Langit sore menggantung kelabu di atas kota, seolah ikut menahan napas bersama hari yang terasa terlalu berat. Di dalam sebuah kafe kecil di pojokan jalan, aroma kopi panggang dan butter croissant memenuhi udara, hangat dan akrab. Di dekat jendela, Kayla duduk sendirian dengan jaket jeans kesayangannya, menyesap matcha latte perlahan sambil menatap trotoar yang mulai basah oleh gerimis.
Ia mendongak ketika mendengar denting pintu berbunyi.
Alana masuk, tubuhnya diselimuti hoodie abu-abu oversized yang tampak lebih besar dari biasanya. Rambutnya digerai sembarangan, dan wajahnya... kosong. Tapi bukan kosong yang datar, melainkan kosong yang pernah diisi oleh air mata. Matanya sembap. Kekamupak merah. Bibirnya pucat.
Kayla langsung berdiri dari kursinya, tak perlu bertanya lebih jauh untuk tahu bahwa sesuatu telah pecah.
"Al? What the hell happened?"
Alana tidak menjawab. Ia hanya berjalan pelan, seolah setiap langkah menyakitkan, lalu duduk di hadapan Kayla. Bahunya jatuh. Napasnya panjang. Tatapannya menghindar.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, lalu akhirnya terdengar suaranya. Lirih, nyaris seperti bisikan.
"Aku lihat foto mereka."
Kayla mengerutkan dahi. "Mereka?" Ia butuh waktu sepersekian detik untuk menyusun potongan teka-teki. "Wait, Leon and... Clarissa?"
Alana hanya mengangguk. Sekilas. Tapi cukup untuk menghantam.
"Satu tahun yang lalu," lanjutnya dengan suara gemetar, hampir tidak percaya pada kata-katanya sendiri. "Pas kita baru jadian. Mereka... they were naked. Together."
Untuk sesaat, Kayla hanya bisa menatap. Membeku. Matanya membesar, kemudian meredup, berubah menjadi bara kemarahan yang tertahan. Tangannya mengepal di atas meja kayu, kuku-kukunya menancap ke telapak.
"Kamu yakin kamu nggak mau aku panggilin anak-anak cheerleader buat tonjokin cowok kamu?"
Suatu kalimat yang bisa terdengar lucu dalam suasana lain, tapi hari itu terasa lebih seperti sumpah balas dendam.
Alana tersenyum lemah. "Ex-cowok," gumamnya sambil menunduk.
Kayla mengangguk pelan. "Good. Finally, you said it."
Tak lama, barista datang membawa nampan kecil berisi secangkir cokelat panas dan sepotong kue coklat keju. Alana tampak terkejut, tapi tak berkata apa-apa. Ia tahu Kayla yang memesannya. Diam-diam. Seperti biasa, selalu tahu apa yang dibutuhkan orang lain bahkan sebelum mereka sendiri sadar.
"Aku tuh bodoh banget ya, Kay..." ucap Alana setelah beberapa tegukan. Suaranya pecah, nyaris bergetar. "Dia bilang sayang, tiap hari peluk aku, tapi ternyata..."
"Hey." Kayla langsung memotong, nadanya tegas tapi penuh kasih. "Jangan pernah bilang kamu bodoh karena sayang. Yang salah itu bukan kamu. Yang salah itu dia, yang ngerusak kepercayaan yang kamu kasih penuh-penuh."
Alana akhirnya menatap sahabatnya. Matanya kembali memerah. Air mata menunggu di ambang, seperti hujan yang tidak jadi turun, tapi langitnya sudah kelabu total.
"Aku... aku nggak tahu harus gimana sekarang," bisiknya, nyaris tak terdengar. "Hati aku kayak... retak semua."
Kayla mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Alana dengan lembut. "Kalau hatimu retak, berarti kamu masih hidup. Dan kamu punya aku. Kita mulai dari healing dulu, ya?"
Untuk pertama kalinya sejak masuk, bibir Alana bergerak membentuk senyum. Kecil. Rapuh. Tapi nyata.
"Aku boleh numpang jadi beban hidup kamu dulu nggak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
love, Alana (COMPLETED)
Romance"I'm jealous of everybody, who can see you everyday." - Leonardo Soedharman. "It's you. You're the one I want. It's always been you." - Alana Halim ps: tidak ada konflik berat, hanya ada kebucinan Leon dan Alana.
