Bab 20 (Ibu akan membunuhmu!)

4.2K 247 17
                                        

"Tae, gue mau nginep di rumah emak gue ya. Udah lama gue gak ke sana, sekalian mau bilang soal perceraian kita. Lu gak perlu ikut, kasian Tarran sendirian di rumah."

"Tae anterin, sekalian mau ketemu mamah mertua." ucap Tae.

"Gak usah. Si Awan katanya udah di jalan mau ke sini. Lu bisa dateng besok sekalian jemput gue pulang. Gue mau ngungsi, gak tahan gue liat si Tarranudin bin somplak, bawaannya pengen tenggelmin dia ke lahar gunung merapi. Biarin gue nenangin batin dulu. Lelah hayati, gue malu pas liat lu. Malu gue udah nyampe ke ubun-ubun. Kalau dia bukan manusia udah gue sembelih. Besok gue baru pulang. Jaga diri lu ya. Jangan rewel pas gue gak ada." ucap Erin yang mengambil tas dan berjalan pergi.

Tae hanya berdiri melihat Erin yang mulai menjauh dan hilang dari pandangannya.
Tiba-tiba terdengar jeritan dan suara benda-benda jatuh. Entah dari mana suara asalnya, namun ketika itu Tae langsung berlari ke kamar ibunya. Pintu kamar ia buka. Ibunya terlihat sangat menyeramkan. Dengan rambut yang berantakan dan mata penuh amarah. Dari raut wajahnya sangat terlihat jelas dia tak seperti biasanya. Apa dia benar-benar ibunya? Ya, inilah keadaan ibunya ketika penyakit kejiwaannya kambuh. Rasa tertekan dan amarah yang menjadi satu. Suatu hasrat ingin membunuh. Masa lalu yang terjadi telah merubah ibunya menjadi monster. Dan itulah yang terjadi pada Tae. Amarah dan hasrat ingin membunuhnya selalu di lampiaskan pada anaknya, Tae. Entah masa lalu apa yang membuat ibunya sendiri ingin membunuhnya. Sejak kecil Tae sudah mengalami banyak siksaan, mulai dari di tenggelamkan dalam kolam renang, akan di gantung pada seutas tali, hingga di cekik dan berbagai cara lainnya agar dapat membunuh Tae. Ia sangatlah kejam, tapi Tae tahu itu bukanlah ibunya. Tarran dan Ayahnya melarang Tae menemui ibunya sendirian, namun Tae masih saja bertemu ibunya walau tahu ia akan membunuhnya.

"Mamah...!!" ucap Tae terkejut. Ia memeluk dan mencoba menenangkan ibunya. Namun ibunya memberontak dan menatap Tae dengan tatapan menusuk. Ia mengambil pisau yang berada di bawah bantal dan menodongkannya pada Tae yang terus terjalan mundur.

"Kali ini kau harus mati ditanganku..!!" ucap ibu Viana sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Tawa yang menakutkan dan sangat menyakiti hatinya. Dengan amarahnya, ia pun berlari dan hendak menusukkan pisau tepat di dada anaknya. Tae mencoba melawan ibunya itu sebisa mungkin. Namun, tenaga ibunya bagaikan banteng. Dendam dan amarah menjadi satu sehingga menciptakan kekuatan luar biasa. Pria muda dan tegap tak bisa menahan kekuatan wanita paruh baya yang penuh dengan kebencian terhadapnya. Pisau yang hendak ditancapkan pada dadanya kini berbelok dan mengenai lengan Tae. Ibunya seakan tak puas, ia mencabut pisau yang tertancap pada lengan anaknya dan mencoba menusukkannya kembali sehingga Tae bisa mati ditangannya.

Keributan yang terjadi terdengar oleh Tarran. Ia berlari mencari asal suara yang membisingkan telinganya, hingga ia melihat Tae mencoba menahan ibunya yang hendak membunuhnya. Tarran terkejut, kejadian yang dulu sering terjadi kini terjadi kembali dengan keadaan ibunya yang lebih brutal.

"Tae!!!" teriak Tarran. "Sadarlah mah!!! Dia anakmu." ucapnya sambil menghalangi ibunya.

"Dia harus mati. Minggirlah Tarran!! Mamah harus membunuhnya." ucap ibunya yang bersungguh-sungguh.

