BAB 13

25.1K 951 3
                                        

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah-celah tirai jendela ruang makan rumah Alana. Udara terasa segar, dan aroma roti panggang serta kopi yang mengepul menciptakan suasana yang hangat dan nyaman. Alana dan Leon duduk berseberangan di meja makan besar berlapis marmer, sama-sama mengenakan hoodie abu-abu muda yang serasi, hadiah kecil dari mereka untuk diri sendiri, dibeli spontan saat jalan-jalan ke mall beberapa minggu lalu.

Alana menyendok selai stroberi ke atas rotinya, lalu melahapnya dengan santai. Leon memperhatikannya sambil mengaduk kopi pelan. Matanya tertuju pada sudut bibir Alana yang sedikit belepotan selai. Tanpa berkata apa-apa, dia menyandarkan tubuh ke depan, meraih serbet, dan mengusap lembut noda selai itu.

"Jadi nanti kita ketemuan sama Kayla, Riko, dan David di mana?" tanya Alana setelah meneguk susunya, suaranya lembut dan sedikit parau karena baru bangun.

Leon meletakkan cangkirnya dan menjawab, "Di rest area, katanya. Biar konvoi bareng dari situ."

Alana mengangguk kecil, lalu menyelesaikan potongan terakhir rotinya. Setelah sarapan selesai, mereka membersihkan piring masing-masing, lalu Leon mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja dekat pintu. Alana menyusul sambil membawa koper kecil berisi baju-baju dan perlengkapan yang sudah dia siapkan malam sebelumnya.

Perjalanan menuju rest area cukup lancar. Musik mengalun pelan dari sistem audio mobil Leon, kadang mereka ikut bernyanyi, kadang hanya diam dan menikmati kebersamaan. Di rest area yang mereka sepakati, mobil Leon memasuki area parkir. Begitu mesin dimatikan, Alana langsung membuka pintunya.

"Yuk cari camilan dulu, aku laper lagi," ucap Alana sambil melangkah keluar dari mobil.

Leon mengangguk dan menyusul dari belakang. Tapi langkahnya terhenti ketika ia memperhatikan sepatu yang dikenakan Alana, Nike Cortez putih, talinya tidak terikat dengan benar. Leon dengan cepat menepuk ringan lengan Alana untuk menghentikan langkahnya.

"Sayang, bentar," kata Leon sambil berjongkok di hadapan Alana, jemarinya langsung bergerak mengikat tali sepatu itu dengan rapi.

Alana menunduk memperhatikan Leon dan tersenyum kecil. "Aku nggak sadar talinya lepas."

Leon mendongak, menatapnya dengan ekspresi serius namun penuh perhatian. "Kamu bisa jatuh, lho. Makanya pakai sepatu itu yang bener."

Alana tertawa pelan, suaranya ringan. "Iyaaa, siap, Captain," ucapnya sambil memberi hormat pura-pura.

Leon berdiri dan tanpa pikir panjang menggandeng tangan Alana, jari-jarinya mengunci erat jari Alana. "Ayo, sebelum teman-teman kita datang dan kamu kalap beli semua snack di Indomaret."

Mereka berdua melangkah beriringan, tertawa kecil di tengah riuh rest area. Tak lama kemudian, mobil Kayla, David, dan Riko datang. Setelah sedikit bercanda dan menyapa satu sama lain, mereka semua kembali ke mobil masing-masing untuk melanjutkan perjalanan menuju Puncak, membawa tawa, semangat, dan harapan kecil untuk tahun baru yang akan segera datang.

Satu jam kemudian, langit Puncak yang mulai mendung menyambut kedatangan rombongan Alana dan teman-temannya. Udara dingin mulai terasa meski matahari masih menggantung malu-malu di ufuk barat. Mereka memarkirkan mobil di garasi luas yang tertata rapi di sebelah villa megah bergaya klasik-modern, milik keluarga Leon.

Begitu kaki mereka menjejak lantai berubin marmer di teras, Alana dan Kayla langsung melesat masuk ke dalam villa. Interior villa tampak mewah dan nyaman: lampu gantung kristal di ruang utama, sofa empuk berwarna nude, dan jendela besar yang langsung menghadap ke taman belakang dengan kolam renang yang luas.

love, Alana (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang