Pagi masih berembus pelan di luar jendela kamar Leon, sinar matahari hanya mengintip sedikit di antara tirai yang setengah tertutup. Kamar itu kacau, botol kosong di lantai, jaket terlempar sembarangan di kursi, dan sekujur tempat tidur penuh dengan tanda-tanda malam panjang yang tidak membuahkan kedamaian apa pun.
Kayla berjalan lebih dulu, membuka pintu kamar dengan hati-hati. Riko dan David menyusul di belakangnya, sama-sama menahan napas saat mendapati sahabat mereka itu masih dalam posisi yang sama seperti tadi malam, terbaring membelakangi ruangan, menatap dinding kosong seolah berharap ada jawaban hidup yang muncul dari sana.
Leon tidak bergerak saat mereka masuk. Hanya suara parau yang akhirnya terdengar, menyelusup pelan dari bibirnya yang kering.
"I'm losing her."
Kayla menghela napas, menatap dua sahabatnya sejenak sebelum akhirnya melipat tangannya di dada. Ia berjalan mendekat, berdiri di sisi ranjang Leon.
"Then fight for her. She did for you."
Leon akhirnya menoleh. Pandangannya kosong, merah, dan lelah. Ia menatap Kayla, lalu ke Riko dan David.
"I tried and I failed."
David mengangkat alis, ekspresinya tenang tapi tegas. "Well, then try again."
Hening merayap sejenak di antara mereka. Leon memejamkan mata. Kata-kata itu sederhana, tapi menyentuh titik yang paling dalam di hatinya. Ia menarik napas panjang, kemudian bangkit dari tempat tidur tanpa berkata apa pun. Langkahnya berat menuju kamar mandi, tapi ada kejelasan baru dalam geraknya.
Riko menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatap Kayla dan David sambil tersenyum kecil. Mereka tahu, mungkin, baru kali ini Leon terlihat sekuat itu dalam keterpurukannya.
Beberapa jam kemudian, langit sudah terang sepenuhnya. Mobil Leon berhenti di depan rumah besar keluarga Halim. Tangannya sempat gemetar saat memegang gagang pintu pagar, tapi dia tidak membiarkan rasa takut menahannya kali ini.
Ia masuk, mengingat setiap detail rumah ini, aroma taman paginya, suara angin menyentuh kaca, dan... wangi Alana yang entah bagaimana masih terasa.
Tangga itu seolah membawa langkahnya mundur ke masa lalu, ke saat semuanya masih utuh. Tapi ia tak membiarkan kenangan menghentikannya. Bukan sekarang.
Saat ia membuka pintu kamar Alana perlahan, dunia seolah melambat.
Alana masih tertidur. Tubuh mungilnya meringkuk di balik selimut tebal berwarna biru pastel. Mata Leon langsung tertumbuk pada jejak air mata yang mengering di pipi gadis itu. Hatinya mencelos. Ia melangkah pelan, duduk di sisi ranjang, lalu mengangkat satu tangannya untuk menyentuh pipi Alana dengan sangat hati-hati, seolah takut gadis itu akan retak.
Alana menggeliat sedikit. Matanya terbuka perlahan, lalu mengerjap, seperti mencoba memastikan bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar bayangan.
"Aku pasti lagi mimpi..." bisik Alana tanpa suara jelas, matanya kembali terpejam.
Leon tak menjawab. Ia hanya menunduk, mengecup kedua mata gadis itu dengan pelan dan lembut, seperti meminta izin untuk hadir lagi dalam hidupnya.
"I'm sorry." katanya perlahan, suara itu pecah oleh rasa sesal.
"I'm so sorry for the pain i've caused you. And I know I can't take it back. But I wanna try and make it up to you. Even if it takes me the rest of my life." Ia menunduk lagi, mengecup kening Alana. Sentuhan itu penuh kasih dan penyesalan, bukan desakan. Hanya niat yang jujur.
Alana membuka matanya. Pandangannya buram oleh air mata. Ia menatap Leon, dan dadanya langsung bergetar. Ada bagian dari dirinya yang menjerit untuk mundur, tapi bagian lain, yang lebih dalam, sudah terlalu lama menunggu kehangatan ini kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
love, Alana (COMPLETED)
Romance"I'm jealous of everybody, who can see you everyday." - Leonardo Soedharman. "It's you. You're the one I want. It's always been you." - Alana Halim ps: tidak ada konflik berat, hanya ada kebucinan Leon dan Alana.
