Chapter 13
Tae berbaring memiringkan tubuhnya, menghadap pada wajah cantik putri Bie yang sedang memejam indahnya. Tae terus mengamati wajah elok itu. Jari telunjuk kirinya yang bebas terangkat dengan sendirinya, kemudian jari nakal itu menelusuri pola wajah putri Bie. Mulai dari dahi, hidung hingga turun ke bibir merah yang sudah menjadi candunya. Ia tersenyum saat telunjuknya berhenti untuk beberapa saat diatas bibir lembut nan menggoda itu.
Tae menurunkan jari telunjuknya, lalu wajahnya mendekat denga kedua mata yang memejam dan kemudian menempelkan bibirnya diatas bibir putri Bie. Hanya menempel, tidak melumat dan saling menghisap serta mengigit seperti sebelumnya sampai beberapa detik.Ia menikmati ciuman manis itu kemudian berkata lirih dalam hatinya, "Mungkin! Mungkinkah dua makhluk seperti kita memiliki kata mungkin dalam hidup ini? Jika memang kemungkinan itu ada, maka aku hanya ingin kita seperti ini setiap saat. Bercinta hingga lelah, bercanda disetiap harinya dan saling mencintai hingga kita benar-benar musnah. Mungkinkah?"
Tae membuka kedua matanya lalu menjauhkan bibirnya dari atas bibir Bie perlahan. Kemudian ia duduk dan meraih jas miliknya yang memang tergeletak tak jauh darinya. Ia merogoh kantong jasnya sendiri untuk mengambil satu buah benda keramat yang telah diberikan ayahnya kemarin malam padanya. Setelahnya, ia menyelimuti tubuh polos Bie yang masih terbaring pulas disampinya.
Tae juga sempat mengecup dahi putri Bie sebelum ia rapi mengenakan setelan pakaiannya. Dan sebelum benar-benar pergi meninggalkan putri Bie, Pangeran tampan itu berbisik ke telinga Bie, "Percayalah padaku, aku melakukan ini semua hanya untukmu, untuk kebersamaan dan keabadian cinta kita."
Tae melangkah pasti dengan belati kristal yang ia simpan disaku belakang celananya. Ia berlalu pergi meninggalkan sang putri yang masih tertidur tanpa menolehkan kembali kepalanya ke belakang. Sebab Tae tahu, jika ia sempat menoleh ke belakang, maka niatnya akan runtuh.
***
"Apa yang kau lakukan di istanaku? Kenapa anak dari Klan matahari bisa berani sekali sendirian masuk dan mengacau ke dalam istanaku?"
Tae menyinggungkan sebelah bibirnya. Ia tidak takut pada Raja klan hujan yang tengah menatapnya tajam dan berapi-api. "Aku ingin memberitahumu kalau putrimu dan aku saling mencintai. Kami berdua ingin bersama."
Sekarang giliran Raja Hujan yang tersenyum, senyum meremehkan. "Omong kosong! Jangan mengada-ada! Putriku tidak mungkin mencintaimu apalagi ingin bersamamu! MUSTAHIL!" Raja Hujan tertawa setelah mengakhiri kalimatnya.
"Apa kau tahu keberadaan putrimu sekarang?"
Raja Hujan menghentikan tawanya sejenak dan kembali menampilkan senyuman meremehkannya, "Jangan bermain-main denganku! Tentu saja putriku ada dikamarnya saat ini."
Tae tersenyum, senyuman puas. Kemudian ia menundukan kepalanya, tangan kanannya merogoh koceknya dalam untuk mengambil sesuatu. Dan setelah mendapatkannya, Tae menegakan kepalanya lagi. Dengan senyuman tampan yang terlihat angkuh, Tae sengaja menunjukan sebuah gelang kaki yang terbuat dari permata bewarna biru.
Melihat Raja Hujan yang seketika langsung menghentikan tawanya, membuat Tae tak tahan untuk membuka suaranya, "Dikamar kau bilang? Apa kau yakin?"
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU?!" Raja Hujan sekarang bertanya dengan nada menuduh dan dengan suara lantang serta mata memerah kesal.
Tae tersenyum mengingat betapa indah hidupnya setelah menghabiskan malamnya bersama putri Bie semalam. Kemudian Tae berkata, "Menghabiskan malam yang indah di bumi berdua dan melebur bersama menyatukan cinta kami."
"APA KAU BILANG?!" Raja Hujan semakin kesal saja mendengar apa yang baru saja terucap dari anak musuh bebuyutannya itu.
Klan Raja Hujan yang agung berdiri dari kursi tahtanya, kemudian dengan murka, ia berkata pada seluruh pengawal istananya, "Bunuh anak kurang ajar ini! Siapapun yang berhasil memenggal kepalanya, maka akan aku berikan hadiah besar yang tidak akan pernah kalian bayangkan sebelumnya!"

KAMU SEDANG MEMBACA
The Lucky of the Unlucky Lady
Fanfiction"Kau harus mati!" Sosok yang bersayap hitam itu menatap tajam ke dalam mata Sooyoung penuh dendam. Kemudian dengan sangat cepat, sepeti sebuah kilat, sosok itu sudah ada dihadapan Sooyoung yang bahkan belum sempat mengedipkan matanya. Dengan menampi...