Part 3 - Hate You!

67 4 0
                                        

Jam periode ketiga Adelia mencari Lab.Comp kesana kemari. Itu sendiri berputar-putar kebingungan. Universitas ini begitu besar dan luas dengan desain klasik bernuansa putih gading dan coklat. Menandakan bahwa gedung ini dibangun sudah bertahun-tahun lamanya mungkin sudah pada zaman perang hingga merdeka.

Ia berlari disepanjang koridor terengah-engah sampai mengikuti petunjuk arah bertuliskan Lab.Comp dipojok gedung. Ia masuk dan menemukan lelaki yang mengajarnya tadi pagi dan duduk didepan dengan kertas-kertas menumpuk dimeja.
Figurnya yang tegap berkacamata dengan wajah serius tampannya. Menandakan jika lelaki itu seorang dosen yang bijaksana. Dia sungguh tak menyangka lelaki itu seorang dosen?

"7 menit terlambat!"

Astaga cuma tujuh menit aja dipermasalahkan. Tidak tahukah dia sudah membuat Adelia terengah-engah mengelilingi kampus sebesar ini.

"Gi...Gilaaa...haah..Haaku...capek..."
"Itu menandakan kamu tak pernah olahraga di imbangi minum susu untuk pertumbuhan dan mencegah tulang keropos."
"Haa...Haaku minum...susu tadi... Alan memaksaku..." Adelia sudah berada didepan mejanya.
"Ohh Alan yang melakukannya... Heh.. Baguslah"

*Brak*

"Apa maksudmu mengajar seenaknya di kelasku dan sekarang kau menyuruhku menemuimu!"

Adelia berhasil mengendalikan nafasnya dan memberi tatapan tajam pada lelaki yang masih berkutik dengan kertas-kertasnya tanpa menoleh. Jadi dia menganggapnya angin begitu?

"Damian!" teriakan itu mengganggu konsentrasinya. Kerutan terlihat kentara di alisnya yang tebal. Mata sebening madu bertabrakan dengan mata hitam pekatnya.

"Bisa tidak kamu memakai etikamu disini. Kepada siapapun kamu harus bersikap lebih sopan Adelia." dia kaget. Baru ini dia mendengar lelaki itu memanggil nama barunya.

Gelenyar hangat terasa disekujur tubuhnya. Perasaan apa ini?

"Berhenti bersikap seperti pengajar! Apa yang kau lakukan disini? Kamu tidak sedang mengerjaiku kan?" dia kira ini super trap gitu. Damian mendengus, melepas kacamata dan beranjak dari kursinya.
"Benar-benar mahasiswa yang tak punya sopan santun. Aku asisten dosen dan sementara ini menggantikan prof. Watson dosen yang mengajar kelasmu"

Jadi dia benar mengajar disini... Adelia tidak tahu kalau Damian punya bakat mengajar. Wajah cuek begitu jadi dosen... Mimpi apa dia semalem.

Posisi tinggi Damian ketika berdiri mengalahkannya. Keberaniannya menciut melihat ia hanya setinggi bahunya. Tinggi banget sih ini orang! Batin Adelia marah. Kadang dia minder dengan postur tubuhnya yang mungil dan tidak tinggi.

Sungguh tidak adil!

"Ngapain ka-kamu?!"
"Aku yang harusnya tanya, ngapain kamu memanggil namaku waktu jam kuliah dimulai? Tanpa ada embel-embel 'Mr' lagi. Aku masih tetap dosenmu" oke dia salah.

Lagipula Adelia tak tahu kalau si pengajarnya hari ini lelaki muda dan tampan sexy, hanya wajahnya yang menyebalkan.

"A-aku kan kaget" Damian tahu betul gadis itu membuat alasan.

Ketika lelaki itu maju Adelia mundur hingga punggungnya menabrak tembok dibelakangnya. Ia terpojok!

"Apa kau tahu kenapa aku marah?" kedua wajah mereka berdekatan hanya beberapa senti. Damian menunduk mencoba mensejajarkan kepalanya.
"Kalau kamu melakukan sesuatu akan aku pukul kau!"
"Coba saja"

Jika itu yang Damian mau maka dia tak tanggung-tanggung melayangkan tinjunya. Satu pukulan berhasil ia tangkis. Adelia melempar tangan yang lain dan laki-laki itu berhasil memelintir tangannya dan menguncinya keatas kepala. Berani sekali dia melawan Adelia dan membuatnya tak berdaya dibawahnya.

Please, Choose Me!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang