BAB 12

26.7K 971 1
                                        

Bulan ini atmosfer kampus terasa lebih padat dari biasanya. Perpustakaan selalu penuh, kafe kampus tak pernah sepi, dan mahasiswa terlihat sibuk menatap laptop atau setumpuk buku. Ujian Tengah Semester sudah semakin dekat. Alana, Leon, Kayla, Riko, dan David yang biasanya terlihat santai pun kini mulai terseret dalam kesibukan akademik. Bahkan David dan Riko yang biasanya hanya titip absen, kini tampak lebih sering muncul di kampus.

Siang itu, suasana di perpustakaan cukup tenang. Cahaya matahari menyusup lembut dari jendela tinggi, menciptakan bayangan lembut di atas meja kayu tempat Alana duduk. Alana terlihat fokus membaca buku referensi untuk tugas esainya. Namun, wajahnya tampak sedikit pucat, dan matanya terlihat sayu.

Tak lama kemudian, Leon datang menghampiri. Ia langsung menarik kursi di sebelah Alana dan duduk tanpa bicara, hanya menatap lekat kekasihnya dengan dahi mengernyit.

"Al, kamu udah makan?" tanyanya pelan, nada khawatir terdengar jelas di suaranya.

Alana menoleh. Ia tersenyum tipis, senyum yang berusaha menenangkan Leon meski tubuhnya sendiri terasa begitu lelah.

"Udah kok, Le," jawabnya singkat. Berbohong. Ia belum makan apapun sejak pagi. Tadi dia bangun kesiangan dan langsung terburu-buru ke kampus karena ada kelas pagi. Bahkan, segelas air pun belum sempat ia minum.

Mata Leon menyipit. Ia mengenal Alana terlalu baik. Dia tahu betul senyum itu bukan senyum yang meyakinkan.

Tapi Leon menahan diri, tidak ingin membuat Alana merasa bersalah. Ia mengalihkan pembicaraan.

"Kamu udah selesai ngerjain tugasnya?" tanyanya sambil melirik laptop dan buku-buku di hadapan Alana.

Alana mengangguk. "Udah kok. Yuk pulang," ujarnya sambil mulai merapikan bukunya ke dalam tas.

Leon ikut berdiri, siap berjalan keluar dari perpustakaan. Namun, langkah Alana terhenti bahkan sebelum benar-benar mulai melangkah.

Gadis itu mendadak memegang kepalanya, matanya terpejam erat. Dunia di sekelilingnya terasa seperti berputar cepat.

"Al?" Leon segera menangkap tubuh Alana yang tampak goyah. Tangannya melingkar di pinggang gadis itu, menahan agar tidak jatuh.

Namun terlambat. Seketika tubuh Alana melemas di pelukannya, tak sadarkan diri.

"Alana!" Leon berseru, panik. Ia langsung membungkuk dan mengangkat tubuh kekasihnya dalam gendongan. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar perpustakaan, menuju parkiran mobilnya.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Leon mengemudi nyaris membabi buta. Hatinya berpacu tak kalah cepat dengan kecepatan mobilnya. Tangannya menggenggam kemudi erat, sementara matanya terus-menerus melirik ke arah Alana yang tak bergerak di kursi penumpang.

Sesampainya di rumah sakit, Leon menggendong Alana masuk ke UGD, terengah-engah.

"Dokter! Tolong! Pacar saya pingsan!" serunya keras.

Beberapa perawat segera membantu membawa Alana masuk ke ruang pemeriksaan. Leon berjalan bolak-balik di depan ruangan, jantungnya seperti ingin lepas dari dadanya. Sesekali ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menenangkan diri.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam hingga akhirnya seorang dokter keluar. Leon langsung menghampiri, bahkan hampir berlari.

"Gimana keadaannya, dok?" tanya Leon cepat.

"Dia mengalami gejala tifus, kemungkinan besar karena kelelahan dan kurang makan," jelas dokter itu. "Kami sarankan untuk rawat inap agar bisa diberikan infus dan pengawasan. Anda bisa urus administrasinya dulu ya."

love, Alana (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang