Part 8 - Let's End This

12 2 0
                                        

(Adelia POV)

"Aku bukan Adelia Charllota yang asli! Jadi berhenti bersikap seperti kalian orang tua kandungku!!!" Teriakku.

Entah kenapa hatiku terasa sakit ketika aku mengatakan pada mereka 'aku bukan anak kandung mereka yang menghilang'. Ketika melihat mereka pertama kali, aku sudah sadar bahwa mereka orangtua kandung Adelia. Wajah wanita itu memang berumur tapi tetap cantik, sedangkan lelaki itu juga sama berumur tapi tetap menampilkan wibawa. Bahkan baru melihatku saja keduanya langsung memelukku dan mengelus rambutku.

Mereka sangat bahagia melihat wajahku. Karena aku putri satu-satunya yang telah lama menghilang. Dadaku sesak mendengar wanita itu mengucap syukur dan maaf. Aku bahagia sekali mereka terlihat menyayangiku dan menyesal. Wanita itu terus memelukku dengan erat seolah-olah takut aku akan menghilang didepan matanya.

Bodohnya aku hanya terdiam tanpa membalas pelukannya!

Harusnya aku menjalankan aktingku dengan pura-pura bahagia bertemu mereka kembali.

Tapi entah hati dan pikiranku kosong....

Kedua orangtua itu menangis didepan mata kepalaku. Aku berusaha untuk menahan air mata yang ingin keluar. Aku bukan selemah ini!

Lagipula siapa mereka? Orang tuaku? Tentu saja bukan!

Aku hanyalah pengganti anak yang menghilang itu!

Aku bukan siapa-siapa...

Aku...

Aku...

Siapa aku sebenarnya?

Aku membalikkan badan sesekali mengepalkan kedua tanganku menahan rasa kecewa serta air yang mendesak keluar dipelupuk mataku. Kok bisa-bisanya aku terbawa suasana? Selemah inikah aku...

Tak terasa air mataku menetes sampai pipi. Lho kok bisa? Padahal sudah kutahan tapi tetap saja...

"Apa maksudmu Adelia?" Lelaki itu bertanya lagi. Aku tahu dari suaranya yang serak dia sedang menahan emosinya. Bukan amarah tapi rasa penasaran.

"Sudah kubilang kan, kalau aku bukan Adelia yang kalian cari!? Aku hanya berperan sebagai Adelia saja!"

Maafkan aku Damian...

Aku telah menghancurkan janji dan kepercayaanmu.

Aku tak tahu ekspresi apa yang mereka buat sekarang, yang pasti habis ini aku akan diusir dan dituntut atas penipuan identitas diri. Yahh terserah... Aku tidak peduli lagi. Aku sudah lelah dengan identitas palsu ini!

Aku sudah muak!

"Silahkan tuntut aku! Aku tak peduli"

Aku yakin David akan semakin marah padaku dan membenciku. Benar kata Damian, lelaki itu sekali marah benar-benar ngeri. Pas dia marah sikapnya sangat mirip dengan Zenon. Wajah lembut kalemnya berubah 90°. Pasti setelah ini dia bisa makin ngamuk menggeretku sampai tengah jalan dan membiarkanku jadi gelandangan lagi.

Dituntut dan dimasukkan kedalam penjara... Seperti nasib teman-temanku...

Aku takut sekali!

*GREP*

Sebuah tangan melingkar dari belakang. Ehhh??!?

"Kau pikir mama dan papamu akan percaya dan langsung mengusirmu?!" Ucap wanita itu yang kini tengah memelukku. Tapi kenapa dia bisa..
"Meski begitu aku tetap menyayangimu, kau tetaplah anak kami"

Apa yang wanita ini bicarakan? Dia ngerti apa tidak sih?

"Itu benar. Aku percaya kamu anak kami, lagipula David yang menemukanmu, tentu saja aku percaya kemampuan kakakmu" Pria itu berjalan dan ikut mengelus puncak kepalaku seperti anaknya sendiri. Ada apa dengan keluarga ini?

Please, Choose Me!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang