BAB 11

28.4K 1K 3
                                        

Hari itu langit cerah tanpa awan, angin sejuk berembus lembut masuk melalui jendela mobil yang sedikit terbuka. Alana dan Leon sedang dalam perjalanan menuju Dunia Fantasi. Di dalam mobil, suasana dipenuhi gelak tawa dan nyanyian sumbang mereka yang mengikuti lagu-lagu upbeat dari radio.

Leon mengetuk-ngetukkan jari di setir mengikuti irama, sementara Alana memegang botol air dan bernyanyi seolah sedang konser pribadi.

"Leee! Ganti lagu ini, aku nggak hafal liriknya!" seru Alana tertawa sambil menggoyangkan tangannya.

"Nggak bisa! Lagu ini tuh vibe-nya pas banget. Ayo, bagian ini kamu pasti tau!" balas Leon sambil menaikkan volume, lalu mulai menyanyikan bagian reff dengan suara lantang.

Alana akhirnya ikut tertawa dan menyerah, menyanyikan bagian reff bersamanya meski sedikit meleset nadanya. Mobil Leon jadi seolah kapsul kecil penuh kebahagiaan yang melaju di jalanan.

Sesampainya di Dufan, mereka turun dari mobil dengan semangat membara. Alana langsung menarik tangan Leon dengan senyum lebar, seperti anak kecil yang tidak sabar ingin bermain. Mereka berjalan berdampingan menuju loket tiket, dan Alana memerhatikan Leon yang langsung memesan dua tiket premium tanpa ragu.

"Kok kamu beli yang premium?" tanya Alana dengan nada penasaran, matanya berkedip-kedip heran.

Leon menoleh padanya dengan senyum tenang dan hangat. "Biar kamu nggak capek ngantri, sayang."

Alana tersenyum. Dalam hati, ia merasa seperti orang paling beruntung di dunia. Ia tak berkata apa-apa, hanya menggenggam tangan Leon lebih erat dan menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu.

Setelah mendapatkan tiket, mereka masuk ke area Dufan yang ramai dengan pengunjung lain. Wajah Alana tampak berbinar melihat semua wahana di sekelilingnya. Ia menunjuk satu demi satu, matanya penuh antusias.

"Le, naik ini yuk! Itu juga! Ih itu seru banget kayaknya!"

Leon hanya tertawa dan mengikuti langkah cepat Alana yang seperti sedang berburu harta karun. Mereka naik berbagai wahana — mulai dari bianglala, kora-kora, hingga rumah hantu. Tiap kali Alana menjerit karena kaget atau tertawa karena geli, Leon selalu menatapnya dengan ekspresi yang hanya dimiliki pria yang sedang jatuh cinta.

Di tengah langkah mereka yang semakin jauh ke dalam area taman bermain, Leon tiba-tiba menghentikan Alana.

"Al, sini dulu sebentar."

Alana mengernyit bingung, "Kenapa, Le?"

Leon menunduk dan jongkok di depan Alana tanpa bicara, membuat Alana terkejut sejenak. Tapi kemudian ia sadar bahwa Leon sedang mengikat tali sepatunya yang ternyata terlepas.

"Tali sepatu kamu, Al. Nanti kamu jatuh," ucap Leon sambil hati-hati mengikatkan tali sepatu putih Alana, memastikan simpulnya kuat dan rapi.

Alana tersenyum kecil, menunduk sedikit melihat Leon di depan kakinya. "Kenapa kamu yang pasangin? Harusnya bilang aja ke aku."

Leon selesai mengikat tali itu, lalu berdiri kembali dan berdiri di depan Alana. Ia menatap mata kekasihnya dengan lembut, lalu mengusap kepala Alana pelan, membelai rambutnya yang sedikit berantakan karena angin.

"Ratu nggak boleh nunduk. Nanti mahkota kamu jatuh," ucap Leon dengan nada manis, disusul senyuman kecil yang membuat Alana merona.

Alana tertawa, wajahnya sedikit memerah. "Kamu tuh ya..." gumamnya sambil mencubit lengan Leon pelan.

Leon hanya terkekeh dan meraih tangan Alana kembali. Mereka melanjutkan langkah, siap menuju wahana selanjutnya dengan hati penuh tawa dan cinta yang semakin terasa hangat di antara mereka.

love, Alana (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang