Langkah Bintang tampak tergesa-gesa menaiki tangga. Ia kembali melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih enam belas menit. Terlambat satu menit. Bintang begadang semalaman untuk mengerjakan laporan yang harus dikirim sebelum jam tujuh pagi tadi. Napasnya tersengal saat memasuki kelas. Helaan napas lega berembus kala melihat teman-temannya masih santai bersenda gurau dan mengobrol.
Bintang duduk di samping Happy yang sedang khusyuk menatap layar smartphone. Smartphone dengan merk apel tergigit, yang entah milik siapa. Perlahan Bintang meminum air putih dari botol kesayangannya. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih berdegup dengan kencang.
"Nggak biasanya Bu Ratna terlambat," keluh Bintang sambil mengeluarkan buku catatan dan balpoin.
Happy menyahut tanpa mengalihkan tatapannya, "Bersyukur. Kalau enggak, Lo udah disuruh tutup pintu dari luar."
"And get out here!" kata Happy menirukan kalimat Bu Ratna ketika mengusir mahasiswa yang datang terlambat.
Bintang mengangguk. Bu Ratna, salah satu dosen killer terkenal di fakultas ilmu komputer. Beliau tak akan pernah mengizinkan mahasiswanya memasuki kelas meski hanya terlambat beberapa detik saja. Pun dengan tugas-tugas yang harus selalu dikumpulkan tepat waktu jika tak ingin mengulang mata kuliahnya. Seperti tugas laporan yang Bintang kerjakan semalam.
"Smartphone baru?" tanya Bintang saat napasnya mulai normal.
"Punya Ratih," sahut Happy santai tanpa mengalihkan pandangannya.
Ria yang berada di belakang Ratih melongok ke layar smartphone itu, "Anteng banget. Mau langsung praktek, Hap?"
"Bangke! Segel gue harus utuh sampai nikah kantor," sungut Happy.
"Emang Bang Arash mau nikahin Lo?" gelak Lina meledek.
"Berisik!" ujar Happy terganggu.
"Sini, Hap, smartphone-nya," pinta Ratih.
Happy menyahut, "Lagi kentang, nih."
"Kok bisa ada film begitu di HP-ku?" tanya Ratih bingung.
"Simpanan cowok Lo banyak," timpal Happy diiringi senyum nakalnya.
"Pantesan tiap minggu cupangnya beranak," celoteh Ria yang sudah duduk di belakang Happy.
Kaki kanan Ratih langsung menendang kaki kursi yang Ria duduki. Membuat gelak tawa Ria terdengar. Keduanya sedikit beradu mulut karena ucapan Ria yang selalu spontan apa adanya.
"Astaghfirullah hal adzim!" pekik Bintang ketika melihat layar smartphone yang Happy tonton.
Semua yang berada di kelas terkejut mendengar teriakan Bintang.
"Kenapa, Tang?" tanya Kadir, salah satu teman lelaki Bintang di kelas.
Bintang menggelengkan kepala, "Nggak apa-apa."
"Eh, buset!" teriak Riris yang duduk di depan Happy.
"Ngapain lihat begituan, sih, Hap!" gerutu Bintang.
"Ini itu namanya kuliah online, Bi. Materi sex education. Kalau mau nonton, diem." Happy memberi peringatan sebelum melanjutkan kegiatannya.
Bintang mengumpat, "Sialan!"
"Anjaaay...." ujar Lina saat mengintip apa yang Happy tonton.
"Jangan bayangin yang enggak-enggak!" tutur Ria sambil menoyor kepala Happy.
"Ih, kok, gitu sih?!" Riris terkejut ketika melihat adegan yang tak pernah dilihatnya.
"Harus gitu, ya, caranya?" tambah Bintang yang baru pertama kali menonton blue film.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alrescha
RomanceDear my Pres BEM, Kita adalah sepasang orang asing yang Semesta satukan dalam satu rasa. Rasa rindu yang terbelenggu oleh cinta semu. Meski Semesta telah membuat kita menjadi satu, namun rasa rindu itu masih saja menggebu. Aku tak akan meminta balas...
