Hari itu adalah hari pertama Alana benar-benar merasakan suasana kampus setelah seminggu penuh menjalani ospek yang melelahkan dan membuatnya hampir menyesal memilih universitas ini. Tapi pagi itu berbeda, ada semangat baru saat ia melangkah keluar dari mobilnya, rok midi melambai ringan, rambutnya diikat simpel, dan tas selempangnya bergoyang mengikuti langkah cepatnya menuju parkiran tengah.
Dari kejauhan, ia melihat Kayla berdiri bersandar pada pohon besar, jari-jarinya sibuk menari di layar ponsel. Alana langsung setengah berlari menghampiri sahabatnya sejak SMA itu.
"Kay! Ayo masuk kelas. Lima belas menit lagi nih," ujar Alana sambil mengatur napasnya yang sedikit tersengal.
Kayla tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada layar ponsel, bibirnya mengerucut karena mengetik dengan tergesa. "Bentar, Al. Ada temen gue mau nganterin charger. Kemarin kebawa di mobil dia."
Alana mengerutkan dahi. Kalimat itu membuatnya heran. Setahunya, Kayla nggak akrab sama anak-anak kampus, apalagi sampai nebeng mobil. Apalagi sama cewek.
"Cewek?" tanyanya dengan alis terangkat.
"Cowok, Al. Kakak tingkat. Namanya Riko. Dia tetangga gue. Kemarin gue nebeng mobil dia karena hujan. Terus charger gue ketinggalan, soalnya sempat ngecas di mobil dia."
Alana hanya mengangguk, rasa penasaran masih mengambang, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Tangannya bergerak membuka layar ponsel, memainkan aplikasi sosial media yang baru ia unduh. Baru beberapa menit scroll, langkah kaki terdengar mendekat.
Tiga pria muncul di balik jajaran mobil, tinggi, postur bagus, dan dengan gaya yang tampaknya effortless. Wajah mereka, secara tidak adil, berada di atas rata-rata. Tapi mata Alana hanya berhenti pada satu orang. Pria dengan hoodie hitam dan celana jeans gelap, berjalan santai dengan kedua tangan masuk ke saku. Wajahnya datar, tidak ada senyum, bahkan tidak ada usaha untuk terlihat ramah. Tapi justru itu yang membuatnya sulit untuk tidak diperhatikan.
Dan Alana memperhatikannya. Sampai ia menyadari jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Seorang dari mereka, pria berambut kecoklatan dan wajah jenaka, berlari kecil mendekat ke arah mereka dan langsung menyerahkan charger ke tangan Kayla.
"Riko lo bener-bener ya! Kan gue udah bilang gue ada kelas sebentar lagi. Jalan lama banget kayak tuan putri lo!" omel Kayla dengan gaya khasnya.
Riko mengangkat bahu, senyum tipis di wajahnya. "Sorry. Gue tadi kesiangan. Semalam abis dari Duck Down." Ia menggaruk leher, tampak menyesal tapi santai. Alana menangkap suara tawa ringan dari temannya yang lain.
Pria berwajah datar itu akhirnya ikut mendekat. Mata mereka bertemu, dan Alana menyesal karena tidak bisa menahan tatapan. Sorot mata pria itu tajam, tapi ada sesuatu yang tenang di dalamnya. Alana langsung memalingkan wajah, berharap pipinya yang memanas tidak terlalu terlihat.
"Al, kenalin, ini Riko. Tetangga gue yang paling nyebelin," ucap Kayla sambil mengernyit.
"Alana," kata Alana singkat, tapi senyumnya ramah. Ia mengulurkan tangan ke Riko.
"Riko. Kenalin juga ini temen-temen gue, David sama Leon." Riko membalas uluran tangan Alana.
David menyambut senyum Alana dengan ramah, tapi perhatian gadis itu justru kembali terfokus pada pria terakhir, yang kini menatapnya sedikit lebih lama dari seharusnya.
Setelah saling bertukar sapa singkat dan basa-basi ringan, Alana dan Kayla pamit. Keduanya memasuki gedung fakultas sambil tertawa kecil, membicarakan betapa aneh tapi menariknya pertemuan barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
love, Alana (COMPLETED)
Romance"I'm jealous of everybody, who can see you everyday." - Leonardo Soedharman. "It's you. You're the one I want. It's always been you." - Alana Halim ps: tidak ada konflik berat, hanya ada kebucinan Leon dan Alana.