Tarran tak menghiraukan ibunya, ia tetap melindungi kakanya yang telah terluka.

"Lu pergi dari sini Tae!! Lu mau mati?!!"

"Jangan gila Tarran!! Minggir dari sini, lu yang bisa mati." jawab Tae dan mencoba mendorong Tarran agar menjauh dari ibunya.

Tarran tak goyah. Ia tetap menahan ibunya yang hendak menusukkan pisau pada Tae. Namun, pisau berbalik arah dan tak sengaja tertancapkan tepat pada perut ibunya. Ibunya terlihat kesakitan dan mata yang membelalak hingga akhirnya ambruk bersimbah darah.

Tarran terlihat gemetar dan mejatuhkan pisau yang telah menusuk ibunya. Ia tak percaya apa yang terjadi. Tarran terdiam dan melihat ibunya yang terkapar. Bagaikan tersambar petir, hatinya sangat hancur. Bagaimana dengan masa depannya nanti? Apa dia akan membusuk di penjara karena membunuh ibunya sendiri? Sesuatu yang tak dapat dipikirkan untuk saat itu.

Tae langsung mengambil tissue yang berada di atas meja dan membersihkan tangan Tarran yang penuh darah. Ia terlihat panik melihat adik kesayangannya terdiam tak berdaya.
Tae kemudian menghampiri ibunya yang tergeletak dan mengusapkan darah ibunya pada bajunya sendiri.

"Apa yang lu lakuin?" ucap Tarran sambil menarik Tae menjauh. " Berhenti Tae!! Lu gila?"

"Bilang kalau gue yang udah nusuk mamah." ucap Tae sembari mengambil pisau dan melumuri pisau itu dengan darah dari tangannya. "Panggil Ambulance!! Kita harus bawa mamah kerumah sakit."

"Gue yang udah nusuk mamah! Gak mungkin gue bilang lu yang nusuk dia. Lu gila? Lu mau ngebusuk di penjara karena gue?!" Tarran tak bisa membendung air matanya, ia menangis tak kuasa menghadapi apa yang telah terjadi.

"Gue gak akan biarin lu masuk penjara. Turutin perkataan gue buat kali ini aja. Lu harus janji bakal bilang kalau gue yng nusuk mamah. Gue mohon." ucap Tae.

Tarran tak menjawab, ia hanya menatap kakaknya dan menangis tersendu-sendu. Untuk kesekian kalinya Tarran diselamatkan oleh saudara kembarnya itu walau Tae yang harus menanggung semua penderitaan yang seharusnya dirasakan Tarran.

...

Tarran duduk termenung di bangku rumah sakit. Pikirannya tak fokus. Setiap detik rasanya ingin menangis, tapi air mata terasa telah habis. Terlihat Erin ditemani Gia berlari dari kejauhan dan menghampiri Tarran dengan raut wajah yang panik.

"Tarran!! Apa yang sebenarnya terjadi? Mamah kenapa? Mana Tae?"

Tarran tak menjawab dan hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Lu jawab gue Tarran!! Jangan bikin gue panik."

"Mamah kritis." ucapnya.

"Apa? A..apa yang terjadi? Tae mana?" tanya Erin sambil melirik ke kiri dan ke kanan. " Jawab gue Tarran!!"

"Tolong jangan biarin papah bawa Tae ke kantor polisi. Gue mohon sama lu." ucap Tarran dengan suara yang lirih.

Erin tak bisa berkata apa-apa, dia berlari dan menjauh pergi. Gia mencoba mengejar Erin, namun langkahnya terhenti ketika melihat Tarran.

"Gue gak ngerti apa yang terjadi. Yang gue liat cuman Tae dihadapan gue. Apa dia Tae? Sebenernya dia siapa? Apa Tae punya kembaran?"

Ia tak mungkin membiarkan pria berparas seperti Tae sendiri dalam keadaan seperti ini. Tetapi di satu sisi ia sangat khawatir tentang apa yang dikatakan pria itu, bahwa Tae akan di bawa ke kantor polisi. Apa yang harus ia lakukan?

"Ta...Tarran!" panggil Gia.

Tarran melirik ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Raut wajahnya amat sedih. Gia mulai duduk di sampingnya dan menyadarkan kepala Tarran pada bahunya. Tarran menangis bersandar di bahu Gia.

My Idiot Husband [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang