadi kini terulang lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Idiot Husband [END]
Novela JuvenilTAHAP REVISI [Bahasa no baku] "Mukanya sih cakep kagak ketulungan. Kulit putih, idung mancung, tinggi kek tiang listrik, apalagi bibirnya itu loh, ukhhh merah menggoda. Tapi sayang idiot. Idiot dan bikin gue stres. Begitulah bentukan suami gue. Cowo...
![My Idiot Husband [END]](https://img.wattpad.com/cover/208259840-64-k69814.jpg)