Seusai mengeringkan rambut dan mengaplikasikan pelembab ke wajah, Yeona beranjak untuk membaringkan dirinya di ranjang. Rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga ia lakukan setelah Johnny memintanya untuk berhenti bekerja di kafe saat ia mengandung 5 bulan.
Hingga saat ini, yang ia lakukan hanya lah memasak, membersihkan rumah, dan mengantar Yoonoh ke tempat kursus piano. Selain itu, ia hanya akan berjalan-jalan ringan di sekitar perumahan dan bercengkerama dengan tetangganya.
Sedangkan Johnny selalu pergi ke rumah sakit dari pagi hingga malam. Beberapa kali hanya sampai sore. Tetapi semenjak pria itu diangkat menjadi direktur di rumah sakit itu, jarang sekali ia pulang cepat.
Seperti saat ini. Pukul 9 malam pria itu baru saja tiba di rumah dengan wajah lelahnya. Pria itu mengaku jika seharian ini ia mengurusi korban kebakaran di salah satu gedung apartemen yang berada beberapa blok dari rumah sakit.
Seperti biasa, Yeona sudah menyiapkan air untuk suaminya mandi sehingga pria itu bisa langsung membasuh dirinya.
"Honey?" Suara serak Johnny beriringan dengan suara pintu kamar mandi yang dibuka.
"Hum?" Gadis yang dipanggil itu menoleh ke arah pria dengan sehelai handuk melingkar di pinggangnya. Tanpa diminta, ia bangkit dari posisinya dan menyiapkan satu pasang pakaian tidur yang ia ambil dari lemari.
"Yoonoh sudah tidur?" tanya Johnny seraya menerima uluran baju tidur berwarna abu-abu dari tangan Yeona.
Gadis itu mengangguk kecil kemudian kembali duduk di pinggir ranjang. "Dia sangat rindu bermain denganmu. Kau selalu saja pulang setelah dirinya tertidur."
"Bukan kah kita sudah berjalan-jalan ke Gangnam kemarin?" Pria itu tak menghadap ke arah sang istri dan masih fokus mengenakan piyamanya.
Yeona menghela napas panjang. "Tetap saja. Yang Yoonoh butuhkan adalah kau, bukan liburan. Dia ingin kau berada di sisinya. Apa kau tidak ingin melihatnya tumbuh?"
Usai meletakkan handuknya ke keranjang pakaian, Johnny mendekat ke arah Yeona. Pria itu mengacak rambut setengah basahnya kemudian duduk di samping Yeona. "Maaf. Aku akan berusaha," ujarnya kemudian menarik tubuh mungil Yeona ke dalam pelukannya.
Gadis itu terdiam panjang. Kehangatan tubuh Johnny masih sama ia rasakan. Hanya saja, pelukan itu terasa sedikit hampa.
Sepertinya pria itu tidak berniat untuk menenangkannya.
Johnny melepaskan pelukannya kemudian menatap lurus ke arah Yeona. "Aku sudah lama ingin menanyakan ini padamu. Kau tahu jika selama ini aku selalu bersikeras untuk melakukan tes golongan darah untuk Yoonoh, 'kan?"
Kening Yeona berkerut. Akhir-akhir ini Johnny memang sering mengambil sampel darah Yoonoh tanpa ia tahu apa alasannya. "Ya. Sampai kapan kau terus berusaha seperti ini? Memangnya apa yang kau cari?" tanyanya sedikit ketus.
"Aku hanya ingin memastikan jika Yoonoh adalah benar-benar anak biologisku."
Kalimat Johnny baru saja membuat tubuh Yeona menegang. Gadis itu merasakan hawa di kamarnya menjadi lebih panas. "Apa maksudmu? Yoonoh adalah putramu, Johnny."
"I hope so."
Johnny bangkit dari duduknya kemudian mengambil sebuah map dari tasnya. Map kertas berwarna putih itu ia lempar ke samping Yeona.
Kedua mata Yeona mengikuti arah kemana map itu terjatuh. Dengan sedikit ragu, ia mengambil map tersebut dan mengeluarkan secarik kertas hasil tes darah milik Yoonoh.
Keningnya mengernyit, kali ini lebih dalam. Dari uji darah itu, ia dapat melihat tidak ada sesuatu yang janggal di sana. Hanya ada keterangan bahwa golongan darah Yoonoh adalah A.
KAMU SEDANG MEMBACA
REMINISCENCE - Jung Jaehyun✔
Fanfiction[Finished - Bahasa Baku] -a sequel of (UN)BROKEN VOWS ⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️ Sebelum membaca REMINISCENCE sangat disarankan untuk membaca (UN)BROKEN VOWS terlebih dahulu ⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️ Jangan kira semuanya telah berakhir dengan perpisahan. Jaehyun dan Y...
