Met the Devil

1.4K 241 45
                                    

Met the Devil

Cuaca malam pada penghujung musim salju itu masih terasa dingin, membuat tidur malam Sooyoung menjadi gelisah. Ia terus saja merintih sambil memejamkan matanya pulas. Air mata telah berderai menghiasi elok paras tidurnya.

Ia bangun, terkejut dan segera mengelus dada kirinya. Berharap deru jantungnya yang berpacu bisa hilang karena gerakannya itu. Sooyoung mengatur nafasnya.

"Apa yang kualami? Kenapa rasanya sangat sedih?" Sooyoung masih mengelus-elus dadanya yag terasa menyakitkan. Kemudian ia menolehkan kepalanya pada jam yang terdengar jelas dentingnya, "Jam tiga lewat lima belas!" Ia terdiam, menerawang dan mencoba mengingat mimpinya yang membangunkanya barusan.

Aneh! Ia merasa kalau ia baru saja bermimpi hingga ia bangun. Didalam mimpinya pun ia yakin kalau ia sedang berhadapan dengan situasi yang begitu menyedihkan, membuat dadanya terasa sesak dan memilukan hingga air matanya tak kuasa menerobos keluar dari kedua matanya. Bahkan ia telah menghapus jejak air matanya barusan ketika ia bangun. Tapi, ia tak mampu mengingat awal sampai akhir mimpi yang baru saja dialaminya itu. Sekeras apapun Sooyoung mencobanya, ia tetap tidak bisa mengingatnya. Hanya ada rasa pilu yang merambat dan semakin terasa disetiap kali ia mencoba mengingatnya.

"Ada apa denganku? Kenapa rasanya sedih sekali?" Sooyoung masih ingin memahami apa yang telah terjadi dalam mimpinya kali ini.

Sebelumnya ia pernah bangun dan sangat merasa kesal hingga rasanya ia ingin membunuh seseorang entah siapa. Ia juga pernah bangun dengan perasaan yang campur aduk. Pernah bangun dengan merindukan rupa seseorang yang entah siapa dan sekarang ia harus bangun dari tidurnya dengan merasakan kesedihan yang luar biasa.

Setelah beberapa menit berfikir, ia menyerah. Tidak sanggup karena rasanya terlalu memilukan. Tidak sanggup karena ia memang tidak bisa!

"Masa bodo sajalah! Mungkin, pagi nanti rasanya sudah hilang seperti biasanya!" Sooyoung kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya, mencari posisi ternyaman untuk mencoba kembali menyambung tidurnya yang sempat terganggu. Mencoba menghilangkan rasa sesak didadanya yang menyerangnya melalui mimpinya yang entah apa ia pun tidak mengingatnya.

Sudah berapa kali ia melupakan mimpinya? Sooyoung tidak peduli!

***

"Apa kali ini kau juga dimintai ibumu untuk pergi ke suatu tempat?"

Sooyoung menggigit bibir bawahnya. Kenapa kesialan benar-benar terus menempelinya sih?

Sooyoung tersenyum merasa tidak enak, "Harusnya tidak! Tapi...." Sooyoung masih tersenyum menjeda kalimatnya, mengamati wajah penasaran Sungjae yag menunggu jawabannya, "Kau lihat sendirikan aku baru keluar dari ruangan Pak Namjoon? Ia baru saja memarahiku karena laporan yang aku buat kemarin tidak sempurna. Banyak kesalahan yang aku input. Lalu..." Sooyoung memperlihatkan tumpukan berkas yang ada ditangannya, "Ia juga menyuruhku memeriksanya. Ku fikir aku tidak akan bisa pulang on time hari ini." Sooyoung menunjukan wajah bersalahnya.

Sungjae menganggukan kepalanya seperti mengerti situasi Sooyoung. Kemudian ia mengambil tumpukan berkas yang ada ditangan Sooyoung dan membawanya, "Biar aku bantu kau membawanya!" Ia mengakhiri pernyataannya dengan senyuman sejuta pesonanya.

Sooyoung hanya ikut tersenyum dan berjalan beriringan dengan Sungjae menuju kursi kubikel tempat kerjanya, "Terima kasih! Mungkin lain kali aku yang akan meneraktirmu."

"Kalau begitu kau berhutang dua kali menemaniku makan malam."

"Hah?" Sooyoung hanya reflek seperti biasanya.

Sungjae melebarkan senyumnya, "Pertama karena kau harus menemaniku makan malam dan aku yang meneraktirmu, lalu kau yang bilang barusan kalau kau akan meneraktirku. Jadi aku akan secepatnya menagih hutangmu!"

The Lucky of the Unlucky LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang