Esok paginya, Renjun yang bangun subuh langsung menghampiri anaknya yang masih terlelap. Di periksa nya kening David, apakah anaknya itu demam atau tidak. Dan untung saja tidak.
"Bunda," David yang merasa jika seseorang menyentuhnya pun terbangun.
"Ssst, Bunda disini sayang. David tidur lagi aja ya? Nanti kalau sarapan sudah siap David bisa bangun," David mengangguk kemudian tertidur kembali.
Renjun pun menaikkan selimut David agar anaknya itu tetap hangat. Karena cuaca pagi ini benar-benar dingin. Renjun mengeratkan jubah tidurnya yang tipis dan keluar dari kamar anaknya. Saat membuka pintu kamar David untuk keluar, ternyata Jeno sudah berdiri dengan selimut di tangannya. Jangan lupakan senyum sehangat musim semi terpatri di wajah tampannya.
"Morning," Renjun tersenyum kikuk karena masih terkejut akan visual suaminya yang baru saja bangun tidur. Padahal sudah berpuluh tahun menikah, tetapi Renjun masih sering terkejut.
Tiba-tiba saja Jeno membalut tubuh Renjun menggunakan selimut yang dia bawa. Mengecup kedua pipi istrinya dan memeluknya.
"Morning too, keep warm dear. Jangan lupakan kesehatan mu juga," Jeno berbicara sambil meletakkan dagunya di pundak sempit Renjun.
Renjun hanya tersenyum kecil dan membalas pelukan Jeno. Masih sama. Terasa hangat hingga Renjun enggan melepasnya.
"Thank you," Renjun mencium leher Jeno dan mengeratkan pelukannya. Mereka saling berpelukan didepan kamar David. Untung saja anak mereka masih tertidur. Jika tidak, bisa dipastikan David akan shock kesekian kalinya akibat keintiman kedua orangtuanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sayang, aku ke kamar David ya?" Jeno berbicara sembari menelusupkan tangannya pada pinggang Renjun, kemudian pelukan hangat yang didapat oleh Renjun yang tengah menyiapkan sarapan.
"Boleh, kalau bisa bantu David ganti baju. Jangan disuruh mandi karena aku nggak mau lihat dia kesakitan."
Jeno mengiyakan. Setelahnya ia berjalan menuju kamar David yang masih temaram. Ternyata David sudah bangun, dan saat ini dia memakan coklat pemberian Anne semalam.
"David."
"HAH, Dad," David terkejut, tetapi akhirnya dia bernafas lega karena itu Ayahnya. Bisa-bisa tewas ditempat jika yang datang adalah Bundanya.
"Kamu pasti dapat dari Oma, iyakan?"
"Hehe iya Dad, jangan bilangin Bunda ya hehe," David merapatkan kedua tangannya, memohon pada Jeno.
"Iya, sekarang ayo ganti baju. Kamu dilarang mandi dulu sama Bunda. Abis itu sarapan," David mengangguk kemudian dia berganti pakaian, Jeno hanya duduk dan ikut memakan coklat yang David sembunyikan di bawah tempat tidur.
"Dad jangan dihabiskan!"
"Iya-iya, pelit amat kamu. Asal kamu tau, Dad bisa beliin kamu sama pabriknya juga," David meringis. Dia kadang lupa jika Ayahnya bisa melakukan apapun termasuk membeli aset orang lain sekali kedipan.