Part 4 - My Lover

22 3 0
                                        

"Sampai kamu bertemu lagi dengan pacar lamamu.. mulai hari ini kau adalah kekasihku"

Entah kata-kata itu terus terngiang di pikirannya selama perjalanan hingga saat ini dia tiba di rumah. Kata-kata yang seakan menyihir hati dan pikirannya. Damian manis sekali hari ini. Layaknya pria romantis dalam drama-drama yang beberapa hari ini ia tonton. Ya begini akibatnya banyak nonton drama, siapapun disamakan oleh pemeran utama prianya. Sudah kayak ABG di mabuk asmara...

"Kenapa anda baru pulang jam segini nona?" Alan muncul dari bilik pintu dengan wajah cemas. Lelaki dihadapannya saat ini sudah merusak suasana hatinya.
"Dari kampus aku keluar sebentar"
"Anda bahkan tidak menelponku, padahal saya sudah menjemput anda"
"Untung saja kalau bukan tuan Damian menelpon, saya bisa menanyai teman-teman anda satu kampus dan tuan David pasti akan lapor polisi"

Kemungkinan saja itu bisa terjadi, melihat David begitu protektif pada adik kecilnya.

"Jangan lebay dong... Lagi pula ini masih sore kan? Aku juga pulang."
"Jangan sampai anda tidak pulang! Satu rumah bisa kena jantungan semua nanti! Tuan David bakal lapor polisi sampai memasang iklan di tv juga. Ya Tuhan nona Adelia... Kenapa anda selalu membuat semua khawatir? Apa yang anda pikirkan?"

"Iya deh.. Maaf.. Maaf jangan menangis Alan"
"Saya tidak menangis! Saya hanya khawatir, kenapa tuan Damian suka sekali mengerjaiku"
"Benar. Salahkan saja pria itu" gumamnya lirih. Garis simpul dibibirnya membentuk senyuman kecil.

"Sekarang keluarlah, aku mau ganti baju dan istirahat"
"Makan malamnya?"
"Aku tidak mood"
"Tuan David bilang pulang lebih awal, dan dia ingin makan malam bersamamu Nona" Adelia bersiap masuk ke walk-in-closet melirik kebelakang sekilas.
"Baiklah nanti aku makan malam. Bilang padaku kalau kak David pulang"

Alan mengangguk dan membungkukkan badan untuk pamit keluar kamar. Dia terdiam sejenak dan menghela nafas lelah. Ini hari yang panjang dan cukup melelahkan. Lagi-lagi nonanya yang lama menghilang dan telah kembali mampu mengobrak-abrik hatinya. Tuan Damian akhir-akhir ini sering mengajak nonanya pergi dan pulang ke rumah lama sekali. Dia juga yang begitu berani menghadapi Tuan David dan dengan gampangnya mengambil hati nonanya itu.

Apa hubungan mereka berdua?

Sedangkan di dalam ruang ganti, Adelia memikirkan kembali obrolan singkatnya dengan Damian. Membawanya pada ciuman mesra mereka yang tidak disadari sampai ketahap menjadi sepasang kekasih. Jemarinya tak terasa menyentuh bibir, membayangkan akan lembutnya dan basahnya bibir Damian yang menyentuhnya. Seketika dadanya sesak dan tubuh mungilnya panas.

Apa dia sudah gila? Masih waras?

Dulu dia memang menjalin hubungan dengan Zenon tapi sekarang entah bagaimana kelanjutannya, karena laki-laki itu tertangkap polisi dan menghilang. Damian memanfaatkan situasi itu dan menjadikan dia kekasihnya. Lalu bagaimana dengan perasaannya? Perasaan Damian sendiri? Ini begitu membingungkan. Adelia mengumpat, kagum kalau Damian ahli ciuman dan membuat sekujur badannya melayang. Berapa wanita yang sudah dia buat nge-fly seperti dirinya.

Astaga!

Pukul delapan malam Adelia turun dan menyambut David pulang dengan wajah lelahnya. Ketika melihat adiknya turun, wajahnya berubah 90° ceria.

"Adel... Aku senang kamu menyambutku pulang"

David mengulurkan kedua tangannya. Suit yang dipakainya sedikit kusut dan dasinya sudah menghilang entah kemana. David sangat senang dengan adanya adik perempuannya yang kini tinggal bersama dan menyambut. Beberapa saat David bingung tidak mendapat respon dari Adelia. Gadis itu hanya terdiam mematung ditempat.

"Adel kamu tidak suka memelukku? Aku yakin kamu pasti membenci seorang kakak sepertiku" Sontak kata-kata tentang 'benci' membuat hatinya tergerak dan berjalan menghambur kepelukannya.

Please, Choose Me!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang