BAB 15

25.1K 940 25
                                        

Malam sudah larut, kamar Alana dipenuhi keheningan yang menenangkan. Hanya suara mesin pendingin ruangan yg mengalun lembut dan desahan napas tenang dari dua insan yang tengah tenggelam dalam waktu mereka sendiri.

Leon terbangun lebih dulu. Matanya perlahan membuka, merespons suara notifikasi pelan dari ponselnya yang tergeletak di nakas. Cahaya dari layar menyinari sebagian wajahnya yang masih setengah sadar.

Dengan satu tangan yang masih melingkari tubuh Alana yang terlelap di dadanya, ia menggeser ponsel dan melihat notifikasi.

Riko Putra

Le

Come on dude

Play Fortnite

Leon mendengus pelan, satu sisi bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Ia memiringkan kepala, menatap gadis yang sedang tertidur di dadanya. Rambut Alana terurai lembut, sebagian menutupi pipi dan lehernya. Napasnya teratur, matanya tertutup rapat, wajahnya begitu damai.

Leon mengetik perlahan dengan satu tangan.

Leon Soedharman

I can't

Beberapa detik kemudian, balasan Riko masuk.

Riko Putra

Ayolah Le

Leon menggeleng pelan, senyumnya melebar sedikit. Ia mengetik satu baris lagi, jujur dan tanpa basa-basi.

Leon Soedharman

She's asleep in my arms and I don't want to wake her.

Lalu balasan terakhir dari Riko:

Riko Putra

Fine

Leon menaruh ponselnya kembali ke meja, kali ini dengan layar menghadap bawah. Perhatiannya sepenuhnya kembali ke Alana. Tangannya bergerak pelan, menyelipkan helai rambut dari wajah Alana ke belakang telinga gadis itu. Ia menatap wajah itu, seolah tak pernah bosan.

"She's my girl," pikir Leon, "She's my beautiful, complicated, chaotic, sweet baby girl... and I love her. So damn much."

Ia membungkuk perlahan, mengecup dahi Alana yang hangat. Gadis itu sedikit menggeliat, tapi tidak terbangun. Tangannya malah bergerak naik dan memeluk Leon lebih erat dalam tidurnya, seperti insting alami yang hanya dimiliki seseorang yang merasa aman.

Leon tersenyum kecil, membenamkan wajahnya ke rambut Alana, menghirup aroma stroberi yang familiar.

"Tidur, sayang. Aku ada di sini," bisiknya nyaris tak terdengar, hanya untuk gadis di pelukannya.

***

Langit malam sudah mulai gelap pekat saat ponsel Leon berdering. Ia sedang duduk bersandar di sofa ruang keluarga rumah besar milik Alana, sementara gadis itu tengah bersandar manja di pangkuannya, memainkan jari-jemari Leon tanpa tujuan.

Leon melirik layar ponsel, dan saat melihat nama "Papi" muncul di sana, ia langsung tahu ini bukan panggilan biasa. Wajahnya berubah serius. Ia menerima telepon itu dan berdiri perlahan, memberi isyarat pada Alana untuk menunggu.

Tak sampai lima menit, Leon kembali duduk, ekspresinya sedikit murung. Alana langsung duduk tegak, menatapnya cemas.

"Ada apa, Le?" tanyanya pelan.

Leon menghela napas panjang. "Papi minta aku pulang sekarang. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Urgent."

Alana spontan merengut. Ekspresinya langsung berubah, seperti anak kecil yang mainannya diambil. Ia mengalihkan pandangannya, berpura-pura sibuk melihat ke arah lain.

love, Alana (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang