WITK? [9] Kembali Kehilangan

148 19 1
                                        

Happy reading!!

“Aaaaa!” Lengkingan suara itu terdengar sekilas sebelum raga Haniva benar-benar bertumbukan dengan maut. Darah mengalir deras dari kepalanya. Tubuhnya telungkup. Napasnya tersenggal sampai benar-benar terputus seutuhnya.

Semua orang berhamburan dari aktivitas mereka, teriakan-teriakan histeris tidak bisa dihindarkan. Banyak yang mulai berkerumun melihat kondisi gadis itu setelah terjun dari lantai empat atau mereka yang ketakutan dan langsung berlari menjauh.

Seseorang dengan senyum miring memperhatikan semuanya dari atas gedung, tepat di mana gadis itu berdiri sebelumnya. “Target kedua, selesai.”

Seluruh sekolah menjadi kacau. Siswa dipulangkan lebih dulu karena tragedi mengerikan siang itu. Sirene polisi dan ambulans meraung-raung memenuhi pendengaran. Seperti prajurit yang terkoordinasi, mereka melakukan tugas masing-masing. Area itu ditutup. Polisi memasang garis pembatas berwarna kuning, bertuliskan ‘Garis polisi! Dilarang mendekat!’.

Belum juga dua minggu berlalu setelah kepergian Dania yang kasusnya ditutup dan ditetapkan sebagai bunuh diri. Sekarang Haniva, salah satu sahabat gadis itu terjun dari gedung sekolah. SMA Mentari 37 mulai risau, kredibilitas sekolah akan diragukan karena kejadian-kejadian buruk yang beruntun.

Pembunuhan atau bunuh diri? Pertanyaan itu terus terulang pada banyak benak.

Siswa berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Masih ada saja bisik-bisik yang mencecar Haniva, bahkan setelah gadis itu tiada.

“Cih! Pelacur kayak dia emang pantes mati, kan.”

“Bener. Nggak banget kalau satu sekolah sama kita.”

“Gue terima kasih, sih, yang udah ngungkap ini. Kalau nggak ketahuan, j*lang kayak gitu bakal merajalela.”

“Emang harus dibasmi sampe akar-akarnya.”

∆ I See You ∆

Gadis dengan rambut berantakan itu meringkuk di sudut kamar. Memeluk lututnya erat sambil terisak dalam. Pandangan matanya kosong, menyiratkan kepedihan yang teramat sangat.

“Dania ... Haniva ....”

Seseorang memasuki ruangan itu. Hanya senyum getir yang bisa dia tampilkan saat melihat keadaan kamar dan sang putri yang berantakan. Dia berjalan mendekat, berjongkok di hadapan Lizzy dan mengusap puncak kepala gadis itu lembut.

“Sayang,” panggilnya.

Lizzy tidak merespon. Dia tetap terisak sambil menenggelamkan wajahnya di antara lutut.

“Jangan kayak gini, Sayang. Ayah nggak tega liatnya.”

Gadis itu menggeleng. “Tinggalin Lizzy sendiri, Yah,” usirnya halus.

Erza ikut menggeleng. “Nggak.”

Lizzy menatap manik gelap itu tajam. “Keluar dari kamar Lizzy, Yah!”

Bentakan itu tidak berpengaruh pada Erza. Dia bergeming di tempatnya. “Ayah nggak akan ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini.”

“Kalau—“

Erza langsung merengkuh tubuh ringkih Lizzy. Memeluk erat, berusaha menyalurkan seluruh perhatian pada putri bungsunya itu. Mula-mula Lizzy menolak, mendorong tubuh kukuh yang mendekapnya, tapi kekuatan Erza tetap masih lebih besar darinya.

“Ayah, Lizzy takut,” lirih gadis itu.

Erza mengusap punggung putrinya lembut. “Nggak usah takut. Ayah di sini.”

Who is the Killer?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang