Living together

93 7 0
                                        

Tania mendelik melihat sajian makanan aneh yang didepan meja makan dia bingung apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu sampai mengubah menu makanan hari ini.

"Heeh apa-apaan sih! Makanan apa yang kau sajikan itu!" protes Tania ditengah kursi yang ditempati.

Damian tak memperdulikannya dan hanya menatap datar. Dia sudah biasa menghadapi sikap tak sopan milik gadis itu.

"Kamu tak lihat itu namanya salad dan itu soup kacang merah" suara pria itu membuat darah Tania mendidih.

Entah ini firasat buruk atau bukan, tiap kali mendengar suara Damian bawaannya marah melulu dan dia orang pertama yang sulit dihadapi.

"Ngapain sih masak makanan tidak jelas bentuk begitu. Memangnya aku kambing, kau beri makanan hijau-hijauan kayak begitu" dalam hatinya Damian terkikik geli.

Gadis ini berisik sekali tapi lumayan menghibur!

"Pasti rasanya tidak enak" Damian melihat lampu hijau dan memutuskan untuk memberi pelajaran.

"Gleen.. kata Tania masakanmu tidak enak melihat bentuknya saja bisa membuatnya muntah! Katanya kamu ngasih makanan kambing" teriak Damian nadanya dibuat-buat.

Alhasil Gleen terpancing dengan komentar itu dia berbalik.

"APA KATAMU? MASAKANKU TIDAK ENAK? DAN... KAYAK KA-KAMBING?!!"

Aura gelap melingkar didekat Gleen dia melangkahkan kakinya sembari mengangkat centong memasak ditangan kanan, matanya berubah horor. Tania bergidik. Sialan! Mulut Damian lamis sekali...

Tania memundurkan kursi duduk menatap takut pria yang memasakkan makanan tadi. Gleen sudah berada didekat Tania menyeringai, dia meraih dagunya kasar dan menatapnya tajam.

"Untuk ukuran gadis kecil sepertimu berani sekali kau mengkritik masakanku! Ibuku, ayahku, kakek, nenek, adikku,paman, bibiku dan Damian sekaligus tak pernah mengomentari MAKANANKU!!" teriaknya tepat diwajah Tania.

Tania merasa ada guyuran ujan membasahi wajahnya.. Astaga Gleen berteriak sampai muncrat-muncrat. Tania menciut seketika. Sikap Gleen benar-benar beda dari wajahnya. Nih orang bukannya ikut takut ehh Damian malah tertawa terpingkal-pingkal, sesekali memegangi perutnya.

Gleen dan Tania menoleh menatap heran pada pria yang tertawa seenaknya.

"Ketawa lagi, mau aku bunuh nih!" Tania terperangah ternyata Damian bisa tertawa lepas.. beda sekali dari ia bertemu pertama kali hingga ssekarang. Pria itu sekalipun jarang memperlihatkan ekspresi itu.

"Pffttt....wajah, penampilan sama sikap tidak cocok! Mwahaahah" tawanya semakin meledak.

Memang benar sih Gleen bukan kelihatan seram malah kelihatan lucu dan konyol. Dia saja masih setia memakai celemek bermotif bunga dengan tudung merah diatasnya menambah kesan ayu ditambah centong memasak ditangannya. Siapa sih yang tidak tertawa melihat penampilan itu.

"Sudah kayak emak-emak saja!" cibir Tania.
"Ehh diam kamu gadis barbar!"

Sikap Gleen yang kasar sungguh tak cocok dengan wajah tampan dan penampilan femininnya saat ini. Damian teringat dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

"Ma-mau apa kau!"

"Jepret ekspresimu!"

Damian sudah menggenggam smartphone keluaran terbarunya. Sesekali dia tertawa lagi, wajahnya merah sampai mengeluarkan air mata. Melihat ekspresi Damian, Tania jadi ikutan tertawa bahkan suaranya lebih keras membahana.

"Pfffttt...mwahaahahahaha" Gleen terpaku melihat dua orang di depannya tertawa karenannya.

Awas saja kalian yaa... ancamnya bersungut-sungut.

Please, Choose Me!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang