BAB 14

24.6K 922 9
                                        

Langit malam perlahan berubah menjadi panggung gelap yang siap dipenuhi warna. Udara di Puncak mulai terasa lebih dingin, tapi hawa segar dan aroma pinus membuat suasana tetap menenangkan.

Malam tahun baru akhirnya tiba. Di luar, suara petasan mulai terdengar samar dari kejauhan, seakan menjadi pembuka bagi pesta pergantian tahun yang segera dimulai. Namun alih-alih pergi ke keramaian, mereka memilih menikmati malam itu di villa megah milik keluarga Leon, hangat, nyaman, dan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Riko, Kayla, dan David sedang duduk santai di gazebo taman belakang. Tawa mereka sesekali pecah sambil menikmati jagung bakar dan minuman soda dingin. Musik lembut terdengar dari speaker kecil yang mereka letakkan di meja, menyatu dengan suara malam.

Sementara itu, di lantai atas, di balkon kamar Leon dan Alana, dua sosok tengah terdiam dalam dekapan hangat.

Alana berdiri bersandar pada tubuh Leon yang memeluknya dari belakang, tangannya menyilang di depan perut Alana, menjaga agar gadis itu tetap dalam pelukannya. Dada Leon menjadi tempat bersandarnya kepala Alana, sementara wajah pria itu menempel di lekuk leher kekasihnya, menghirup aroma tubuh Alana yang wangi stroberi, aroma yang selalu membuatnya ingin memeluk lebih erat.

Dari balkon itu, mereka bisa melihat langit luas yang gelap, dan kota di kejauhan yang mulai bersinar oleh cahaya dari rumah-rumah dan kendaraan. Bintang-bintang bersinar samar, seolah ikut menyambut malam pergantian tahun yang penuh harapan.

Leon menutup mata sesaat, lalu mengecup lembut leher Alana, suaranya terdengar serak namun penuh kasih saat ia berbisik,

"I love you. Most ardently."

Alana tersenyum, merasakan kulitnya meremang karena suara Leon dan sentuhannya yang lembut. Tangan kirinya naik ke belakang, menyentuh rambut Leon dan membelainya pelan.

Perlahan, Alana membalikkan tubuhnya, kini berdiri berhadapan langsung dengan Leon. Kedua tangannya naik, melingkari leher Leon, sementara jari-jarinya menelusup ke rambut hitam kekasihnya yang agak berantakan karena angin malam.

Tatapan mereka saling bertaut. Mata Alana berbinar lembut, sementara Leon memandangi wajah gadisnya seperti melihat sebuah keajaiban yang tak pernah bosan ia syukuri.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alana mengangkat dagunya sedikit dan melumat bibir Leon. Ciuman itu tidak terburu-buru, justru terasa begitu menggoda dan manis. Leon mengerang pelan dalam ciuman itu, tangannya otomatis merapatkan tubuh Alana ke tubuhnya.

"Baby," ucap Leon di sela ciuman yang masih membara, napasnya mulai berat, "I'm not worried about impressing you. I'm worried about you impressing me."

Alana tertawa kecil, tertahan oleh ciuman yang belum sepenuhnya berakhir. Ia menarik wajahnya sedikit, tersenyum manis dan menggoda.

"Please... be my new year kiss," bisiknya pelan, nyaris seperti alunan nada, namun penuh makna.

Leon tidak membuang waktu. Ia kembali mencium Alana, kali ini lebih dalam dan penuh gairah. Kedua tangannya melingkari pinggang Alana, menariknya semakin dekat. Tidak ada jarak di antara tubuh mereka kini, hanya ada detak jantung yang saling bersahutan.

Tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, langit di atas mereka meledak dalam warna. Kembang api menghiasi gelapnya malam dengan percikan merah, emas, biru, dan hijau. Dentuman dan cahaya itu seolah menjadi latar sempurna untuk keintiman mereka.

Dari bawah, suara Riko, Kayla, dan David terdengar.

"Woyy happy new year!!! Jangan lama-lama ciumannya!!" teriak David sambil tertawa keras, disusul siulan menggoda dari Riko dan Kayla.

love, Alana (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang