Koridor kampus tampak mulai lengang. Mahasiswa berangsur meninggalkan kelas setelah hari yang cukup padat. Di tengah keheningan itu, langkah kaki Alana terdengar pelan namun pasti, bergema samar di lantai marmer. Rambutnya dikuncir tinggi, wajahnya lelah, pundaknya sedikit merosot akibat berat tas dan beban mata kuliah yang melelahkan.
Mata Alana terus menyapu kanan dan kiri koridor, mencari sosok kekasihnya, Leon.
"Mana sih Le..." gumamnya pelan, berharap bisa segera pulang dan beristirahat.
Begitu ia tiba di ujung koridor lantai dua, langkahnya tiba-tiba terhenti. Hampir saja ia bertabrakan dengan seseorang yang keluar tergesa dari salah satu ruang kelas.
"Le!" seru Alana refleks. "Kelas kamu kok di sini?"
Leon, yang tampaknya juga kaget melihat Alana, langsung menegakkan postur tubuhnya. Raut wajahnya seperti baru saja tersambar kenyataan. Tapi dalam sepersekian detik, senyumnya terangkat kembali.
"Aku baru selesai. Tadi bantuin temen aku ngerjain tugas." jawab Leon sambil berusaha terlihat santai. Ia berjalan mendekat, meraih tangan Alana dan menggenggamnya ringan.
Alana hendak menjawab, namun langkah seseorang dari belakang Leon menarik perhatiannya.
Seorang perempuan, tinggi, rambut lurus sebahu, mengenakan blouse putih dan celana hitam dengan sepatu yang sedikit berdecit ketika berjalan keluar kelas. Wajahnya cukup familiar.
Alana memicingkan mata, melihat dari atas ke bawah. Dan saat perempuan itu berdiri di samping Leon, ia merasa sesuatu menusuk dadanya.
Leon terlihat sedikit kaku. Sorot matanya gugup.
"Kenalin, sayang... ini Clarissa. Temen SMA aku." ucap Leon cepat-cepat, seolah ingin menghindari asumsi buruk.
Clarissa tersenyum sopan, agak canggung. Ia mengulurkan tangan pada Alana.
"Hai, Clarissa." sapanya pendek, mencoba ramah.
Namun Alana hanya menatap tangan itu. Dingin. Tidak ada gerakan balasan. Matanya tajam, bibirnya terkatup rapat.
Leon menelan ludah, menyadari betul sinyal dari Alana.
"Aku mau pulang, Le. Sekarang bisa?" tanya Alana dengan nada datar, tanpa melepaskan pandangan dari Leon.
"Bisa, yuk." jawab Leon cepat, hampir seperti sedang menyelamatkan dirinya sendiri.
Mereka berjalan meninggalkan koridor, tanpa berpamitan pada Clarissa. Gadis itu hanya diam menatap kepergian mereka berdua dengan tatapan yang sulit ditebak, entah iba, entah sinis.
Mobil berhenti sejenak di parkiran kampus. Leon belum menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam. Suasana di antara mereka tegang, hening, hanya terdengar suara desau angin dan deru lalu lintas dari kejauhan.
Leon perlahan menoleh ke arah Alana, lalu menggenggam tangan gadis itu.
"Al... kenapa diem aja?" tanyanya pelan, hati-hati.
Alana menoleh, menatap Leon dengan tatapan datar namun sarat makna.
"Aku cuma capek." jawabnya singkat. Tapi suaranya terlalu datar untuk disebut lelah, lebih seperti kecewa.
Leon mengangguk pelan, namun tatapannya tak lepas dari wajah Alana.
"Beneran? Bukan karena Clarissa?" tebak Leon, nyaris berbisik.
Mata Alana langsung mengunci milik Leon.
"Kamu sembunyiin sesuatu dari aku?" tanyanya, tegas. Tatapannya tidak gemetar, tajam, penuh tuntutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
love, Alana (COMPLETED)
Romance"I'm jealous of everybody, who can see you everyday." - Leonardo Soedharman. "It's you. You're the one I want. It's always been you." - Alana Halim ps: tidak ada konflik berat, hanya ada kebucinan Leon dan Alana.
