BAB 19

24.4K 892 24
                                        

Lampu temaram klub berdansa seperti bayangan buram, menyapu wajah-wajah lelah dan musik yang memekakkan telinga. Di pojok sofa panjang, Leon duduk dengan postur bersandar malas, gelas di tangannya sudah entah isi keberapa. Wajahnya kusut, matanya merah bukan hanya karena alkohol, tapi karena terlalu lama menahan yang tak bisa diceritakan dengan kata.

Riko melirik David, yang duduk di sisi lain Leon. Kekhawatiran di mata mereka hampir serupa, mereka sudah menyaksikan malam-malam seperti ini berkali-kali dalam tiga bulan terakhir. Tapi malam ini terasa lebih parah.

Leon meraih botol dan hendak menuang lagi ke dalam gelasnya. Tangannya ditahan oleh David.

"Dude, kayaknya udah cukup," kata David, nadanya datar tapi tegas.

Leon menoleh pelan, mata merah itu menatap David tajam. Dengan satu gerakan, ia menyentak tangan David dan kembali menuang minuman ke gelasnya. Cairan bening itu memantulkan cahaya seperti potongan kenangan yang menyakitkan.

"Gue belum mabuk," ucapnya dingin, seperti tubuhnya sudah mati rasa.

Riko menyandarkan diri ke sofa, memutar gelas di tangannya tanpa minum sedikit pun. Ia melirik Leon, kemudian membuka mulut setelah beberapa detik diam.

"You still love her, huh?"

Tak ada jawaban langsung. Leon hanya menatap gelasnya, memutarnya perlahan. Lalu suaranya keluar, serak, namun tak ada keraguan di dalamnya.

"I can't imagine the day I won't."

Kalimat itu meluncur pelan, namun menghantam seperti bom. David terdiam. Riko memejamkan mata sebentar. Mereka tahu. Mereka tahu betapa dalam cinta itu, dan betapa dalam pula luka yang ditinggalkan.

"So why did you guys end? Why did you leave her?" David bersuara, nada suaranya berubah, ada frustrasi di sana, bukan karena tidak mengerti, tapi karena terlalu peduli.

Leon menyandarkan tubuhnya, menatap langit-langit klub seakan jawaban ada di sana.

"Because... I don't know. Gue merasa... gue nggak baik buat dia."

Ia berhenti sebentar. Matanya berkaca, tapi tak ada air mata yang jatuh.

"Kalian tahu? I hurt her. A lot. And I hate myself for it."

Tangannya mengepal di atas pahanya. Suaranya mengecil, seakan setiap kata terlalu berat untuk dikeluarkan.

"I loved when she stared at me with her eyes that were glistening from her tears."

Kalimat itu membuat dada Riko sesak. David menunduk, tak sanggup menatap Leon. Dalam suara Leon, mereka mendengar luka yang jauh lebih dalam dari yang selama ini ia tunjukkan.

"God, I miss her," gumamnya nyaris tak terdengar.

Dia mengusap wajahnya kasar, rambutnya sudah acak-acakan sejak lama. Ia seperti pecahan kaca dari pria yang dulu penuh percaya diri dan tawa.

"She was so in love with me... and I was toxic for her."

Sunyi. Tak ada yang bicara setelah itu. Musik di luar dunia mereka tetap berdentum keras, tapi di dalam lingkar itu, mereka bertiga, hanya ada keheningan yang pekat dan luka yang terlalu dalam untuk disembunyikan lagi.

Riko dan David tak mencoba menghibur. Mereka hanya duduk di sana. Menjadi saksi dari kehancuran seseorang yang mereka anggap saudara.

Dan Leon? Ia hanya terus menatap gelasnya.

love, Alana (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang