Another Memories

757 167 35
                                    

Chapter 19

Victory menurunkan tubuh Sooyoung yang sedang ia gendong pelan-pelan ke atas tempat tidur. Kemudian ia menyelimuti tubuh Sooyoung. Ada banyak peluh diwajah Sooyoung dan membuat tangan Victory bergerak dengan sendirinya, merapikan rambut yang sedikit berserakan menutupi sebagian wajah Sooyoung dan mengelap bulir-bulir peluh diwajahnya.

Victory mencoba untuk menyinggungkan senyum diwajahnya saat memerhatikan Sooyoung yang masih terlihat bengong, menatap ke depan dengan tatapan mata kosong. "Jangan diam saja!" Victory meletakan kedua tangannya pada pipi Sooyoung, lalu ia sedikit memaksakan kepala Sooyoung agar mau menatap ke arahnya, "Aku lebih senang kau memarahiku daripada mendiamiku begini."

Sooyoung mengedipkan matanya. Setelahknya, Victory bisa melihat mata Sooyoung yang mulai berkaca-kaca. "Ada apa? Hemmm?" 

Sooyoung menggigit bibir bawahnya sebelum sebuah kalimat keluar dari mulutnya, "Aku takut!"

Victory lagi-lagi mencoba untuk tersenyum. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya dari pipi Sooyoung, menggantinya dengan mendekap tubuh Sooyoung, memeluknya. "Apa yang kau takuti? Jangan takut, ada aku!"

Sooyoung membalas pelukan Victory. Air mata mulai jatuh mengaliri pipinya, "Aku takut sekali. Ini semua tidak masuk akal! Gila!"

Victory menepuk-nepuk punggung Sooyoung pelan, "Menangislah! Menangislah kalau itu yang kau perlukan saat ini."

Sooyoung mengeratkan pelukannya. Ia benci, benar-benar benci saat ini. Ia benci pada dirinya yang menurutnya telah menunjukan tanda-tanda kegilaan. Kenapa Sooyoung tiba-tiba melihat potongan demi potongan ingatan yang ia sendiri bahkan tidak pernah merasa melakukannya. Apa mungkin sebenarnya ia pernah melakukannya? Tapi kapan? Dan kenapa ada victory? Aneh sekali bukan? Benar-benar membuat kepalanya pusing. Apa ia harus mendapatkan terapi dari para ahli kejiwaan saja?

Sooyoung menggelengkan kepalanya memikirkan hal paling gila yang nantinya ia lakukan. Kemudian ia memejamkan kedua matanya. Ingatan itu seketika kembali muncul, memaksa otaknya untuk berpikir keras.

***

"Kenapa aku harus jadi perempuan sih bu?"

Ibu yang sedang menyisirkan rambut panjang putrinya itu tertawa, "Pertanyaan konyol macam apa itu?"

Sang putri yang berambut panjang itu memanyunkan bibirnya imut sekali, "Itu karena aku perempuan makanya aku tidak bisa terus mengikuti Taehyung. Coba saja aku laki-laki seperti Jimin. Setidaknya aku bisa ikut ke sekolah bersama Taehyung, berkuda, dan banyak hal lainnya yang sekarang tengah ia sibukan bersama seluruh teman lelakinya itu."

"Jadi kau sedang merajuk sekarang karena Taehyung terlalu sibuk hingga tidak bisa menemanimu bermain, begitu?"

Putri jelita itu membalikan tubuhnya, menatap kesal pada ibunya yang  terlihat menahan tawa, "Bukan begitu! Aku hanya merasa tidak adil saja. Padahal sejak kecil, Taehyung yang selalu memintaku untuk menemaninya. Dia bilang, dia itu bayangan, bayanganku. Kemanapun aku pergi dan berada, dia akan selalu mengikutiku. Tapi setelah besar begini, ia malah terus saja melupakanku."

Ibu dari putri itu merundukan tubuhnya, menyamai agar sejajar dengan tubuh anaknya yang tengah duduk dikursi riasnya, "Dengarkan ibu, Han Sooyoung! Perempuan itu makhluk paling istimewa. Ia kuat, ia pintar, ia tangguh, dan ia indah. Jangan pernah merasa tidak beruntung karena kau seorang perempuan." Ibu Sooyoung menyentuh dagu anaknya kemudian mengangkatnya, "Lagipula Taehyung tidak melupakanmu kok. Dia tidak mengajakmu bermain karena ia memang sedang benar-benar sibuk. Ayahnya menekannya agar ia bisa jadi pejabat. Seharusnya kau menyemangatinya, bukannya malah kesal padanya. Sudah sana, antarkan kue beras buatan ibu padanya. Siapa tahu ia ingin kau menemaninya belajar."

The Lucky of the Unlucky LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang