16. Confess

88 10 3
                                    

"Ketika aku sudah menutup hatiku rapat-rapat darimu, kamu dengan mudahnya masuk dengan tiba-tiba"

-NADA TRISKA HERMAWAN


****
~Happy Reading~

****

Bulan telah berganti menjadi matahari, gelap telah berganti menjadi terang. Meski belum sepenuhnya terang tapi cahaya samar dari kaca kamar si cantik Nada telah terlihat.

Nada, orang itu menggeliat untuk bangun. Ia memfokuskan matanya yang setengah blur. Lalu ia beranjak dari tidurnya untuk melakukan rutinitas paginya.

Butuh waktu 30 menit untuk menyelesaikan morning routine nya itu. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju dapur.

Ia sedikit berfikir untuk membuat sarapannya atau tidak. Setelah berfikir sejenak lalu ia memutuskan memasak untuk dirinya sendiri.

Lain halnya dengan Nada. Si pujaan hati Nada masih dalam mode molor dikasur tercintanya.

Meskipun termasuk anak yang pintar dalam bidang akademik dan non akademik itu tak menjadi alasan untuk ia menjadi rajin. Ralat, rajin bangun pagi maksudnya. Ia tak selalu terlambat, hanya saja ia sering masuk sekolah bersamaan dengan bunyinya bell masuk.

Sudahlah kita tinggalkan saja orang gans yang pelor itu :)

Kembali lagi kepada Nada, yang masih asyik menikmati kegiatan masak sarapannya dan tak lupa untuk memakannya.

Tumben sekali dia tak mendengarkan suara suara gaduh dari orang tuanya yang hampir setiap hari mempermasalahkan suatu hal yang sepele.

Oh iya orangtua nya ada di luar kota fikirnya.


Baru saja ia berpikiran seperti itu, tak lama dari itu pintu dari ruang tengah terbuka dan memunculkan dua orang yang saling bersahutan dalam masalahnya.

"kalau gini jadinya sekalian gak usah ikut" ucap lelaki paruh baya.

"loh kok jadi nyalahin? aku dan kita gak sengaja ketemu disana!" balas perempuan paruh baya yang ada di sampingnya dengan suara ketus dan agak lantang.

"Akukan ngerasa keganggu!" ucap lelaki itu.

Entah apa yang mereka katakan lagi lagi nada hanya bisa menutup telinganya rapat-rapat tidak dengan tangannya melainkan ia hanya berusaha tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orang tuanya.

Nada memutar kan kedua bola matanya dengan malas sesungguhnya yang malas sekali mendengarkan pembicaraan orang tuanya itu.

Ia sangat kesal kenapa kenapa mereka baru pulang dan mereka malah langsung menyuguhkan adu mulut mereka dihadapkan Nada. Apakah mereka tidak malu.

Untuk memperjelas Jarak dari dapur atau dari meja makan ke ruang tengah itu sangat dekat. Jadi nada bisa mendengarkan mereka.

" udahlah mas, malu sama anak" ucap sang ibu karena ia melihat Nada yang sedang menikmati sarapan.

Papa nada hanya menganggukan kepalanya. Lalu mereka pergi kekamarnya tanpa bersuara sepatah katapun pada anaknya.

'gue ini bernyawa apa enggak si' dumel Nada dalam hati.

Ia seperti boneka atau benda mati yang tak dianggap oleh manusia (orang tuanya).

Rasanya makananpun terasa tak enak di lidahnya. Ia baru menghabiskan separuh makanannya.

BUCIN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang