2 months later
Palu pengadilan diketuk tiga kali setelah keputusan terakhir disebutkan dengan lantang. Ruang pengadilan itu penuh dengan napas lega, termasuk Johnny dan Yeona yang menjadi pusat perhatian di sini. Setelah menjalani rangkaian sidang perceraian akhirnya keduanya resmi berpisah, sesuai dengan yang Johnny minta sejak awal.
Johnny bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Yeona yang ada di sampingnya. Tangannya terulur ke depan. "Terima kasih telah mengabulkan permintaan terakhirku padamu," ujarnya dengan senyum tipis.
Bohong jika tidak ada perasaan sedih dalam dada mereka. Bagaimana pun juga, mereka sempat menjadi sangat dekat dalam waktu yang tidak sebentar. Pasti ada perasaan berat untuk meninggalkan kebiasaan lama.
Yeona menyambut uluran tangan Johnny dan berdiri. Ia membalas senyum Johnny, walaupun sulit. Ia membersit hidungnya sesaat sebelum kemudian mendongak menatap Johnny. "Terima kasih sudah pernah hadir sebagai suamiku. Pernah menyayangiku dan menghargaiku. Semoga kehidupan selanjutnya lebih baik hati pada kita."
"I hope so."
Genggaman tangan mereka terlepas begitu saja seiring dengan resminya mereka menjadi dua orang yang asing. Sang pria mengusap kepala Yeona untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan ruang sidang duluan.
Ada hati yang sedang sakit ketika mendengar putusan akhir hakim pengadilan. Ya, hatinya masih berat ketika meninggalkan Yeona untuk selamanya. Ia sudah nyaman dengan Yeona sebagai seorang yang ia sayangi. Tapi, ia harus merelakan orang yang paling ia sayangi itu bahagia.
Ia harus egois untuk melepaskan kekasihnya. Melepaskan bunga di musim seminya, salju di musim dinginnya, cahaya matahari di musim panasnya, dan daun harapan di musim gugurnya.
Sepeninggal Johnny, Yeona menunduk dalam. Ruang sidang mulai sepi karena memang sidangnya adalah sidang terakhir hari ini.
Semua beban di dada Yeona terasa diangkat. Hatinya semakin lega, lebih lega ketika pagi tadi Johnny melepaskan cincin perak dari jari manisnya. Cincin yang selalu ia kenakan selama lebih dari 6 tahun hidupnya.
"Han Yeona."
Suara Jaehyun membuat Yeona menoleh. Rupanya di ruang sidang itu ia tidak sendiri. Sosok jangkung Jaehyun yang masih mengenakan pakaian kerjanya berdiri tepat di pintu keluar ruang sidang. Titik-titik keringat di keningnya memperlihatkan adanya rasa cemas di antara tatapan teduhnya.
Gadis itu melangkah perlahan mendekati Jaehyun, pria yang pasti akan meminta maaf padanya karena tidak sempat menemaninya sidang. Sebelum pria itu mengeluarkan maafnya, ia membungkamnya dengan pelukan erat.
Aroma maskulin yang bercampur dengan keringat langsung menerpa indera penciuman Yeona. Aroma yang ia inginkan bisa ia hirup sepanjang sisa hidupnya.
Tangan Jaehyun mengusap kepala Yeona. Ia bisa merasakan perasaan lega yang dirasakan Yeona. Ia bisa merasakan gadis itu lebih tenang dari sebelumnya. "Halo, masa depanku?" sapanya dengan suara lirih.
Sapaan lembut Jaehyun membuat perut Yeona berdesir. Gadis itu paham arti dari sapaan itu; Jaehyun sudah siap untuk menyuntingnya kapan pun.
Yeona mendongak tanpa melepaskan pelukannya. Wajah Jaehyun masih bisa ia nikmati meskipun ketampanannya dimakan oleh lelah. Wajah yang ia ingin lihat setiap hari.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jaehyun menunduk untuk mengecup kening Yeona. Akhirnya ia bisa melihat wajah Yeona yang begitu tenang tanpa ada suatu tekanan.
Pria itu menjauhkan dirinya untuk mengambil sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah kotak berwarna merah marun itu ia perlihatkan di depan mata Yeona. "Sekarang semua ikatanmu sudah terlepas. Jadi, sekarang giliranku. Aku boleh mengikatmu, 'kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
REMINISCENCE - Jung Jaehyun✔
Fanfic[Finished - Bahasa Baku] -a sequel of (UN)BROKEN VOWS ⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️ Sebelum membaca REMINISCENCE sangat disarankan untuk membaca (UN)BROKEN VOWS terlebih dahulu ⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️ Jangan kira semuanya telah berakhir dengan perpisahan. Jaehyun dan Y...
